Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Di Semarang, saat matahari belum sepenuhnya membelah kabut pagi,
seratus pasang mata menyala di balik kemeja putih bersih.
Bukan seragam prajurit yang siap berperang,
bukan pula busana pesta yang gemerlap—
melainkan kain niat yang hening, berkibar lirih
di halaman Boen Hian Tong yang renta oleh sejarah.
Sabtu, 18 April 2026—detik-detik itu seakan membeku,
menyaksikan keajaiban kecil di tengah riuh dunia:
tangan yang biasa menyalakan hio bagi leluhur,
kini bersiap menggenggam tangan yang fasih melafal takbir.
Kita berangkat bukan sebagai Tionghoa, Jawa, atau Kristen yang terpisah,
melainkan sebagai Indonesia yang utuh—tak terbelah.
Membawa rindu pada seorang lelaki berkacamata tebal,
yang pernah berbisik pada angin:
Tuhan terlalu luas untuk dikurung dalam satu rumah ibadah.
II. Jejak Andesit di Rimbi: Gema Sang Ratu Pembawa Keadilan
Roda bus melaju, meninggalkan kota dan ego di persimpangan,
menuju Jombang—tanah yang masih menyimpan napas panjang Majapahit.
Di Candi Rimbi, kami tak mencari dongeng yang keliru,
melainkan jejak nyata Sri Tribhuwanatunggadewi—
ratu yang menegakkan peradaban dengan keberanian sunyi.
Batu-batu andesit itu mungkin telah kehilangan mahkota,
tubuhnya runtuh dimakan waktu,
namun batur yang tersisa tetap berdiri,
berkata dalam diam yang lantang:
lihatlah relief Sri Tanjung dan Arjunawiwaha,
di sana kesetiaan, cinta, dan keberanian perempuan diabadikan.
Kami tidak hanya memandang—kami menyentuh.
Jari-jari dari iman yang berbeda
mengusap permukaan batu purba,
seolah menyerap pesan yang tak lekang:
bahwa keadilan tak mengenal jenis kelamin,
bahwa kepemimpinan lahir dari keberanian menjaga sesama.
Dalam hening, kami saling berpasangan—
yang muda dan yang sepuh, yang berbeda keyakinan—
mencari makna di antara retak sejarah,
lalu berbisik pelan:
Jika seorang ratu mampu memimpin di tengah perbedaan,
apa yang bisa kami lakukan di dunia kecil kami hari ini?
Arca Durga dan Siwa bukan sekadar batu,
melainkan ingatan tentang seorang ibu—
yang darinya lahir generasi dan harapan.
Langkah pun berlanjut ke Mojowarno,
di gereja tua tempat lonceng dan gamelan berdialog tanpa konflik.
Tak ada tembok tinggi—hanya langit yang sama.
Di sana kami belajar:
keberagaman bukan teori di buku pelajaran,
melainkan napas yang kita hirup bersama.
III. Wayang dan Doa di Hong San Kiong: Jembatan Emas Budaya
Sore turun perlahan di Gudo,
membawa cahaya keemasan ke pelataran Hong San Kiong.
Wayang Potehi menari,
menghidupkan kisah lama yang nyaris hilang,
diiringi tawa yang perlahan mencairkan jarak.
Di sini, budaya bukan sekat,
melainkan jembatan emas yang mempertemukan.
Kami belajar bahwa menghormati leluhur
dan menghormati guru bangsa
adalah satu napas yang sama:
cinta pada akar, cinta pada masa depan.
Di bawah lampu klenteng yang temaram,
perjumpaan itu menjadi nyata:
peci dan dupa duduk semeja,
berbagi cerita tanpa prasangka.
Boneka kayu itu bergerak,
namun pesan kemanusiaannya hidup—
bahwa di atas segala lakon,
kita tetap satu keluarga.
IV. Puncak di Tebuireng: Di Mana Bumi Menjadi Sajadah
Minggu pagi, 19 April—
udara Tebuireng terasa lebih dalam, lebih hening.
Di gerbang pesantren, kami menunduk,
bukan karena takut,
melainkan karena sadar:
kami melangkah di tanah yang disucikan oleh laku dan cinta.
Di pusara Gus Dur,
tak ada sekat yang mampu bertahan.
Hanya lingkaran manusia,
bergandengan tangan dalam kehangatan yang sama.
Doa-doa berbaur:
dzikir, kidung, mantra—
menjadi satu getaran kasih yang naik ke langit.
“Sapu Jagad” bukan sekadar membersihkan daun,
melainkan membersihkan hati dari debu kebencian.
Tabur bunga bukan sekadar hiasan,
melainkan janji yang diam-diam diucapkan:
kami akan menjaga negeri ini tetap utuh.
Di sana, kami menitipkan niat—
bahwa ziarah ini bukan tentang kematian,
melainkan tentang cara hidup yang lebih manusiawi.
V. Pulang Membawa Cahaya: Tanggung Jawab yang Tersisa
Perjalanan ini mungkin hanya setetes air,
namun cukup membasahi jiwa yang lama kering.
Saat bus kembali ke Semarang,
yang paling berat bukanlah barang bawaan,
melainkan kesadaran yang tumbuh di dada:
bahwa menjadi Indonesia
adalah tugas yang tak pernah selesai.
Ia menuntut keberanian untuk berdialog,
kesabaran untuk memahami,
dan keteguhan untuk tetap bersama dalam perbedaan.
Kami pulang bukan sebagai individu yang tercerai,
melainkan sebagai anyaman Nusantara yang kian erat.
Seperti batu-batu Rimbi yang tetap tegak
meski kehilangan atapnya—
kami akan menjaga fondasi itu tetap hidup.
Jombang – Semarang, 19 April 2026




