SEMARANG — Di halaman rumahnya yang teduh, deretan pot bonsai berjajar seperti fragmen waktu yang dipelihara dengan kesabaran panjang. Batang-batang kecil itu melintir, menua dengan anggun; sebagian keras dan berurat seperti karang pantai, sebagian lain lentur mengikuti gerak tangan penari Jawa. Di antara rerimbun miniatur pohon itulah Heriwanto menghabiskan pagi-paginya: menyiram daun, memangkas ranting liar, memeriksa arah tumbuh akar. Tangannya bergerak perlahan, telaten, nyaris seperti sedang melukis di atas kanvas kosong.
Bagi Heriwanto, bonsai dan lukisan sesungguhnya lahir dari laku yang sama: merawat kehidupan.
Pelukis kelahiran 22 April 1962 itu tak pernah benar-benar berhenti bekerja, meski statusnya sebagai guru seni rupa di sebuah SMP Negeri Semarang telah lama ia tanggalkan. Bagi Heriwanto, pensiun hanya menghapus jam absensi, bukan gairah kreatifnya. Justru setelah meninggalkan ruang kelas dan rutinitas birokrasi pendidikan, ia seperti menemukan kembali dirinya sendiri—lebih dekat dengan kanvas, warna, tanah, dan sunyi.
“Kalau seni berhenti, mungkin hidup saya juga ikut redup,” katanya suatu sore kepada seorang kawan perupa. Kalimat itu terdengar sederhana, namun menjadi kunci untuk memahami seluruh perjalanan hidupnya.
Dari Sawah Tegal ke Dinamika Semarang
Heriwanto mulai memegang kuas pada 1985. Saat itu, dunia seni rupa Indonesia belum seramai dan sekomersial sekarang. Ia tumbuh dari lingkungan sederhana di kawasan Bumi Jawa, Tegal bagian selatan—wilayah yang akrab dengan lanskap persawahan hijau, pohon-pohon besar yang meneduhkan, dan udara kampung yang bergerak lambat. Alam menjadi sekolah visual pertamanya. Dari sana, ia belajar bahwa bentuk tidak selalu harus sempurna secara geometris, dan keindahan sering kali justru lahir dari ketidakteraturan organik.
Ketika hijrah ke Semarang pada 1990, hidupnya berubah lebih dinamis. Kota metropolitan memberinya ruang baru: komunitas seni yang hidup, ruang pamer alternatif, diskusi hangat, dan pergaulan lintas generasi. Namun, di tengah kesibukan mengajar seni rupa di sekolah menengah, hasrat melukisnya sering kali tertahan oleh rutinitas harian.
Puluhan tahun ia menjalani dua kehidupan sekaligus: menjadi pendidik yang disiplin pada pagi hari, dan menjadi pelukis yang bebas di sela-sela waktu luang.
Baru setelah memasuki masa purnatugas, ledakan energi kreatif itu seperti menemukan jalannya sendiri tanpa hambatan. Ia mulai aktif berpameran, mengikuti berbagai kegiatan seni rupa, dan kembali tekun berkarya dengan intensitas penuh. Semangat itu tampak jelas dalam keterlibatannya di berbagai pameran bersama di Semarang, Magelang, Solo, dan Yogyakarta sejak akhir 1990-an.
Namanya semakin akrab di kalangan perupa Jawa Tengah ketika ia ikut serta dalam pameran “Ora Leren” di Semarang Creative Hub pada 2022, bersama nama-nama senior seperti Goenarso dan Harry Suryo. Tajuk “Ora Leren”—yang berarti “tak berhenti”—terasa seperti cermin paling jujur bagi hidupnya. Ia memang tak pernah berhenti mengamati, merasa, dan mencipta.
Abstraksi yang Berdenyut Pelan
Pada 2026, Heriwanto kembali menampilkan karya-karyanya dalam Pameran “NYAWIJI” di Front One HK Resort Semarang, serta dalam pameran “Meraga Rasa” di Rumah Makan Pringsewu bersama para pelukis abstrak lainnya. Di berbagai ruang itu, karya-karyanya hadir dengan karakter yang tenang namun berdenyut kuat: abstrak dekoratif yang kadang menyerempet realisme lanskap, menciptakan batas kabur antara imajinasi dan kenyataan.
Sapuan warnanya tidak meledak-ledak atau agresif menuntut perhatian. Ia lebih suka membangun suasana perlahan, seperti hujan gerimis yang turun di atas dedaunan. Dalam beberapa lukisan, bentuk-bentuk pohon, akar, dan ritme alam muncul samar-samar, seolah hendak mengingatkan penonton bahwa manusia sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari semesta yang jauh lebih tua dan luas.
Mungkin karena kedekatan spiritual inilah ia begitu mencintai bonsai.
Di Semarang, Heriwanto bukan hanya dikenal sebagai pelukis, tetapi juga sebagai pegiat dan perajin bonsai yang dihormati. Dunia bonsai memberinya ruang kontemplasi yang berbeda dari melukis. Ia menikmati proses panjang membentuk pohon kecil menjadi karya hidup yang estetis. Ada filosofi Jawa yang diam-diam bekerja di sana: ketekunan, keseimbangan, dan kesabaran dalam membaca waktu.
“Bonsai itu mengajari kita agar tidak tergesa-gesa,” ujarnya suatu ketika. Ia percaya, pohon yang dipaksa tumbuh cepat akan kehilangan karakter dan jati dirinya. Begitu pula manusia, dan begitu pula seni.
Menjaga Api Kecil Tetap Menyala
Pandangan itu tampak memengaruhi cara Heriwanto melukis hingga hari ini. Ia tidak tergoda mengikuti tren pasar yang berubah-ubah atau gegap-gempita dunia seni kontemporer yang serba cepat dan sensasional. Ia memilih berjalan perlahan, menjaga ritme batinnya sendiri. Lukisan-lukisannya lahir bukan untuk mengejutkan mata, melainkan untuk mengendap di hati.
Karena itu, bertemu Heriwanto terasa seperti bertemu seseorang yang sedang menjaga api kecil agar tetap menyala di tengah angin kencang. Bukan api yang berkobar besar dan membakar habis, melainkan nyala yang sabar, stabil, dan hangat.
Kini, di usia yang tak lagi muda, hari-harinya diisi dengan hal-hal sederhana: melukis, merawat bonsai, menghadiri pameran rekan-rekannya, berbincang dengan sesama perupa, atau sekadar menikmati kopi sambil memandangi daun-daun yang bergerak tertiup angin pagi.
Namun, justru dari kesederhanaan itu, Heriwanto memperlihatkan sesuatu yang langka di zaman serba bising ini: ketekunan menjalani hidup sebagai sebuah proses kreatif yang utuh. Ia tidak memburu popularitas sesaat. Ia hanya terus berkarya.
Seperti bonsai yang dirawat bertahun-tahun hingga menemukan bentuk terbaiknya, Heriwanto menapaki hidup dengan cara yang sama: pelan, teliti, dan setia pada proses. Dan mungkin, di situlah seni menemukan maknanya yang paling sunyi dan mendalam.
Ke depan, Heriwanto memiliki rencana untuk menggelar pameran tunggal sebagai penanda jejak kiprahnya selama puluhan tahun sebagai pelukis. Karya-karya lamanya, termasuk yang pernah menghiasi Hotel Horison Antawirya Undip Tembalang, akan menjadi bagian dari narasi besar tersebut.
“Tinggal menunggu waktunya saja,” ujarnya serius, sambil matanya kembali tertuju pada sebatang bonsai yang sedang ia pangkas dengan penuh cinta. Bagi Heriwanto, waktu bukanlah musuh yang harus dikejar, melainkan sahabat yang harus dipahami. (Christian Saputro)




