SEMARANG — Komitmen terhadap inklusivitas dalam dunia kebudayaan mengemuka dalam pembukaan Pameran Abhirama Ranggawarsita 2026 di Museum Ranggawarsita, Rabu (6/5/2026). Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan bersama Kepala Museum Agung Raharjo Wibowo Kusumo memberikan apresiasi terhadap karya-karya seniman difabel yang ditampilkan dalam ajang tersebut.
Sebanyak 20 lukisan karya komunitas Roemah Difabel Indonesia (Roemah D) menjadi bagian penting dalam pameran bertajuk “Rupa, Warna, Rasa Nusantara” dengan subtema “Pangan dalam Jejak Budaya: Dari Warisan Leluhur Menuju Pangan Masa Depan”. Karya-karya tersebut menghadirkan perspektif alternatif tentang budaya, ruang kota, dan identitas, sekaligus menegaskan posisi seni sebagai medium ekspresi yang inklusif.
Dirjen PKT Restu Gunawan menilai kehadiran karya seniman difabel merupakan bagian penting dari narasi kebudayaan nasional. “Pelindungan kebudayaan tidak hanya menyangkut benda atau tradisi, tetapi juga manusia dan ekspresi yang hidup di dalamnya.
Inklusivitas menjadi kunci agar kebudayaan tetap relevan,” ujarnya.
Senada, Kepala Museum Ranggawarsita Agung Raharjo Wibowo Kusumo menegaskan museum harus menjadi ruang publik yang terbuka dan edukatif. “Kehadiran karya difabel memperkaya cara kita memahami kebudayaan,” katanya.
Founder Roemah D, Noviana Dibyantari, yang mendampingi para seniman difabel dalam kesempatan tersebut, mengungkapkan rasa bahagianya atas perhatian dan apresiasi yang diberikan.
“Kami merasa sangat dihargai. Apresiasi dari Bapak Dirjen PKT dan Kepala Museum menjadi semangat bagi teman-teman difabel untuk terus berkarya dan percaya diri menampilkan karyanya di ruang publik,” ujarnya.
Menurut Noviana, keterlibatan Roemah D dalam pameran ini bukan hanya tentang menampilkan karya, tetapi juga memperjuangkan ruang yang setara bagi seniman difabel dalam ekosistem seni rupa Indonesia.
Sementara itu, mentor seni Roemah D, Giovanni Susanto, menjelaskan bahwa karya-karya yang dipamerkan banyak mengangkat lanskap Kota Semarang, termasuk bangunan cagar budaya dan dinamika urban. Hal tersebut menjadi refleksi perjalanan budaya sekaligus gambaran masa depan kota.
Pameran Abhirama Ranggawarsita merupakan agenda budaya tahunan yang menggabungkan seni rupa dengan pendekatan lintas disiplin. Selain pameran lukisan, kegiatan ini juga diisi dengan pertunjukan seni dan interaksi publik.
Kehadiran Roemah Difabel Indonesia dalam ajang ini menegaskan bahwa ruang seni semakin terbuka bagi keberagaman. Dari Semarang, pesan inklusivitas kembali ditegaskan—bahwa kebudayaan adalah ruang bersama, tempat setiap suara memiliki arti. (Christian Saputro)




