SEMARANG — Di tengah perubahan sosial dan ancaman hilangnya identitas budaya lokal, sebuah gerakan seni berbasis riset hadir menawarkan cara baru membaca masyarakat. Melalui Festival GULA, para seniman, peneliti, dan warga diajak membangun ruang bersama untuk merawat ingatan kolektif, menyusun pengetahuan, sekaligus mencari model pelestarian budaya yang lebih relevan dengan zaman.
Festival GULA digagas sebagai aktivasi kolektif berbasis Arts-Based Research, sebuah pendekatan yang menempatkan praktik artistik sebagai metode berpikir, membaca realitas, sekaligus menyusun pengetahuan publik. Dalam festival ini, seni tidak berhenti sebagai karya estetis, melainkan menjadi medium untuk memahami perubahan sosial, lingkungan, dan identitas masyarakat.
“Festival ini bukan hanya tentang pameran atau pertunjukan seni, tetapi tentang bagaimana pengalaman hidup masyarakat bisa menjadi pengetahuan bersama,” demikian disampaikan penyelenggara melalui keterangan programnya.
Berbeda dari festival seni konvensional, GULA menjadikan masyarakat sebagai bagian utama dari proses kreatif.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang sebagai “laboratorium hidup” untuk mengamati bagaimana warga merespons perubahan zaman, perubahan iklim, hingga pergeseran ruang sosial. Dari situ, seniman dan peneliti bersama warga mencoba merumuskan pola konservasi budaya yang dapat diwariskan secara berkelanjutan.
Festival ini bertumpu pada dua simbol utama, yakni “mantra batin” sebagai lambang harapan, dan “tapak temu laku” sebagai representasi tindakan nyata untuk membangun relasi sosial. Semangat yang diusung sederhana namun mendalam: saling mengenal agar saling menguatkan, terutama antara masyarakat gunung, pesisir, dan perkotaan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan program residensi seniman yang tinggal langsung bersama masyarakat melalui sistem keluarga asuh. Para seniman tidak sekadar datang sebagai pengamat, melainkan hidup bersama warga untuk memahami keseharian, tradisi, hingga persoalan yang mereka hadapi.
Di kawasan lereng Merbabu, tepatnya Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, seniman asal Kalimantan Timur, Sisilia Hangin, mengeksplorasi narasi toleransi dan konservasi komunitas seni berbasis alam pegunungan.
Sementara di kawasan pesisir Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, Rahma Jamil Setyo Tuhu menyoroti daya lenting masyarakat pesisir dalam menghadapi perubahan iklim dan ancaman lingkungan.
Sedangkan untuk ekosistem perkotaan, residensi dilakukan di Sanggar Klub Merby, Wonodri, Semarang Selatan. Seniman Maretha Miftakhul Hidayah mengkaji metode pendidikan seni dan tata kelola ruang budaya di tengah kehidupan urban.
Seluruh pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan menjadi karya dan arsip dalam berbagai medium: tulisan, ilustrasi, lukisan, instalasi, video, fotografi, kolase, benda temuan, hingga pertunjukan rakyat. Festival ini juga membuka ruang bagi bentuk-bentuk eksperimentasi artistik yang personal, emosional, bahkan absurd, sebagai bagian sah dari proses ilmiah dan penciptaan pengetahuan.
Selain residensi, Festival GULA juga melibatkan tim peneliti yang melakukan riset partisipatif mengenai pengelolaan ruang publik inklusif berbasis seni.
Penelitian dilakukan oleh Anisa Puput Rahmawati dan Re Karunia Kukuh Pertiwi untuk memetakan bagaimana ruang-ruang publik — mulai dari halaman rumah warga hingga sekolah — dapat menjadi tempat tumbuhnya praktik kebudayaan yang berkelanjutan.
Tak hanya itu, Festival GULA juga menghadirkan Inclusive Art Stage, sebuah panggung seni yang membuka kesempatan setara bagi publik, termasuk kelompok disabilitas dan masyarakat marginal. Dalam ruang ini, seni diposisikan sebagai alat pemberdayaan sosial sekaligus medium membangun kesetaraan.
Kegiatan pendokumentasian pun menjadi bagian penting festival. Berbagai praktik digital, media interaktif, dan teknologi dimanfaatkan untuk mendistribusikan literasi budaya serta menyuarakan isu sosial yang kerap luput dari perhatian arus utama. Dokumentasi tersebut nantinya akan dipresentasikan melalui gerakan arsip keliling bertajuk “Art on the Move”.
Melalui konsep ini, arsip tidak lagi dipandang sebagai dokumen mati yang tersimpan di rak-rak perpustakaan, melainkan sebagai ingatan hidup yang terus bergerak dari gunung, laut, hingga kota. Arsip diposisikan sebagai alat belajar, medium hiburan, sekaligus “nurani” sebuah peradaban yang menyimpan jejak empati antargenerasi.
Festival GULA sendiri diinisiasi oleh AECI Satya Nirmana Foundation sebagai upaya membangun model pengelolaan kebudayaan berbasis partisipasi masyarakat. Melalui program ini, seluruh hasil riset dan karya akan dikembalikan kepada publik sebagai aset intelektual bersama.
Penyelenggara berharap pola kerja seni semacam ini mendapat dukungan lebih luas, baik dari pemerintah maupun media massa. Dukungan tersebut dinilai penting agar praktik seni berbasis riset dan pemberdayaan masyarakat dapat terus berkembang melalui pendanaan, penyediaan ruang publik, hingga perluasan akses publikasi.
Di tengah dunia yang terus berubah cepat, Festival GULA menawarkan satu hal yang kerap terlupakan: bahwa seni bukan sekadar tontonan, melainkan cara manusia memahami dirinya sendiri, merawat ingatan bersama, dan menjaga kemungkinan untuk tetap hidup berdampingan. (Christian Saputro)




