SEMARANG – Warga Kampung Ranting Pelangi, Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, kembali menghidupkan denyut tradisi melalui Festival Sobo Roworejo V bertajuk “Naliko Semono” (Pada Waktu Itu), Minggu (5/7/2026). Mengusung semangat gotong royong, festival ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk merawat ingatan kolektif sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada generasi muda.
Pusat perhatian festival adalah Kirab Gunungan Polowijo, arak-arakan hasil bumi yang menjadi simbol rasa syukur atas keberkahan alam dan hasil pertanian. Gunungan diarak dari Kantor Kelurahan Wonolopo menuju kawasan Sendang Belik hingga RW 3 Wonolopo, diiringi berbagai pertunjukan seni tradisional yang melibatkan masyarakat setempat.
Selain kirab gunungan, rangkaian acara juga dimeriahkan Kirab Sendang Belik, Tari Emprit, Aksi Sapta Pesona, penampilan Kuda Lumping Turonggo Cipto Budoyo, serta sambutan dari perancang busana sekaligus pegiat budaya Samuel Wattimena.
Festival yang memasuki penyelenggaraan kelima ini merupakan inisiatif warga Kampung Ranting Pelangi bersama komunitas seni Hysteria. Melalui tema Naliko Semono, masyarakat diajak menengok kembali kehidupan kampung pada masa lalu, ketika tradisi, alam, dan kebersamaan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Alih-alih hanya menghadirkan pertunjukan budaya, Festival Sobo Roworejo menjadi medium pemberdayaan masyarakat. Warga terlibat langsung dalam seluruh proses penyelenggaraan, mulai dari menyiapkan gunungan hasil bumi, menghidupkan kembali kesenian tradisional, hingga merancang berbagai aktivitas yang mengangkat potensi lokal.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan tradisi di tengah pesatnya perkembangan kawasan pinggiran Kota Semarang. Bagi masyarakat Wonolopo, festival bukan sekadar agenda tahunan, melainkan upaya merawat identitas kampung yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kirab Gunungan Polowijo menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Berbagai hasil pertanian yang disusun menyerupai gunung mencerminkan rasa syukur masyarakat atas rezeki yang diperoleh sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai sumber kehidupan.
Melalui Tari Emprit dan Kirab Sendang Belik, masyarakat juga mengangkat kembali cerita-cerita lokal yang selama ini hidup dalam ingatan warga. Tradisi tersebut menjadi sarana edukasi budaya bagi anak-anak dan generasi muda agar tetap mengenal akar sejarah kampungnya di tengah arus modernisasi.
Kehadiran Samuel Wattimena dalam festival memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya berbasis masyarakat. Menurut penyelenggara, pelibatan tokoh nasional diharapkan semakin memperkuat perhatian publik terhadap potensi budaya yang tumbuh dari kampung-kampung di Kota Semarang.
Festival Sobo Roworejo V menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak selalu lahir dari panggung-panggung besar, tetapi dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana ketika masyarakat memilih bergotong royong menjaga tradisi. Di Wonolopo, kenangan tentang “naliko semono” tidak sekadar dikenang, melainkan dihidupkan kembali sebagai bekal membangun masa depan yang tetap berpijak pada akar budaya dan harmoni dengan alam. (Christian Saputro)




