Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Di Gang Pinggir, Semarang, malam itu menolak bau knalpot.
Ia memilih aroma lain:
Asap dupa yang merayap seperti doa yang kehilangan kata,
dan wangi tajam bunga sedap malam—
bunga yang hanya mekar penuh
saat dunia tertidur lelap,
atau saat dunia sedang menangis tanpa suara.
Di aula Boen Hian Tong, cahaya tidak berani terlalu terang.
Ia hanya menyelimuti puluhan tubuh yang berdiri berhadapan,
seperti cermin retak yang mencoba menyusun ulang wajah bangsa.
Di lengan kiri mereka, melingkar pita hitam.
Bukan kain kafan untuk mayat yang sudah dingin,
melainkan sumpah sunyi bagi ingatan yang masih panas.
Mereka membentuk “Barisan Doa”,
benteng manusia melawan arus waktu yang haus menghapus.
Mei 1998.
Bagi sebagian orang, itu adalah bab sejarah yang sudah dijilid rapi,
disimpan di rak paling atas, berdebu, tak lagi disentuh.
Bagi yang lain, ia adalah luka yang belum kering,
nanah yang pecah diam-diam di bawah kulit peradaban kita,
mengingatkan bahwa kita masih berjalan di atas pecahan kaca.
Malam itu, sejarah tidak dibacakan dari buku teks yang steril.
Sejarah dikunyah. Ditelan. Dirasakan melalui lidah.
Harjanto Halim berbicara tentang pare.
Tentang buah keriput yang dipilih bukan karena enak,
tapi karena ia jujur pada rasa aslinya.
Pare itu pahit.
Dan dalam ritual ini, pare dimakan mentah.
Tidak direbus hingga lunak oleh kemunafikan.
Tidak digoreng hingga garing oleh lupa.
Tidak diberi gula berlebihan untuk menipu langit-langit mulut.
“Sejarah pahit harus dihadapi apa adanya,” katanya.
Suara itu jatuh ke lantai, bergema di dada para peserta.
Saat ulekan batu menghancurkan sambal kecombrang,
dan potongan pare masuk ke mulut,
getirnya menusuk seperti pisau kecil.
Itu adalah metafora fisik yang brutal:
Kita tidak bisa menelan nasib bangsa ini
jika kita terus-menerus mencari pemanis buatan.
Kita harus menelan kepahitannya.
Rasa mual yang muncul adalah harga mahal dari kesadaran.
Bahwa kita pernah menjadi monster.
Bahwa kita pernah diam.
Namun, di samping pahit, ada ungu.
Nasi ulam berwarna ungu dari bunga telang,
dan harum kecombrang yang menusuk hidung.
Itu janji kecil:
Bahwa di balik tanah yang hangus, akar masih bisa tumbuh.
Bahwa penyembuhan bukan berarti melupakan rasa sakit,
tapi belajar hidup bersamanya.
Lalu, Venty membacakan puisi.
“Prasasti Kebenaran Keberanian.”
Ia memanggil nama Ita Martadinata Haryono.
Nama yang mungkin asing bagi mereka yang lahir setelah reformasi,
namun merupakan lonceng kematian bagi nurani kita.
Ita tewas misterius,
tepat sebelum sayap pesawat membawanya ke Jenewa,
ke markas PBB,
untuk bersaksi tentang jeritan perempuan Tionghoa
yang diperkosa massal di Jakarta yang terbakar.
Puisi itu menggambarkan api.
Jeritan.
Dan seorang gadis muda yang memilih untuk tidak bungkam,
bahkan ketika kematian sudah mengetuk pintu kamar hotelnya.
“Ita dikenang bukan hanya sebagai korban,”
bisik doa yang dilangitkan kepada Huang Tian Shang Di,
“tetapi sebagai simbol keteguhan memegang kebenaran.”
Konfusius berbisik lewat angin malam:
Melupakan leluhur berarti kehilangan ren (cinta kasih).
Tapi menganggap masa lalu suci tanpa kritik berarti kehilangan zhi (kebenaran).
Kita butuh keduanya.
Cinta kasih untuk memaafkan diri sendiri,
Kebenaran untuk tidak mengulangi kejahatan yang sama.
Dan kemudian, panggung bergeser.
Dari altar leluhur ke ruang diskusi yang dingin dan kontemporer.
Dari tragedi kolektif tahun 1998
ke tragedi domestik tahun 2026.
Sherly Chebing naik ke panggung.
Sebelumnya, ia lincah. Menari. Penuh energi.
Wajah publik yang biasa kita konsumsi di layar kaca,
tanpa noda, tanpa retak.
Namun, ketika lampu sorot meredup,
topeng itu lepas.
Suaranya bergetar, bukan karena gugup,
tapi karena beban rahasia yang akhirnya diletakkan.
“Ilustrasi kehidupan saya tampak biasa dari luar,” katanya.
“Tapi di dalam, saya menjalani hari demi hari dengan sulit.”
Kesaksian Sherly adalah jembatan yang runtuh sekaligus terbangun.
Ia menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan
tidak berakhir pada Mei 1998.
Ia hanya berubah wujud.
Ia menyusup masuk ke ruang tamu,
ke kamar tidur,
ke dalam diam-diam keluarga yang sibuk “menjaga aib”.
Sherly memberitahu kita bahwa “melawan lupa”
bukan hanya soal mengingat kerusuhan massal di jalanan,
tapi juga berani melihat kekerasan
yang terjadi di sebelah rumah kita,
atau mungkin,
di dalam rumah kita sendiri.
Denti Ariani dari Komnas Perempuan menutup lingkaran itu
dengan kalimat yang tajam seperti pedang:
“Bangsa yang kehilangan ingatan dan perasaannya
akan kehilangan kemanusiaannya.”
Mei 1998, menurut Denti, bukan sekadar kerusuhan.
Ia adalah catatan gelap tentang bagaimana gender, etnis, dan kekuasaan
bersatu padu menghancurkan martabat manusia.
Dan upaya membungkam korban—
baik Ita di tahun 1998 maupun Sherly di tahun 2020—
adalah pola yang sama.
Pola yang ingin kita patahkan malam itu.
Saat acara berakhir,
kelompok musik Lamkwan memainkan “Mo Li Hua” (Melati).
Lagu tradisional Tiongkok yang lembut,
melayang di antara aroma dupa yang masih tersisa
dan bau pare yang masih menempel di lidah.
Pahit dan harum. Duka dan harapan.
Para peserta keluar dari aula.
Mereka tidak pulang dengan perasaan hampa.
Mereka pulang dengan rasa pahit di mulut,
namun ringan di hati.
Karena mereka tahu,
mereka telah melakukan satu hal paling revolusioner
yang bisa dilakukan warga negara di tengah amnesia massal:
Mengingat.
Mereka mengingat Ita.
Mereka mengingat para korban Mei 98.
Mereka mendengarkan Sherly.
Dan mereka berjanji, melalui pita hitam di lengan kiri,
bahwa mereka tidak akan membiarkan sejarah menjadi abu.
Mereka akan menjadikannya benteng.
Karena ingatan, sepahit apapun rasanya,
adalah satu-satunya cara kita memastikan
bahwa masa depan tidak akan mengulang
kelamnya masa lalu.
Semarang 23 Mei 2026




