Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
Di pesisir barat Banten, angin laut kadang terdengar seperti membawa sesuatu dari masa lampau. Ia datang bersama bau asin ombak yang menusuk, bersama suara burung-burung laut yang melintas rendah di atas Selat Sunda, dan bersama legenda yang dituturkan pelan-pelan oleh para tetua: tentang sebuah negeri tua yang hilang, ditelan bencana tanpa sisa.
Namanya Salakanegara.
Dalam lembaran-lembaran naskah kuno Nusantara, kerajaan ini kerap disebut sebagai salah satu peradaban awal di tanah Jawa bagian barat. Sebuah entitas maritim yang hidup dari denyut nadi pelayaran, perdagangan, dan hubungan antarpulau di kawasan yang kini kita kenal sebagai Banten. Namun, jejaknya kabur. Tidak semegah Majapahit yang meninggalkan candi-candi megah. Tidak sejelas Sriwijaya yang menguasai jalur sutra laut. Salakanegara seperti bayangan yang muncul sebentar dalam sejarah, lalu lenyap tanpa makam, tanpa prasasti batu yang utuh.
Dan mungkin, memang laut yang menyimpannya.
Ada satu kisah yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda dan Banten: letusan Krakatau purba. Sebuah ledakan dahsyat yang diyakini terjadi sekitar abad ke-5 atau ke-6 Masehi—jauh sebelum letusan 1883 mengguncang dunia modern dan mengubah iklim global.
Konon, letusan itu begitu besar hingga mampu menulis ulang bentuk bumi.
Gunung raksasa di kawasan Selat Sunda meledak. Tubuhnya runtuh ke dalam laut, memicu air bangkit menjadi dinding raksasa yang menyapu pesisir-pesisir Nusantara bagian barat. Tsunami purba itu dipercaya menghancurkan pelabuhan-pelabuhan, menelan permukiman, dan memutus jalur perdagangan yang menjadi urat nadi ekonomi Salakanegara.
Sejarah lalu berubah bukan oleh pedang, invasi, atau perebutan takhta, melainkan oleh gelombang air.
Kajian geologi modern memang menemukan indikasi bahwa kawasan Selat Sunda pernah mengalami letusan katastrofik purba. Para peneliti memperkirakan ledakan besar itu memengaruhi struktur geografis kawasan, termasuk membentuk konfigurasi Selat Sunda seperti sekarang—memisahkan Jawa dan Sumatra dengan lebih tegas daripada sebelumnya.
Tetapi di luar data ilmiah yang dingin, masyarakat menyimpan narasi yang lebih puitik dan traumatis: laut pernah naik dan membawa pergi sebuah peradaban.
Barangkali karena itulah Salakanegara selalu terasa lebih dekat pada mitos ketimbang sejarah resmi.
Tidak banyak reruntuhan istana yang bisa disentuh tangan. Yang ada justru serpihan cerita: tentang pelabuhan yang tenggelam, tentang penduduk yang panic melarikan diri ke pedalaman, tentang kerajaan yang perlahan pudar dari peta kekuasaan.
Banten pada masa itu kemungkinan bukan sekadar wilayah agraris statis. Ia adalah kawasan pesisir dinamis yang hidup dari lalu lintas laut. Kapal-kapal dagang melintas membawa rempah, logam, kain, dan cerita dari negeri-negeri jauh. Laut adalah halaman depan kehidupan mereka; sumber rezeki sekaligus identitas.
Maka ketika laut berubah menjadi musuh, seluruh peradaban ikut goyah.
Tsunami tidak hanya menghancurkan fisik rumah dan pelabuhan. Ia menghancurkan ingatan kolektif sebuah masyarakat. Jalur perdagangan terputus. Aktivitas ekonomi lumpuh. Pusat kekuasaan yang berada di pesisir mungkin hilang begitu saja, tertimbun sedimen atau terseret arus. Mereka yang selamat terpaksa bergerak ke pedalaman, membangun kehidupan baru sambil membawa trauma yang kelak diwariskan menjadi legenda.
Mungkin itulah sebabnya dalam banyak kebudayaan Nusantara, laut selalu diperlakukan dengan hormat sekaligus takut. Ia memberi kehidupan, tetapi sewaktu-waktu bisa mengambil semuanya kembali dengan kejam.
Kisah Salakanegara juga memperlihatkan betapa rapuhnya sebuah peradaban di hadapan alam. Kita sering membayangkan kerajaan runtuh karena intrik politik atau perang saudara. Tetapi kadang sejarah bekerja dengan cara yang lebih sunyi dan mengerikan: gunung meledak, laut naik, lalu manusia lenyap dari halaman waktu, meninggalkan hanya keheningan.
Dan setelah berabad-abad, yang tersisa hanyalah cerita.
Cerita yang hidup di sela-sela naskah kuno seperti Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara, cerita yang diperdebatkan para sejarawan, sekaligus dicari pembuktiannya oleh para arkeolog dan ahli geologi.
Memang tidak semua kisah tentang Salakanegara dapat diverifikasi secara mutlak. Sejarah awal Nusantara sering berdiri di wilayah samar antara fakta, ingatan, dan mitologi. Namun justru di situlah daya tariknya. Ia mengingatkan bahwa sejarah bukan selalu tentang kepastian beton, melainkan juga tentang usaha manusia membaca jejak-jejak yang hampir hilang.
Dan di Banten, jejak itu seperti masih bersembunyi di balik ombak Selat Sunda.
Mungkin di dasar laut yang gelap, di bawah lapisan pasir dan karang, masih ada sisa pelabuhan tua, pecahan gerabah, atau fondasi permukiman yang dulu ramai oleh suara tawar-menawar pedagang. Mungkin laut belum benar-benar menghapusnya. Ia hanya menyimpannya terlalu dalam, sebagai rahasia yang dijaga oleh kedalaman air.
Sebab peradaban, sesungguhnya, tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hidup dalam cerita yang terus diceritakan kembali, dari generasi ke generasi, selama angin laut masih berhembus di pesisir Banten. (*)




