Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis – pemerhati budaya
Di sebuah ruangan budaya di Klub Merby, suara pendingin ruangan nyaris kalah oleh bunyi lirih ketika sebilah keris perlahan ditarik dari warangkanya. Aroma kayu cendana dan besi tua samar menguar di udara. Puluhan finalis Denok-Kenang 2026 yang sejak tadi riuh bercakap, mendadak terdiam.
Di hadapan mereka, Agus Budi Santoso memegang keris itu dengan dua tangan, penuh kehati-hatian, seolah sedang menyentuh sesuatu yang hidup.
“Keris bukan senjata,” katanya pelan. “Ia adalah perjalanan batin manusia Jawa.”
Kalimat itu meluncur tenang di ruang yang siang itu terasa cukup gerah. Namun para finalis tetap duduk rapat mengelilingi meja panjang, memperhatikan setiap detail lekuk bilah keris yang berkilau redup diterpa cahaya lampu.
Bagi sebagian besar generasi muda hari ini, keris mungkin hanya dikenal sebagai benda pusaka yang identik dengan mistik atau pajangan seremoni. Tetapi di tangan Agus Budi Santoso, keris berubah menjadi pintu masuk untuk memahami filsafat Jawa yang panjang dan rumit.
Satu per satu ia memperlihatkan bagian keris: warangka, gagang, bilah, hingga pamor yang membentuk motif samar seperti aliran sungai atau guratan awan. Para finalis diminta memperhatikan dengan saksama, sebab dalam tradisi Jawa, setiap detail pada keris mengandung makna.
Ada pamor yang dipercaya melambangkan keteguhan hidup. Ada yang menjadi simbol kewibawaan, perlindungan, hingga harapan akan kesejahteraan.
Namun Agus Budi Santoso buru-buru meluruskan satu hal.
“Keris jangan dipahami secara klenik,” ujarnya. “Yang paling penting justru nilai budayanya, nilai etikanya.”
Penjelasan itu terasa sejalan dengan upaya pelestarian budaya keris yang belakangan terus digaungkan berbagai kalangan budaya di Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan juga mendorong literasi dan edukasi tentang keris agar generasi muda memahami keris sebagai warisan budaya adiluhung, bukan sekadar benda mistis.
Di meja lain, beberapa finalis mencoba memegang warangka keris dengan hati-hati. Ada yang tampak gugup, ada pula yang penasaran memperhatikan guratan pamor di permukaan bilah. Sesekali terdengar pertanyaan kecil tentang mengapa bentuk keris bisa berlekuk, mengapa jumlah luk berbeda-beda, dan mengapa keris selalu dianggap sakral dalam budaya Jawa.
Agus menjelaskan bahwa luk pada keris bukan sekadar estetika. Jumlahnya mengandung simbol dan harapan tertentu. Keris lurus melambangkan keteguhan dan kejujuran, sementara keris berluk menggambarkan dinamika hidup manusia yang tidak pernah benar-benar lurus.
Pelajaran budaya siang itu berjalan seperti percakapan panjang tentang manusia Jawa sendiri: tenang di luar, tetapi penuh lapisan makna di dalam.
Kegiatan pembelajaran keris tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembekalan budaya bagi finalis Denok-Kenang di Klub Merby. Selain belajar tentang keris, para peserta juga dikenalkan pada filosofi kendi, wayang, rempah Nusantara, hingga tradisi Semarangan lainnya.
Bagi ajang Denok-Kenang, pembelajaran seperti ini bukan sekadar tambahan acara karantina. Para finalis dipersiapkan bukan hanya menjadi wajah pariwisata Kota Semarang, tetapi juga generasi yang memahami akar budayanya sendiri.
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat dan digital, keris mungkin tampak seperti benda dari masa lalu. Bilah besi tua yang diam di dalam warangka kayu.
Tetapi siang itu, di tangan Agus Budi Santoso, keris terasa hidup kembali.
Bukan sebagai pusaka yang ditakuti, melainkan sebagai cermin tentang bagaimana manusia seharusnya menjaga martabat, mengendalikan diri, dan menghormati sejarah panjang leluhurnya. (*)




