SEMARANG – Wayang Orang Ngesti Pandowo mengawali rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-89 dengan menggelar tumpengan dan slametan di Gedung Sri Budoyo, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Kamis (16/7/2026). Tradisi syukuran itu menjadi simbol rasa syukur sekaligus peneguhan tekad untuk terus menjaga keberlangsungan salah satu kelompok wayang orang tertua di Indonesia.
Suasana berlangsung khidmat ketika para seniman, pengrawit, pengurus yayasan, tokoh budaya, serta jajaran Pemerintah Kota Semarang berkumpul dalam doa bersama. Di tengah tantangan yang dihadapi seni pertunjukan tradisional, prosesi tumpengan menjadi penanda bahwa semangat pelestarian budaya tetap menyala.
Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Indriyasari, yang kemudian menyerahkannya kepada Ketua Wayang Orang Ngesti Pandowo, Djoko Muljono, sebagai simbol dukungan pemerintah terhadap eksistensi kelompok seni yang telah berdiri sejak 1937 tersebut.
Dalam kesempatan itu, Indriyasari menyampaikan apresiasi atas ketangguhan Ngesti Pandowo yang mampu bertahan selama hampir sembilan dekade.
Menurutnya, usia panjang tersebut menjadi bukti bahwa wayang orang masih memiliki tempat di hati masyarakat dan harus terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, seniman, komunitas, serta generasi muda.
“Ngesti Pandowo adalah aset budaya Kota Semarang sekaligus kebanggaan bangsa. Pemerintah Kota Semarang akan terus mendukung berbagai upaya pelestarian agar seni tradisi ini tetap hidup dan berkembang mengikuti dinamika zaman,” ujarnya.
Ketua Wayang Orang Ngesti Pandowo Djoko Muljono mengatakan, syukuran bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ungkapan terima kasih kepada para pendiri, maestro, seniman, pengrawit, serta seluruh pihak yang telah menjaga perjalanan Ngesti Pandowo hingga memasuki usia ke-89.
“Perjalanan hampir sembilan dekade ini tidak mungkin terjadi tanpa dedikasi banyak generasi. Tumpengan ini menjadi doa bersama agar Ngesti Pandowo tetap mampu menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus melahirkan regenerasi seniman wayang orang,” katanya.
Rangkaian HUT ke-89 Ngesti Pandowo kemudian dilanjutkan dengan Festival Budaya pada 17–19 Juli 2026 yang menghadirkan pameran linimasa arsip, foto, dan video perjalanan Ngesti Pandowo, bursa sanggar seni, bazar UMKM, workshop Tari Dug Dug Der, serta berbagai pertunjukan budaya.
Puncak peringatan digelar pada Sabtu (18/7/2026) melalui pementasan wayang orang “Wanita Tangguh: Wahyu Purbo Sejati” di Teater Ki Narto Sabdo, Taman Budaya Jawa Tengah. Pertunjukan tersebut menjadi istimewa karena menghadirkan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti yang tampil memerankan tokoh Sang Hyang Wenang sebagai simbol dukungan pemerintah terhadap pelestarian seni tradisi.
Melalui rangkaian peringatan tersebut, Ngesti Pandowo tidak hanya merayakan pertambahan usia, tetapi juga menegaskan perannya sebagai institusi budaya yang terus beradaptasi, merawat tradisi, dan memperkuat ekosistem seni di tengah perubahan zaman.
(Christian Saputro)




