Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Bagi sebagian orang, masa pensiun adalah garis finis dari sebuah karier panjang. Waktu untuk beristirahat, menikmati hasil jerih payah, dan melepaskan beban tanggung jawab dinas. Namun, bagi Nani Rahayu, pensiun hanyalah perubahan status administratif, bukan penghentian panggilan jiwa. Di usianya yang seharusnya menikmati ketenangan, ia justru semakin sibuk mengurus dua hal yang tak lekang oleh waktu: cagar budaya dan warisan budaya takbenda. Di Kotabumi, Lampung Utara, nama Nani lekat dengan Sanggar Cangget Budaya, sebuah ruang di mana sejarah tidak disimpan dalam lemari kaca, melainkan hidup melalui keringat dan gerak tubuh para penari muda.
Latar belakang Nani sebagai mantan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bukanlah kebetulan. Decades of service di instansi tersebut memberinya pemahaman mendalam tentang regulasi, pelestarian, dan pentingnya dokumentasi budaya. Pengetahuan teknis tentang benda cagar budaya dan prosedur pelestarian warisan budaya takbenda yang ia kuasai selama bertahun-tahun kini dialirkan langsung ke masyarakat melalui sanggarnya. Ia menjembatani kebijakan negara dengan praktik lapangan, memastikan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berhenti di atas kertas peraturan, tetapi hidup dalam napas para penari dan perawatan situs-situs bersejarah. “Saya mungkin sudah pensiun dari dinas,” demikian kira-kira semangat yang memancar dari sosoknya, “tapi saya tidak pernah pensiun dari kebudayaan.”
Salah satu permata yang terus ia asuh di sanggar itu adalah Tari Igel. Tarian adat Lampung yang telah diwariskan secara turun-temurun ini memiliki kedudukan sakral dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Abung, Sungkai, dan wilayah sekitarnya di Lampung Utara. Dalam khazanah budaya setempat, tarian ini hadir dalam berbagai sebutan—Tari Sabai, Tari Pepadun, Tigol, atau Nigel—namun secara substansial memiliki fungsi yang sama sebagai bagian integral dari prosesi adat, terutama dalam rangkaian Mepadun, Turun Mandei, Cangget Agung, dan pengambilan gelar adat Suttan. Bagi Nani, mengajarkan Igel bukan sekadar melatih kelenturan tubuh, melainkan menanamkan ingatan kolektif tentang siapa mereka sebenarnya.
Secara umum, Tari Igel dibedakan menjadi dua bentuk utama yang masing-masing membawa makna filosofis berbeda. Igel Mepadun berkaitan erat dengan legitimasi status sosial melalui prosesi pengambilan gelar adat. Tarian ini biasanya dilaksanakan pada waktu subuh atau malam hari, dengan penari utama calon Suttan yang didampingi lapan serta dikelilingi para Suttan lainnya. Sementara itu, Igel Sabai dilaksanakan dalam rangkaian Turun Mandei atau Cangget Agung sebagai simbol kebersamaan, penghormatan, dan kesinambungan tradisi adat. Dalam upacara begawi, aktivitas igel merupakan bentuk tari yang dilaksanakan oleh para suttan maupun yang belum bergelar, dengan gerakan yang dinamis, lembut, namun sarat kekuatan.
Tari Igel adalah manifestasi seni yang sangat kental dengan konsep maskulinitas adat dan identitas budaya masyarakat Kabupaten Lampung Utara. Gerakan-gerakannya mencerminkan kekuatan dan keberanian yang menjadi identitas penting bagi kaum pria dalam menjaga kehormatan kaum dan sukunya. Namun, di balik kesan gagah tersebut, tersimpan kelembutan yang menuntut disiplin tinggi. Ini adalah paradoks keindahan Igel: tegas namun luwes, kuat namun rendah hati. Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional, tarian ini berfungsi ganda sebagai sarana hiburan, simbol kejantanan, sekaligus media komunikasi kultural antargenerasi yang vital.
Kisah Nani Rahayu adalah pengingat bahwa pengabdian sejati tidak mengenal batas usia atau status kepegawaian. Ia membuktikan bahwa seorang pensiunan bisa menjadi aset bangsa yang paling berharga—mereka yang memiliki waktu, pengalaman, dan cinta yang utuh untuk merawat akar peradaban. Melalui Sanggar Cangget Budaya, ia memastikan bahwa Tari Igel tidak akan punah ditelan zaman. Selama masih ada tangan seperti Nani yang rela memegang payung kebudayaan di tengah terik dan hujan, warisan leluhur kita akan terus lestari, diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dengan penuh hormat dan kasih sayang. Karena pada akhirnya, melestarikan budaya bukan soal mempertahankan masa lalu, melainkan soal menjaga agar masa depan tetap memiliki pijakan yang kokoh. (Christian Saputro)




