JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dan China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT) Hubei Sub-council memperkuat kemitraan di bidang perdagangan dan investasi melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Menara KADIN, Kuningan, Jakarta Selatan. Kerja sama tersebut diarahkan untuk membuka peluang yang lebih luas bagi ekspor produk pertanian, perikanan, serta pengembangan sektor logistik antara Indonesia dan China.
Dalam pertemuan yang berlangsung hangat selama sekitar satu jam itu, kedua belah pihak membahas berbagai peluang kolaborasi, mulai dari perdagangan komoditas, diversifikasi produk pertanian dan perikanan, hingga penguatan infrastruktur logistik dan layanan investasi.
Deputi Presiden CCPIT Hubei, Shi Minghui, mengatakan Provinsi Hubei memiliki infrastruktur logistik yang siap mendukung peningkatan perdagangan internasional, termasuk terminal kargo udara yang selama ini menjadi jalur distribusi berbagai produk pertanian ke pasar China.
“Prospek kerja sama di sektor perikanan dan pertanian sangat besar. Kami memiliki fasilitas pengiriman melalui terminal kargo di Bandara Hubei. Saat ini banyak produk pertanian dari Afrika Selatan masuk melalui terminal tersebut sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah di China,” ujar Shi Minghui.
Menurutnya, meningkatnya volume perdagangan akan mendorong kebutuhan fasilitas logistik yang semakin modern dan terintegrasi. Hubei juga mengembangkan sistem distribusi yang menghubungkan rantai pasok dari kawasan produksi hingga ke tangan konsumen selama 24 jam tanpa henti.
“Kami mengelola layanan logistik mulai dari lahan pertanian hingga meja makan konsumen. Saat ini kami mengimpor sekitar 4.000 ton durian dari Malaysia dan Thailand. Ke depan, kami berharap dapat mengimpor durian serta kopi dari Indonesia. Selama ini kopi dari Kenya masih mendominasi pasar China melalui jaringan terminal kargo kami,” katanya.
Sementara itu, perwakilan KADIN Indonesia, Devi Erna, menegaskan bahwa pihaknya siap mendukung investasi maupun perdagangan melalui berbagai layanan yang dimiliki organisasi tersebut.
Selain memfasilitasi perizinan investasi, KADIN juga menawarkan dukungan dalam pengelolaan trading house, pergudangan (warehousing), registrasi produk, hingga penyediaan tenaga profesional untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha kedua negara.
“Kami memiliki berbagai fasilitas yang dapat mendukung proses investasi maupun perdagangan. Registrasi produk yang akan masuk ke Indonesia maupun China memerlukan dukungan laboratorium, tenaga profesional, serta sistem yang terintegrasi. KADIN siap memposisikan diri untuk memenuhi berbagai kebutuhan tersebut,” ujar Devi.
Dalam pembahasan tersebut, kedua pihak juga menyoroti pentingnya fasilitas laboratorium untuk pengujian mutu dan keamanan pangan sebagai bagian dari upaya memperlancar arus perdagangan produk pertanian dan perikanan antarnegara.
Pertemuan tersebut turut dihadiri perwakilan Indonesia Eurasia International Council (IEIC), yakni Ruslan Israpil dan Arif Budiman. Sementara delegasi CCPIT Hubei didominasi pelaku usaha di sektor industri bahan bangunan dan jasa konstruksi.
Kunjungan delegasi CCPIT Hubei ke KADIN Indonesia juga bertepatan dengan partisipasi sejumlah perusahaan anggota CCPIT dalam pameran IndoBuildTech 2026 yang berlangsung di ICE BSD, Tangerang Selatan, pada 7–10 Juli 2026.
Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat hubungan ekonomi Indonesia–China, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi komoditas unggulan Indonesia, khususnya produk perikanan, buah-buahan tropis, kopi, dan hasil pertanian lainnya di pasar China yang terus berkembang. (Christian Saputro)




