Oleh: Semacca Andanant (Disunting dan Diperluas)
Kabar itu menyebar cepat, melintasi batas-batas digital, membawa duka yang mendalam bagi para pencinta budaya Lampung. Di berbagai lini masa media sosial, kalimat “Inna lillahi wa inna ilahi rojiun” bergema berulang-ulang. Sang maestro, penggubah lagu legendaris “Tanoh Lado”, Fath Syahbudin, telah menutup usia.
Sontak saja, ingatan saya melayang kembali ke beberapa waktu lalu. Saat itu, kami terlibat dalam sebuah diskusi hangat melalui akun pribadinya. Topiknya tampak teknis, namun fundamental: penulisan huruf konsonan dalam aksara dan bahasa Lampung. Di situlah saya mengenal sosok Datuk Fath Syahbudin bukan hanya sebagai seniman, tetapi sebagai seorang intelektual budaya yang peduli pada detail identitas bangsanya.
Beliau bercerita dengan semangat tentang upayanya mengusulkan perubahan penulisan alamat “Way Hui” menjadi “Way Huwi” kepada Pemerintah Kota Bandar Lampung. Bagi beliau, ini bukan sekadar urusan ejaan, melainkan soal ketepatan sejarah dan linguistik. “Penulisan yang tepat dan benar adalah ‘Way Huwi’, bukan ‘Way Hui’,” tegasnya kala itu. Sikap keras kepala yang positif inilah yang menunjukkan betapa cintanya ia pada akar budayanya.
Fath Syahbudin, atau lengkapnya H. Fathullah Bin Syahbudin, adalah seorang budayawan senior dan maestro pencipta lagu-lagu daerah Lampung yang berasal dari keluarga Sungkay Bunga Mayang. Namanya mungkin tidak selalu bersinar di lampu sorot hiburan modern, namun karyanya telah menyatu dengan denyut nadi masyarakat Lampung. Lagu-lagu seperti Tanoh Lado, Ngiram, dan Cadang Hati bukan sekadar hiburan; mereka adalah arsip hidup yang merekam jiwa, tanah, dan harga diri orang Lampung.
Pada Rabu, 22 Juli 2026, pukul 14.47 WIB, sang maestro menghembuskan napas terakhirnya di RS Harapan Bunda, Jakarta, dalam usia 78 tahun. Almarhum kemudian disemayamkan di rumah duka di Jl. Kampung Baru No. 16 RT10/02, Ciracas, Kelapa Dua Wetan, Jakarta Timur, sebelum akhirnya pulang ke peristirahatan terakhir.
Meskipun raganya telah tiada, karya-karyanya akan terus hidup, berdendang di hati setiap orang Lampung yang mencintai tanahnya. Mari kita jaga segala “pik tinggal” (warisan) dari beliau. Semoga Datuk Fath Syahbudin mendapat kedamaian di tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.
Sebagai penghormatan terakhir, mari kita renungkan kembali lirik lagu yang melegenda tersebut, sebuah puisi musik yang menggambarkan keindahan dan kebanggaan atas tanah kelahiran:
TANOH LADO
Ciptaan: Fath Syahbudin
Jak Ranau Tigoh Di Teladas
Jak Palas Munggah Mit Bengkunat
Gunung Rimba Tiyuh Pematang
Pulau-Pulau Di Lawok Lepas
Bumiku Tanoh Lampung Ku lawi
Panjak Wah-Wah Di Nusantara
Tani Rukun Sangun Jak Jebi
Tanoh Lampungku Tanoh Lado
Merega Buway Rik Bahasa
Nayah Sina Tanda Ram Kaya
Adat Rik Budaya
Suratni Kaganga
Jadi Warisan Jama-Jama
Tabik Pun Jama Say Tuha Raja
Penyimbang Sebatin Semerga
Salah Rik Cempala Tiyan Say Ngura-Ngura
Tilik Taway Sikam Kilu ya
Bumiku Tanoh Lampung Ku lawi
Panjak Wah-Wah Di Nusantara
Tani Rukun Sangun Jak Jebi
Tanoh Lampungku Tanoh Lado
Merega Buway Rik Bahasa
Nayah Sina Tanda Ram Kaya
Adat Rik Budaya
Suratni Kaganga
Jadi Warisan Jama-Jama
Tabik Pun Jama Say Tuha Raja
Penyimbang Sebatin Semerga
Salah Rik Cempala
Tiyan Say Ngura-Ngura
Tilik Taway Sikam Kilu ya..
Tilik Taway Sikam Kilu ya..
Tilik Taway Sikam Kilu ya..
Selamat jalan, Datuk. Tanah Lado akan selalu bernyanyi karena engkau pernah mengajarkannya cara bersuara. ( Christian Saputro)




