SELAT SUNDA — Di Selat Sunda, laut tidak selalu berwarna biru.
Pada hari-hari tertentu dalam sejarah, ia berubah menjadi lembaran hitam pekat yang menelan daratan, rumah-rumah, pohon kelapa, perahu, dan manusia. Laut menjelma menjadi raksasa yang bangkit dari tidur panjangnya. Dan di balik kemarahan itu, berdirilah sebuah gunung yang namanya kemudian menggema hingga ke ujung dunia: Krakatau.
Pagi 27 Agustus 1883, langit Nusantara pecah.
Dentuman yang lahir dari perut Krakatau bukan sekadar suara letusan gunung api. Ia adalah teriakan bumi yang melampaui batas pendengaran manusia. Para pelaut di Samudra Hindia terperanjat. Penduduk di pesisir Banten dan Lampung berlarian tanpa tahu ke mana harus menyelamatkan diri. Bahkan ribuan kilometer jauhnya, di Australia Barat, ledakan itu masih terdengar seperti meriam raksasa yang ditembakkan dari ujung dunia.
Sejarah kemudian mencatatnya sebagai salah satu suara paling keras yang pernah dihasilkan alam.
Namun, suara itu hanyalah awal dari kiamat kecil.
Ketika sebagian tubuh Krakatau runtuh ke dalam laut, air tersentak hebat. Laut yang semula tenang mendadak terangkat menjadi dinding-dinding raksasa. Gelombang setinggi puluhan meter melesat menuju daratan dengan kecepatan yang tak sempat dikejar oleh doa. Dalam hitungan menit, kampung-kampung pesisir hilang dari peta. Anyer luluh lantak. Pelabuhan dan mercusuar roboh seperti mainan anak-anak. Di pesisir Lampung, keluarga-keluarga tercerai-berai oleh arus yang tak memberi kesempatan untuk berpamitan.
Lebih dari 36.000 jiwa diperkirakan lenyap dalam sekejap.
Tidak ada sirene. Tidak ada sistem peringatan dini. Yang tersisa hanyalah kisah-kisah duka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, menjadi luka kolektif yang tak pernah benar-benar kering.
Bahkan setelah ombak surut, kedahsyatan Krakatau belum selesai. Abu vulkanik membumbung tinggi, memasuki stratosfer dan menyebar ke seluruh penjuru bumi. Langit di London, New York, hingga Tokyo berubah warna menjadi jingga kemerahan yang asing. Matahari tampak redup, seolah enggan menyinari bumi yang baru saja berguncang. Suhu global menurun. Gelombang tekanan dari letusan itu tercatat mengitari bumi berkali-kali, seolah planet ini ikut bergetar, menyimpan ingatan tentang kemarahan sebuah gunung di Nusantara.
Krakatau tidak hanya mengubah garis pantai.
Ia mengubah cara manusia memandang alam.
Ingatan yang Kembali pada 2018
Seratus tiga puluh lima tahun kemudian, alam kembali mengingatkan manusia bahwa kisah itu belum berakhir.
Malam 22 Desember 2018. Banyak orang sedang menikmati akhir pekan di pesisir Banten dan Lampung Selatan. Suasana santai, tawa anak-anak, dan deburan ombak yang biasa. Namun, di kedalaman selat, Anak Krakatau—gunung muda yang lahir dari reruntuhan letusan 1883—mengalami longsoran besar di lereng selatannya.
Tidak ada gempa besar yang dirasakan di darat.
Tidak ada tanda-tanda yang bisa dibaca oleh masyarakat awam.
Tiba-tiba, gelombang datang.
Restoran di tepi pantai tersapu. Hotel-hotel porak-poranda. Kendaraan berguling diterjang air hitam yang dingin. Dalam gelap malam, orang-orang berlarian mencari tempat tinggi, sementara laut mengambil kembali ruang yang selama ini mereka huni dengan angkuh.
Sekali lagi, Selat Sunda membuktikan bahwa gunung api dan laut adalah pasangan yang tidak pernah benar-benar terpisahkan. Mereka menyimpan energi yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan tanpa permisi. Dan manusia, betapapun modernnya teknologi yang ia miliki, tetap belajar untuk menjadi makhluk yang kecil di hadapan keduanya.
Namun, tragedi memiliki cara yang unik untuk bertahan hidup.
Ia tidak hanya tinggal dalam buku sejarah, laporan geologi, atau arsip berita. Ia juga hidup di dalam seni. Karena ketika kata-kata gagal menggambarkan horor, warna dan bentuk sering kali berhasil menyentuh sisi paling dalam dari ingatan manusia.
Krakatau di Atas Kanvas
Di studio kerjanya, perupa Bambang Suroboyo (SBY) memandangi kembali kisah yang pernah mengguncang dunia itu. Bukan melalui angka-angka korban atau peta zona bahaya, melainkan melalui bahasa warna, tekstur, dan sapuan kuas yang penuh tensi.
Bagi Bambang, Krakatau bukan sekadar objek geografis atau fenomena vulkanologi.
Ia adalah simbol kekuatan alam yang mampu mengingatkan manusia akan batas-batas dirinya. Bahwa di atas segala ambisi pembangunan, alam tetap memegang kendali tertinggi.
Melalui karya bertajuk “Dahsyatnya Tsunami Krakatau”, Bambang berusaha menghadirkan kembali momen ketika laut bangkit menjadi raksasa. Ombak yang menjulang, langit yang membara, dan tubuh gunung yang memuntahkan energi bumi tampil bukan hanya sebagai pemandangan estetis, melainkan sebagai pengalaman batin yang mencekam.
Di atas kanvas, sejarah tidak dibaca.
Ia dirasakan.
Karya itu lahir dari sebuah gagasan artistik yang disebut Bambang sebagai Realis Ekspresif Avonturisme. Sebuah pendekatan yang memadukan ketepatan bentuk ala realisme—agar penonton tetap mengenali objeknya—dengan keberanian ekspresi warna serta semangat penggambaran peristiwa-peristiwa agung yang mengguncang peradaban.
Gunung tetap tampak sebagai gunung.
Laut tetap tampak sebagai laut.
Namun, warna-warna yang menyala merah dan jingga, kontras gelap-terang yang dramatis, dan goresan kuas yang penuh tenaga membuat semuanya seperti bergerak, keluar dari bingkai, menerjang mata penonton.
Penonton tidak hanya melihat tsunami.
Mereka seperti mendengar gemuruh ombaknya yang memecah gendang telinga.
Tidak hanya menyaksikan letusan.
Mereka seolah merasakan getaran tanah yang terbelah di bawah telapak kaki mereka.
Dalam pandangan Bambang, seni bukanlah sekadar upaya menyalin kenyataan secara mekanis. Seni adalah usaha menangkap “jiwa” dari sebuah peristiwa. Karena sering kali, yang paling penting dari sejarah bukanlah fakta apa yang terjadi, melainkan apa yang dirasakan manusia ketika menghadapinya: ketakutan, ketidakberdayaan, dan kekaguman yang bercampur aduk.
Di situlah kanvas menjadi ruang perjumpaan antara fakta dan emosi.
Antara geologi dan kemanusiaan.
Antara bencana dan perenungan.
Menjaga Api Ingatan
Krakatau telah meledak, runtuh, dan melahirkan dirinya kembali. Siklus ini mungkin akan terus berulang selama bumi masih panas di dalamnya. Ia mengajarkan bahwa alam memiliki cara sendiri untuk berbicara. Kadang melalui dentuman yang terdengar hingga ribuan kilometer. Kadang melalui gelombang yang melintasi samudra. Kadang pula melalui karya seni yang mengabadikan ingatan kolektif manusia agar tidak pudar dimakan waktu.
Dan ketika sejarah perlahan memudar dari ingatan publik, ketika generasi baru mungkin lupa betapa rapuhnya mereka di depan alam, para seniman seperti Bambang Suroboyo berusaha menjaga nyalanya tetap hidup.
Sebab beberapa peristiwa terlalu besar untuk sekadar dicatat dalam angka.
Mereka harus dilihat.
Dirasakan.
Dan dikenang.
Melalui kanvas, Krakatau kembali mengaum. Bukan untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan: bahwa kita hanyalah tamu di bumi ini, dan tuan rumahnya bisa bangun kapan saja. (Christian Saputro)




