Oleh Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis
Sore turun pelan di Dusun Thekelan, lereng yang sejuk di kaki gunung. Kabut datang seperti ingatan—tidak selalu jelas, tetapi terasa. Di sebuah sudut dusun, Sisilia Hangin duduk berhadapan dengan kepala dusun. Percakapan mereka tidak terburu-buru. Tentang seni, tentang ruang hidup, tentang bagaimana sebuah dusun bisa menjadi panggung—bukan untuk ditonton, melainkan untuk dijalani.
Di Thekelan, kebudayaan tidak selalu tampil dalam bentuk pertunjukan. Ia hadir dalam cerita-cerita yang dituturkan pelan, dalam praktik spiritual yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan, dan dalam keyakinan bahwa ada yang tak kasatmata namun terus hidup. Sisilia mencatat, mendengar, sekaligus meraba batas antara yang nyata dan yang dipercaya.
Ia juga bertemu anak-anak muda yang menjadikan ruang ibadah Buddha sebagai tempat berlatih seni. Mereka menari, berlatih, dan menjaga tradisi seperti Topeng Ireng dan Tari Prajuritan dengan cara mereka sendiri—tanpa panggung besar, tanpa fasilitas memadai. Yang ada hanya tekad agar tradisi tidak padam.
“Yang sulit itu bukan menari,” kata seorang pemuda, “tapi menjaga supaya tetap ada yang mau menari.”
Dari gunung, cerita bergerak ke laut. Di kawasan pesisir Tambak Lorok, suasana berbeda menunggu. Tidak ada kabut, tetapi ada asin yang menempel di udara. Di sini, Rahma Jamil Setyo Tuhu—yang akrab dipanggil MAMOX—memilih cara yang lain untuk membaca ruang.
Ia tidak datang sebagai peneliti formal. Ia berjalan, nongkrong, dan mendengar. Kadang ditemani botol Cong Yang—minuman yang, baginya, bukan sekadar rasa, tetapi pintu masuk ke cerita-cerita yang tenggelam.
“Di balik botol itu, banyak cerita yang akhirnya muncul ke permukaan,” ujarnya.
Dari perjumpaan-perjumpaan santai itu lahir karya berjudul Conyang untuk Dewa Tambak. Sebuah tafsir personal tentang laut, manusia, dan sesuatu yang tak selalu bisa dijelaskan dengan logika. Karya itu bukan hanya gambar, tetapi juga catatan perjalanan—tentang bagaimana sebuah tempat berbicara melalui kebiasaan sehari-hari.
Di Tambak Lorok, warga sendiri menyebut ruang-ruang sederhana sebagai pusat kebudayaan: pasar ikan, laut, taman, tempat ibadah, hingga rumah belajar.
Tidak ada label resmi. Tapi di sanalah kehidupan berlangsung, dan dari sanalah kebudayaan terus tumbuh.
Sementara itu, di ruang lain, pendekatan berbeda muncul dari Maretha Miftakhul Hidayah, atau Metha. Latar belakangnya bukan seni, melainkan akuntansi. Namun justru dari sana ia melihat sesuatu yang jarang dibicarakan: bagaimana kebudayaan dikelola.
Baginya, seni bukan hanya soal ekspresi, tetapi juga soal keberlanjutan. Ia menyebut pendekatannya sebagai “Akuntansi Budaya”—cara untuk menghitung hal-hal yang tak terlihat: nilai tradisi, relasi komunitas, hingga keberadaan ruang-ruang seni.
“Yang kita hitung bukan cuma uang,” katanya, “tapi juga nilai yang selama ini dianggap tak punya angka.”
Pendekatan itu ia kembangkan bersama ekosistem Klub Merby, yang selama dua dekade menjadi ruang pertemuan seniman, tradisi, dan publik. Bersama AECI Satya Nirmana Foundation, mereka mendorong praktik seni berbasis riset, edukasi publik, dan kolaborasi lintas disiplin.
Semua pertemuan itu bermuara dalam satu peristiwa: Festival GULA—sebuah inisiatif yang mencoba menghubungkan gunung, laut, dan kota dalam satu napas kebudayaan.
Di sini, seniman tidak hanya mencipta. Mereka berjalan, mendengar, dan tinggal—menjadi bagian dari ruang yang mereka baca. Tradisi tidak dihadirkan sebagai benda mati, tetapi sebagai sesuatu yang terus berubah dan dinegosiasikan.
Namun di balik semua itu, ada pertanyaan yang menggantung: seberapa lama semua ini bisa bertahan?
Dusun dengan fasilitas terbatas.
Komunitas yang berjuang sendiri. Tradisi yang hidup, tetapi rentan ditinggalkan. Di sisi lain, ada upaya untuk merespons cepat—“kualitas kecepatan”, kata penyelenggara—agar kebudayaan tidak tertinggal oleh zaman.
Di antara gunung, laut, dan kota, para seniman itu seperti sedang menyulam sesuatu yang rapuh: ingatan.
Bukan untuk mengabadikan masa lalu, tetapi untuk memastikan bahwa ia tidak benar-benar hilang. (*)




