SEMARANG – Perayaan kedatangan Kimsin Kongco Baosheng Dadi (保生大帝) tahun 2026 di Klenteng Tay Kak Sie Semarang berlangsung lebih dari sekadar ritual keagamaan. Momen istimewa ini ditandai dengan peneguhan hubungan sejarah antara Semarang dan Provinsi Fujian, Tiongkok, melalui penyerahan salinan prasasti kuno oleh delegasi budaya dari Zhangzhou.
Klenteng Tay Kak Sie menerima kunjungan delegasi dari Zhangzhou Baijiao Ciji Zugong Management Committee, pengelola kuil leluhur Baosheng Dadi di Baijiao, Fujian. Kedatangan mereka membawa artefak bersejarah berupa salinan prasasti yang mengungkap jejak hubungan erat antara komunitas Tionghoa Semarang dengan tanah leluhur mereka sejak abad ke-19.
Jejak Tokoh Legendaris dalam Prasasti
Prasasti tersebut memuat nama-nama tokoh terkemuka Semarang tempo doeloe yang tercatat sebagai dermawan bagi pembangunan atau kegiatan di Kuil Leluhur Baijiao. Di antara nama yang tercantum adalah Mayor Tan Tjong Hoay, Mayor Mbee Biaw Tjwan, serta pengusaha legendaris Oei Tiong Ham, yang dikenal sebagai salah satu konglomerat terbesar di Asia pada awal abad ke-20.
Menurut catatan yang dibawa delegasi Fujian, ketiga tokoh tersebut bersama tiga mayor Tionghoa Semarang lainnya menyumbangkan sejumlah uang gulden kepada kuil leluhur di Baijiao. Fakta ini membuktikan adanya hubungan spiritual, sosial, dan ekonomi yang kuat antara komunitas Tionghoa perantauan di Semarang dengan kampung halaman mereka di Fujian, lebih dari satu setengah abad lalu.
Temuan ini sekaligus memperkuat narasi sejarah mengenai kedatangan Kimsin Kongco Baosheng Dadi ke Semarang sekitar 166 tahun silam. Patung suci yang hingga kini dipuja di Tay Kak Sie diyakini didatangkan melalui jaringan tokoh dan saudagar Tionghoa terkemuka yang memiliki ikatan batin dengan Baijiao, pusat pemujaan Baosheng Dadi di Tiongkok.
Jembatan Persaudaraan Lintas Generasi
Bagi masyarakat Tionghoa Semarang, prasasti tersebut bukan sekadar dokumen lama. Ia menjadi bukti konkret bahwa hubungan antara Semarang dan Baijao telah terjalin lintas generasi melalui jalur perdagangan, filantropi, dan keyakinan keagamaan.
Ketua rombongan delegasi Fujian menyatakan bahwa penyerahan salinan prasasti merupakan bentuk penghormatan kepada para pendahulu. “Melalui dokumen ini, generasi masa kini dapat memahami bahwa komunitas Tionghoa perantauan di Nusantara memiliki kontribusi penting dalam perkembangan kuil-kuil leluhur di kampung halaman mereka,” ujarnya.
Kehadiran prasasti bersejarah tersebut menciptakan momen emosional bagi warga Semarang. Nama-nama yang selama ini dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah kota ternyata tidak hanya berperan dalam pembangunan ekonomi dan sosial di Hindia Belanda, tetapi juga aktif menjaga hubungan budaya dengan tanah leluhur.
Simbol Identitas Kota Pelabuhan
Perayaan tahun ini menjelma menjadi ruang perjumpaan sejarah, ketika jejak para mayor dan saudagar Semarang abad ke-19 kembali hadir melalui sebuah prasasti yang melintasi lautan dan waktu.
Di tengah arus modernisasi, penemuan kembali dokumen berusia lebih dari satu abad itu mengingatkan bahwa identitas sebuah kota dibangun oleh jejaring hubungan lintas bangsa, lintas budaya, dan lintas generasi. Semarang, melalui Tay Kak Sie dan warisan Baosheng Dadi, kembali menemukan salah satu simpul penting dari sejarah panjangnya sebagai kota pelabuhan yang terbuka bagi dunia. (Christian Saputro)




