SEMARANG – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-10 Kantin Kebajikan berlangsung sederhana namun penuh khidmat di Gedung Rasa Dharma, Gang Pinggir 31, kawasan Pecinan Semarang, Selasa (5/5/2026). Suasana hangat dan kekeluargaan mewarnai satu dekade perjalanan gerakan sosial yang konsisten menebar kepedulian melalui sepiring nasi.
Acara diawali dengan pembukaan dan doa bersama, dilanjutkan dengan sambutan Founder Kantin Kebajikan, Agung Kurniawan, serta Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim. Dalam sambutannya, Agung menegaskan bahwa perjalanan sepuluh tahun ini menjadi bukti bahwa kepedulian dapat tumbuh dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Kami ingin mengajak semua pihak untuk mulai berbagi dari lingkungan terdekat. Tidak harus besar, tetapi nyata dan bisa dirasakan,” ujar Agung.
Puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng dan penyalaan lilin kue ulang tahun ke-10 sebagai simbol rasa syukur. Momen tersebut dilanjutkan dengan penyerahan buku “Nurani Sepiring Nasi” kepada para relawan dan pelayan Kantin Kebajikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka selama ini. Buku tersebut merekam jejak perjalanan, nilai, serta refleksi kemanusiaan yang menjadi fondasi gerakan.
Ketua Panitia, Liliana Dirgo, menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni. “Ini adalah pengingat bahwa kebaikan harus terus dirawat dan dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita,” katanya.
Suasana semakin akrab dalam sesi ramah tamah dan makan bersama, di mana para tamu, relawan, dan undangan duduk tanpa sekat. Hal ini mencerminkan semangat inklusif yang selama ini dijaga oleh Kantin Kebajikan.
Dalam kesempatan itu, Harjanto Halim menekankan bahwa Kantin Kebajikan tumbuh bukan dari gagasan besar, melainkan dari niat sederhana yang dijaga dengan konsistensi. Ia menyebut, di balik aktivitas yang tampak biasa—dapur yang terus hidup dan antrean yang tak pernah putus—terdapat upaya menjaga agar kebaikan tidak berhenti sebagai peristiwa, melainkan menjadi kebiasaan.
“Lebih dari sekadar berbagi makanan, Kantin Kebajikan juga menanamkan nilai adab dan kesetaraan. Setiap orang diajak untuk antre, menghabiskan makanan, mengembalikan piring, serta berbagi seikhlasnya. Di meja yang sama, semua setara—tanpa melihat latar belakang. Di situlah kita belajar tentang kemanusiaan,” ujar Harjanto.
Sejak berdiri sepuluh tahun lalu, Kantin Kebajikan telah menjadi ruang perjumpaan lintas kalangan tanpa sekat. Memasuki dekade kedua, gerakan ini berkomitmen memperluas jangkauan pelayanan dan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak. Perayaan ini menegaskan satu pesan: perubahan sosial dapat dimulai dari tindakan kecil—dari satu piring nasi, dari satu kepedulian, dan dari hati yang mau berbagi. (Christian Saputro)




