SEMARANG – Komunitas seni inklusif Roemah Difabel Indonesia (Roemah D) akan menampilkan 20 karya lukisan terbaik dalam Pameran Abhirama Ranggawarsita 2026. Partisipasi ini menjadi bukti nyata upaya menghadirkan perspektif inklusif dalam panggung seni rupa nasional yang mengangkat kekayaan budaya Nusantara.
Pameran bertajuk “Rupa, Warna, Rasa Nusantara” dengan subtema “Pangan dalam Jejak Budaya: Dari Warisan Leluhur Menuju Pangan Masa Depan” ini resmi dibuka oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia pada Rabu (6/5/2026) pukul 08.00 WIB. Kegiatan berlangsung hingga 10 Mei 2026 di Museum Ranggawarsita, Jalan Abdulrahman Saleh No. 1, Semarang.
Mentor seni rupa Roemah D, Giovanni Susanto, menjelaskan bahwa karya-karya yang dipamerkan tidak sekadar representasi ekspresi artistik, melainkan juga memuat refleksi mendalam terhadap perjalanan budaya dan identitas lokal.
“Jika diselaraskan dengan tema, karya-karya Roemah D banyak mengangkat gagasan tentang Semarang masa depan. Melalui visual bangunan cagar budaya dan lanskap kota, para perupa mencoba menelusuri jejak budaya leluhur serta melihat proses akulturasi yang membentuk wajah Semarang sebagai bagian dari Nusantara,” ujar Giovanni, belum lama ini.
Menurutnya, kekayaan budaya tersebut tidak terlepas dari tradisi pangan yang menjadi bagian vital dalam kehidupan masyarakat. Hal itu kemudian diterjemahkan oleh para seniman difabel ke dalam bahasa visual yang beragam, mulai dari penggunaan simbol, eksplorasi warna, hingga narasi keseharian yang akrab di mata penonton.
Partisipasi Roemah D dalam agenda bergengsi ini juga menjadi penegasan bahwa ruang seni harus terbuka bagi semua kalangan, tanpa terkecuali seniman difabel. Kehadiran mereka tidak hanya memperkaya keragaman perspektif dalam pameran, tetapi juga memperluas pemaknaan tentang inklusivitas dalam ekosistem seni rupa Indonesia.
Pameran Abhirama Ranggawarsita merupakan agenda budaya tahunan yang mempertemukan berbagai karya seni dengan pendekatan lintas disiplin, menghubungkan warisan masa lalu dengan tantangan masa depan. Selain pameran lukisan, rangkaian acara juga diisi dengan pertunjukan seni budaya, sambutan pejabat daerah, serta peninjauan ruang pameran oleh para tamu undangan.
Melalui keikutsertaan ini, Roemah D berharap karya-karya yang ditampilkan tidak hanya menjadi medium ekspresi pribadi, tetapi juga jembatan dialog tentang keberagaman, pelestarian budaya, dan visi masa depan yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. (Christian Saputro)




