Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro – Pemerhati Budaya Tradisi tinggal di Semarang
Jalan Panjang Menuju Kemenangan dalam Falsafah Jawa
Siang merambat pelan di Jalan Mataram, Semarang.
Matahari berdiri tegak di atas kota. Udara menghangat. Dari luar, Klub Merby tampak seperti bangunan biasa yang dikepung lalu-lalang kendaraan dan kesibukan kota yang tak pernah benar-benar berhenti.
Namun di dalam ruangan itu, waktu berjalan dengan irama berbeda.
Para seniman, budayawan, dan pegiat komunitas duduk melingkar dalam suasana akrab. Gelak tawa sesekali pecah. Percakapan mengalir ringan. Mereka berkumpul untuk mensyukuri keberhasilan Wayang On The Street Go To Netherland, sebuah perjalanan budaya yang membawa wayang keluar dari ruang pertunjukan, menyusuri jalan-jalan kota, lalu menyeberangi lautan menuju Belanda.
Di atas meja terhidang sesuatu yang sederhana.
Sebungkus bubur sumsum.
Putih.
Lembut.
Nyaris tanpa kemewahan.
Namun justru dari situlah percakapan siang itu menemukan kedalamannya.
Budayawan A. Sri Paminto Widi Legowo berdiri di depan hadirin. Tidak ada pidato panjang tentang capaian internasional. Tidak ada kisah heroik tentang perjalanan ke Eropa. Ia memilih berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan keseharian masyarakat Jawa.
Tentang jenang sumsum.
“Orang sekarang sering menganggap bubur sumsum hanya makanan tradisi,” katanya.
Ia berhenti sejenak.
“Padahal di dalamnya tersimpan doa yang sangat panjang.”
Ruangan mendadak sunyi.
Paminto kemudian mengurai sebuah ajaran tua yang diwariskan turun-temurun dalam kebudayaan Jawa.
Neng. Ning. Nung. Nang.
Empat kata pendek yang sesungguhnya merupakan peta perjalanan manusia menuju kesempurnaan hidup.
Menurut Paminto, falsafah itu berasal dari kata Heneng, Hening, Henung, dan Henang.
Tahapan pertama adalah Neng.
Heneng.
Diam.
Berhenti sejenak dari kegaduhan dunia.
Sebelum menentukan tujuan, manusia harus mampu menenangkan dirinya sendiri. Sebab dalam keadaan gaduh, orang sering kehilangan arah. Dalam keadaan penuh amarah, keputusan lahir tanpa kebijaksanaan.
Maka orang Jawa diajarkan untuk heneng terlebih dahulu.
Diam bukan berarti pasif.
Diam adalah proses mendengarkan.
Mendengarkan suara hati.
Mendengarkan nurani.
Dari heneng lahirlah tahap berikutnya.
Ning.
Hening.
Bening.
Jernih.
Setelah mampu diam, manusia mulai melihat segala sesuatu dengan lebih terang. Pikiran yang semula keruh perlahan menjadi jernih. Tujuan menjadi jelas. Niat menemukan bentuknya.
Di titik inilah seseorang menentukan arah hidupnya.
Ke mana akan melangkah.
Untuk apa ia bekerja.
Apa yang hendak dicapai.
“Dalam budaya Jawa, orang harus menang dulu dalam hatinya,” kata Paminto.
Menang dalam arti menemukan keyakinan.
Menemukan kejelasan.
Menemukan niat yang lurus.
Setelah itu barulah manusia memasuki tahapan ketiga.
Nung.
Henung.
Kuat.
Teguh.
Mantap.
Apa yang semula hanya niat dan gagasan mulai diwujudkan menjadi tindakan nyata. Orang bermusyawarah, menyusun rencana, membagi tanggung jawab, lalu bekerja bersama-sama.
Kejernihan berubah menjadi kekuatan.
Kesadaran berubah menjadi keteguhan.
Pada tahap inilah manusia diuji oleh kesabaran, konsistensi, dan kemampuannya menjaga tujuan.
Karena tidak ada kemenangan yang lahir dari niat semata.
Kemenangan membutuhkan daya tahan.
Dan ketika seluruh proses itu dijalani dengan sungguh-sungguh, sampailah manusia pada tahap terakhir.
Nang.
Henang.
Menang.
Namun kemenangan dalam pandangan Jawa bukanlah kemenangan yang dirayakan dengan kesombongan.
Bukan kemenangan atas orang lain.
Melainkan kemenangan atas diri sendiri.
Menang karena berhasil menyelesaikan amanah.
Menang karena mampu menjaga niat sejak awal.
Menang karena mampu mengalahkan kemalasan, ego, dan keputusasaan.
Siang itu, falsafah Neng-Ning-Nung-Nang terasa begitu dekat dengan perjalanan Wayang On The Street sendiri.
Program yang bermula dari jalanan, dikerjakan secara gotong royong, dan dijalankan dengan segala keterbatasan akhirnya berhasil membawa wayang menyeberangi samudra.
Sebuah perjalanan yang juga lahir dari heneng, tumbuh dalam hening, dikuatkan oleh henung, lalu sampai pada henang.
Tetapi bagi Paminto, kemenangan bukanlah titik akhir.
Justru setelah menang, manusia wajib bersyukur.
Dan di situlah bubur sumsum menemukan maknanya.
Warna putihnya melambangkan kembalinya manusia pada kesucian hati.
Setelah pekerjaan selesai.
Setelah energi terkuras.
Setelah berbagai kesalahan dan kekurangan muncul selama perjalanan.
Semua diajak melakukan evaluasi.
Saling memaafkan.
Saling membersihkan diri.
“Kita kembali menjadi putih,” ujarnya.
Seperti bubur yang telah menyatu.
Tidak lagi bisa dipisahkan mana yang lebih berjasa dan mana yang kurang berjasa.
Semua telah melebur menjadi satu.
Menjadi pengalaman bersama.
Menjadi kemenangan bersama.
Paminto lalu tersenyum ketika menyinggung anggapan sebagian orang yang menganggap tradisi sebagai sesuatu yang tidak masuk akal.
Menurutnya, persoalannya bukan pada tradisinya.
Melainkan pada hilangnya kemampuan membaca simbol.
Padahal jika ditelusuri lebih jauh, banyak tradisi Jawa yang justru memiliki dasar rasional.
Bubur sumsum misalnya.
Secara filosofis ia menjadi simbol pemulihan batin.
Secara ilmiah ia juga membantu pemulihan tubuh.
Terbuat dari tepung beras, santan, dan gula, makanan ini mengandung energi yang mudah diserap setelah seseorang menjalani aktivitas berat.
Leluhur mungkin tidak mengenal istilah kalori atau metabolisme.
Tetapi mereka memahami hakikat pemulihan.
Di luar gedung, Semarang terus bergerak.
Kendaraan melintas tanpa henti.
Bangunan-bangunan baru terus tumbuh.
Waktu berjalan seperti biasa.
Namun siang itu, di sebuah ruang sederhana, para pelaku budaya sedang merawat sesuatu yang jauh lebih tua daripada kota itu sendiri.
Kebijaksanaan.
Mereka merayakan keberhasilan sebuah perjalanan budaya ke negeri jauh.
Tetapi lebih dari itu, mereka sedang mengingat kembali jalan panjang yang membuat kemenangan itu mungkin terjadi.
Dimulai dari heneng.
Dilanjutkan dengan hening.
Dikuatkan oleh henung.
Dan berakhir pada henang.
Mungkin itulah sebabnya orang Jawa memilih bubur sumsum sebagai hidangan syukur.
Karena kemenangan sejati bukanlah ketika nama kita dikenal dunia.
Melainkan ketika setelah semua selesai, kita mampu kembali memutihkan hati.
Kembali diam.
Kembali bening.
Dan siap memulai perjalanan baru.
Dari Neng.
Menuju Ning.
Lalu Nung.
Dan akhirnya Nang.
Semarang, 23 Juni 2026




