Semarang – Pagi itu, cahaya jatuh pelan melalui jendela-jendela tinggi di ruang pamer Museum Ranggawarsita Semarang. Debu halus menari dalam sorot lampu, menyelimuti deretan kanvas yang tergantung rapi. Di antara hiruk-pikuk persiapan Pameran Abhirama Ranggawarsita 2026, langkah Agung Raharjo Wibowo Kusumo, Kepala Museum, terhenti lebih lama dari biasanya di hadapan satu karya tertentu.
Ia mendekat. Matanya menelusuri goresan kuas, warna, dan komposisi. Lalu ia kembali mundur selangkah, menatap ulang, seolah ingin memastikan bahwa yang ia lihat bukan sekadar gambar di atas kanvas, melainkan sesuatu yang lebih dalam: sebuah suara.
Lukisan itu karya Willy, seorang perupa dari Roemah Difabel Indonesia (Roemah D).
Tak lama, keputusan itu datang—tenang, tanpa gegap gempita, namun sarat makna. Karya tersebut akan dikoleksi museum. Disimpan. Diakui sebagai bagian resmi dari ingatan kolektif Jawa Tengah yang layak dirawat untuk generasi mendatang.
Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya satu transaksi kultural atau penambahan inventaris biasa. Tapi bagi komunitas Roemah Difabel Indonesia, momen itu adalah penegasan eksistensi.
Di sudut ruang, Noviana Dibyantari, perwakilan dari Roemah D, menyaksikan peristiwa itu dengan mata yang sulit menyembunyikan rasa haru. Tangannya meremas tas selempangnya perlahan.
“Ini bukan sekadar apresiasi,” ujarnya pelan, suaranya hampir tertelan dengung AC ruangan. “Ini pengakuan. Bahwa karya teman-teman difabel punya nilai, punya tempat, dan layak menjadi bagian dari sejarah.”
Kalimat itu menggantung sejenak di udara, memberi ruang bagi maknanya untuk menetap di hati para hadirin.
Dalam Pameran Abhirama Ranggawarsita 2026 yang bertema “Rupa, Warna, Rasa Nusantara”, sebanyak 20 karya dari Roemah D ditampilkan. Sebagian berbicara tentang pangan dan tradisi leluhur, sebagian tentang lanskap kota Semarang yang berubah, dan sebagian lagi tentang ingatan personal. Namun, semuanya memiliki satu kesamaan: mereka lahir dari pengalaman yang jujur, tanpa filter, dan otentik.
Menurut mentor seni rupa mereka, Giovanni Susanto, para perupa difabel ini tidak hanya menggambar apa yang terlihat secara fisik. Mereka mencoba “membaca” Semarang—dari tekstur bangunan tua, dinamika perubahan kota, hingga kebiasaan sehari-hari masyarakatnya—melalui lensa perasaan yang unik.
Namun, yang membuat karya-karya itu berbeda bukan hanya temanya, melainkan sudut pandangnya. Ada cara melihat yang lain. Cara merasakan yang mungkin lebih sunyi, lebih introspektif, tetapi justru karena itu, lebih dalam.
Keputusan Agung Raharjo Wibowo Kusumo untuk mengoleksi karya Willy menjadi penanda penting dalam evolusi peran museum modern. Bahwa museum tidak hanya bertugas menyimpan masa lalu yang sudah mati, tetapi juga aktif memilih apa yang layak menjadi masa depan.
“Museum harus hidup,” kata Agung dalam salah satu kesempatan diskusi sebelumnya. “Dan hidup itu berarti terus membuka diri pada perspektif baru, termasuk dari mereka yang selama ini sering dianggap ‘lain’.”
Di tengah dinamika itu, peran komunitas seperti Roemah D menjadi krusial. Mereka tidak hanya menghadirkan karya estetis, tetapi juga memperluas batas definisi tentang siapa yang boleh menjadi bagian dari ekosistem seni nasional. Pertanyaan lama tentang inklusivitas kembali muncul—tapi kali ini dengan nada yang berbeda. Bukan lagi “apakah mereka diberi ruang?”, melainkan “bagaimana ruang itu terus dijaga agar tetap terbuka dan setara?”.
Kini, di ruang penyimpanan museum, lukisan Willy tidak lagi berdiri sendiri sebagai objek pameran sementara. Ia telah bertransformasi menjadi bagian dari koleksi permanen—sepotong ingatan yang akan disimpan, dirawat, dilindungi dari lapuk waktu, dan mungkin suatu hari nanti dibaca kembali oleh orang lain, di waktu yang berbeda, dengan konteks yang mungkin berubah.
Dan di Semarang, pagi itu meninggalkan satu kesan yang sulit diabaikan: bahwa sebuah karya, ketika benar-benar dilihat dengan hati dan akal, bisa mengubah cara kita memandang dunia. Bahwa inklusi bukan sekadar kata kerja, melainkan sebuah pilihan etis untuk mengakui kemanusiaan dalam setiap goresan. (Christian Saputro)




