Catatan dari “Ngobras”, Menyoal Eksistensi Pameran dan Dunia Senirupa Semarang

Berbagi Pengalaman - Perupa Atie Krisna dan Kokok Hari Subandi menyoal persolan kuratorial dalam pameran senirupa, kartunis Kustiono Tiyok Black ikut menyimak ngobras yang digelar Kelompok "5 Rupa". ( Christian Saputro)

Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro *)

Pandemi Covid – 19 tak menyurutkan kegiatan seni rupa di Kota Semarang. Geliat kehidupan senirupa dibuktikan dengan hadirnya belasan kegiatan pameran senirupa dari sejak awal pandemi merebak hingga kini. Berbagai siasat dilakukan untuk tetap mengekspesikan kreativitas dan menyajikan karya rupa sebagai sebentuk pertanggungjawabannya sebagai seniman.

Beberapa pameran senirupa di Kota Semarang yang tercatat jejaknya , sebut saja, pameran lukis bersama “Nyala Rupa”di Monod Huis,pameran lukis “Healing” Front One Hotel, pameran lukis dan photograpy di Warung Kopi Alam, pameran “Udan Salah Mongso” Hysteria berlokasi 7 Kampung, pameran lukis di Dea Story Cafe , pameran lukis “Satu Warna” di Resonet Cafe, pameran tunggal Giovani “Breaking Heart” di Resonet Cafe, pameran tunggal Arief “Hokg” Hadinata di Marifood Hall, dan pameran senirupa Kelompok 5 Rupa “Artpaintour” di Kopi Petualang.

Pemantik Ngobrasser – Moderator Christian , nara sumber Tan Markaban dan Hari Titut salah satu peserta pameran ( Dok. 5 Rupa)

Kemudian Semarang Sketchwalk (SSW) komunitas sketser Semarang sudah setahunan menggelar arisan anggotanya secara bergantian pameran di TAN Artspace. Menariknya, selain para perupa Semarang yang pameran secara daring ada seniman dari kota lain yang juga berpameran sebut saja; pameran tunggal Nanang Wijaya “Sketch Exhibition” (Jogjakarta) pameran tunggal Klowor Waldiyono ““Sketsa dalam Lukisan” (Jogjakarta), juga di Semarang Galery ditaja pameran “Sensing Sensation” yang menaja karya 11 perupa perempuan dari berbagai kota yang salah satu pesertanya dari Jepang.

Terkini Semarang Sketchwalk dalam rangka memarakkan hari jadinya yang ke-8 juga bertujuan untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid -19 menggelar pameran “Charity Art Exhbition #2” yang ditaja 5 – 10 September di TAN Artspace, Papandayan 11, Semarang.

Gayeng – Ngobrol santai tapi serius senirupa yang diinisiasi kelompok “5 Rupa” berlangsung gayeng. ( Dok. 5 Rupa)

Hebatnya kalau di daerah-daerah lain karena aturan PPKM dan lainnya pameran digarap secara virtual. Tetapi di Kota Semarang pameran digelar secara luring yang juga dilengkapi pameran secara daring. Sedangkan untuk penyelenggaranya juga bermacam penggiat, ada komunitas, Event Organizer , Industri (pengusaha) dan juga galeri.

Ekosistem Senirupa Semarang

Menyikapi fenomena ini Kelompok “5 Rupa” yang sedang menaja pameran “Artpaintour” menginisiasi ngobrol santai tapi serius (Ngobras Ser” bertajuk : “Apa Kabar Pameran Senirupa Semarang?”. Kegiatan ini dihelat di Kopi Petualang Cafe, Jalan Thamrin, Semarang, Sabtu (04/09/2021)

Ngobrol gayeng senirupa itu menghadirkan nara sumber pemantik obrolan pengamat senirupa Tan Markaban.

Menurut Ketua “5 Rupa” Giovanni Soesanto, , kegiatan diskusi ini digelar dalam rangka memantik semangat para perupa Semarang untuk terus berkarya dan berpameran.

Pengamat yang juga pelukis Semarang Tan Markaban mengatakan, persoalan pameran senirupa di Semarang, berjalan saja.”Karena setiap orang punya motivasi masing-masing. Ada yang ingin eksis dan dikenal, kemudian juga ada yang punya niatan jualan , atau motif lainnya. Dan itu sah-sah saja,” ujar lulusan arsitektur yang menekuni dunia seni lukis secara otodidak ini.

Menurut Tan yang juga bergelut didunia interior designer ini, yang jadi persoalan dijagad senirupa Semarang justru di Semarang tak punya kritikus senirupa. “Ini yang menjadikan dunia senirupa Semarang, kurang greget, bahkan terkesan biasa-biasa saja,” ujar Tan.

Ditambahkan, kalau di medsos dan grup-grup Senirupa, yang bermunculan hanya sekadar suka dan berkomntar penuh sanjungan seperti; joss, keren, top dan lainnya yang stereotype. “Nggak ada yang berani mengkritik bilang jelek, atau kurang ini dan itu,” sindir Tan Markaban.

Hal ini juga yang jadi pemikiran perupa Atie Krisna,yang menyoal, keberadaan Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang memiliki Jurusan Senirupa tapi tak begitu nampak kiprahnya. Pemilik Sanggar “Kayangan” yang pernah eksis tahun 2002 ini menegsakan, Jurusan Senirupa Unnses nyaris tak terdengar kiprahnya.

“Semestinya, mereka paling tidak sumbang pikiran di dunia serupa Semarang mengambil peran untuk menumbuhkan atmosfer untuk melahirkan “kritikus” dan “kurator” yang kosong, tak hanya bertengger di menara gading,” tandas Atie Krisna yang masih bergiat melukis hingga kini.

Sementara pelukis senior Kokok Hari Subandi, menyoroti berbagai pameran yang marak, tetapi yang jadi salah satu persoalan hanya ada beberapa pameran yang berkurator. Padahal menurut pelukis yang pernah menjadi finalis kompetisi Philip Morris Award ini, kuratorial sangat penting dan menentukan dan menjaga arah serta kualitas pameran. “Tetapi prosesnya memang ribet, harus bolak-balik tentunya memakan waktu dan biaya. Padahal terkadang para pelukis nggak mau ribet, ” ujar berbagi pengalaman.

Dari ngobras itu, memang yang mengemuka, bukan persoalan pamerannya, tetapi lebih menukik dan menggugat persoalan ekosistem dunia senirupa yang berjalan tak semestinya. Ada celah-celah yang kosong, ada mata rantai yang terputus. Selain persoalan seniman, kritikus, kuratorial, apresian, kolektor, media, infrastruktur, juga peran pemerintah dan keterlibatan berbagai pihak juga menyumbang timpangnya perjalanan dunia senirupa Semarang.

Tan Markaban juga menyigi seniman (perupa) masih punya persoalan tersendiri. Karena perbagai persoalan kehidupannya terkadang terlihat setengah hati dalam berkarya.

“Padahal sebagai pelukis harus konsisten dalam berkarya, ada ekplorasi potensi dirinya hingga bisa ketemu karakter karyanya . Persoalan aliran itu merupakan pilihan dan idealisme masing-masing individu seniman tetapi harus memenuhi prasyaratnya,” ujar Tan mengingatkan.

Dunia senirupa Semarang terus bergeliat, tetapi dinamika tumbuhkembangnya tak begitu nampak, bahkan ada stigma Semarang “kuburan seni” bsa jadi termasuk senirupa dan eksistensinya kurang diperhitungkan dipercaturan senirupa Indonesia. Senirupa Semarang dianggap biasa-biasa saja. Apalagi seniman Semarang juga mengamini dengan karakter dunia senirupa Semarang memang “adem ayem”.

Lalu bagaimana? Kalau tak hanya disebut sekadar bergeliat, tetapi bertumbuhkembang dan berkualitas, ekosistem senirupa di Semarang harus dibangun. Lalu jadi tugas siapa? Ya, harus digotong bersama dengan tugas peran dan fungsinya. Begitu !

Kapan? Ya, kalau tak sekarang kapan lagi,ndes!

*) penulis seni dan budaya kini bermukim di Semarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here