JAKARTA – Delegasi dari Anhui Africa-Asia Exhibition Co., Ltd., Tiongkok, menggelar pertemuan strategis dengan pengurus Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) di Sekretariat GAPMMI, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2026). Pertemuan selama kurang lebih 1,5 jam ini membahas potensi ekspor produk makanan khas Anhui, khususnya mie (noodle) dan cemilan kacang tanah (peanut crisp), ke pasar Indonesia.
Delegasi Tiongkok yang terdiri dari sembilan orang tersebut merupakan produsen berbagai produk pangan, termasuk peanut crisp (semacam teng-teng kacang tanah), sup daging sapi (beef soup), dan mie kering. Sesi pertemuan ini dihadiri oleh Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan UKM GAPMMI, Irwan Widjaja, Ketua Bidang Kerja Sama Luar Negeri GAPMMI, Handito Joewono, serta dua pengurus lainnya.
Handito Joewono menilai bahwa produk mie dari Anhui memiliki prospek cerah di Indonesia, mengingat tren konsumsi mie yang terus meningkat. “Konsumsi mie di Indonesia meningkat terus. Ada dua segmen potensial, yaitu mie lokal yang sudah disesuaikan dengan ‘lidah’ konsumen Indonesia, dan mie dengan rasa internasional. Prospek pasar untuk kedua jenis mie tersebut sangat terbuka lebar di Indonesia,” ujar Handito.
Menanggapi hal tersebut, Wang Houjun, perwakilan produsen mie dari Anhui, mengakui pentingnya adaptasi rasa. Ia menyadari bahwa sejarah panjang mie di Tiongkok tidak menjamin kesesuaian selera dengan konsumen global. “Kalau rasa dan selera makan mie konsumen di China, belum tentu sama dengan selera konsumen di Indonesia. Oleh karena itu, kami perlu melakukan riset mendalam mengenai preferensi rasa di sini sebelum masuk secara masif,” kata Wang.
Wang Houjun juga menawarkan fleksibilitas dalam model bisnis. Jika keyakinan terhadap prospek pasar Indonesia sudah terbentuk, pihaknya membuka peluang kerja sama melalui skema Original Equipment Manufacturer (OEM). Dalam sistem ini, perusahaan Indonesia dapat memproduksi komponen atau produk akhir menggunakan teknologi dan bahan baku dari pihak Anhui, namun dijual kembali dengan merek dagang perusahaan lokal. “Kami bisa menerima permintaan dengan sistem OEM untuk memasarkan mie di Indonesia,” tambahnya.
Selain mie, delegasi juga memperkenalkan produk cemilan peanut crisp. Yin Wanhong, produsen peanut crisp, menjelaskan bahwa saat ini bahan baku utama mereka adalah kacang tanah yang pasokannya melimpah di Tiongkok. Namun, ke depan mereka berencana mengembangkan varian dengan bahan baku cokelat, gandum, dan beras.
Yin menekankan bahwa tekstur dan tingkat kemanisan produk dapat disesuaikan dengan preferensi lokal. “Di Tiongkok, konsumen umumnya menyukai cemilan kami dengan rasa yang tidak terlalu manis. Untuk pasar Indonesia, kami siap menyesuaikan tingkat kemanisan dan kerenyahannya,” ujarnya.
Sebagai langkah awal penetrasi pasar, Yin Wanhong mengumumkan bahwa produk-produk tersebut akan dipamerkan dalam ajang More Food di JIExpo Kemayoran pada 7–10 Mei 2026. “Kami akan membagikan sampel kepada pengunjung sebagai tester. Ini sekaligus menjadi sarana survei langsung mengenai lidah orang Indonesia terhadap cemilan kami,” tutup Yin.
Kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan diskusi teknis pasca-pameran untuk menjajagi kemungkinan kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan. (Christian Saputro/SL)




