METRO – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-89 Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Metro tahun ini tampil berbeda. Tidak hanya menghadirkan nuansa religius, rangkaian perayaan juga dibingkai melalui pameran seni rupa bertajuk Biophiliart yang mengangkat tema cinta kehidupan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Pameran yang digelar mulai 9 Mei hingga 14 Juni 2026 di Gedung Serba Guna Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Metro tersebut menghadirkan karya lukisan dan instalasi dari para seniman Kota Metro dan sekitarnya. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara seni, spiritualitas, dan refleksi ekologis di tengah meningkatnya persoalan lingkungan saat ini.
Ketua Panitia HUT ke-89 Paroki Metro, Y. Respawanto Cahya Lelono, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian gereja terhadap isu kehidupan dan lingkungan hidup yang kini menjadi perhatian bersama.
“Melalui seni rupa, kami ingin menghadirkan pesan moral dan spiritual tentang pentingnya menjaga bumi sebagai rumah bersama. Ini bukan hanya kegiatan seni, tetapi juga ruang refleksi,” ujarnya.
Tema besar pameran mengacu pada semangat tahunan keuskupan tentang cinta kehidupan dan lingkungan hidup yang kemudian diterjemahkan dalam tema paroki, yakni “Menyatu dengan Alam, Merawat Kehidupan dalam Kasih-Nya.”
Koordinator Pameran, Rafael Condro Citroseno, menjelaskan istilah Biophiliart berasal dari gabungan kata biophilia dan art, yang dimaknai sebagai kecintaan manusia terhadap kehidupan dan alam melalui medium seni.
“Kami memberi kebebasan kepada para seniman untuk menerjemahkan hubungan manusia dan alam lewat karya visual. Ada yang berbicara tentang kerusakan lingkungan, perubahan iklim, hingga harapan terhadap masa depan bumi,” katanya.
Selain menghadirkan pameran lukisan dan instalasi, kegiatan juga akan diisi dengan diskusi seni, artist talk, dan penerbitan katalog pameran. Panitia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat ruang apresiasi seni rupa di Lampung sekaligus menumbuhkan kesadaran ekologis masyarakat.
Kurator pameran, Ahmad Muzakki, dalam narasi kuratorialnya menyebut Biophiliart sebagai ruang artikulasi estetik untuk membangun kembali relasi manusia dengan alam yang mulai rapuh akibat modernitas dan eksploitasi lingkungan.
Menurutnya, seni memiliki kemampuan menghadirkan pengalaman reflektif yang mampu menyentuh kesadaran publik tanpa harus disampaikan secara menggurui.
“Pameran ini menjadi ruang dialog antara seni, iman, dan tanggung jawab ekologis. Alam tidak lagi sekadar objek visual, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dirawat bersama,” tulisnya.
Pastor Paroki Hati Kudus Yesus Metro, RD. FX. Cahyo Handoko, menambahkan bahwa menjaga lingkungan hidup merupakan bagian dari tanggung jawab iman dan kemanusiaan.
“Merawat kehidupan berarti juga merawat ciptaan Tuhan. Kami berharap kegiatan ini menjadi inspirasi bagi umat dan masyarakat luas untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Melalui Biophiliart, Gereja Paroki Metro ingin menegaskan bahwa seni bukan hanya ruang ekspresi estetika, tetapi juga medium untuk menyuarakan kepedulian sosial, spiritual, dan masa depan bumi di tengah tantangan ekologis yang semakin nyata. (Christian Saputro)




