SEMARANG/ZHANGZHOU — Di ujung Gang Lombok, jantung Pecinan Semarang, asap dupa dari Klenteng Tay Kak Sie selalu mengepul tebal, terutama saat menjelang perayaan besar. Bagi ribuan umat yang berdatangan, aroma itu bukan sekadar wewangian ritual. Ia adalah jejak memori kolektif yang membentang ribuan kilometer, melintasi Laut Cina Selatan, hingga tiba di sebuah desa kecil bernama Baijiao di Zhangzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok.
Hubungan antara Tay Kak Sie di Semarang dan Ciji Zugong (Kuil Leluhur Ciji) di Baijiao bukanlah sekadar keterkaitan administratif atau sejarah migrasi biasa. Ini adalah ikatan tali pusar spiritual. Tay Kak Sie, yang berdiri megah sejak abad ke-18, adalah “anak” spiritual dari Baijiao. Dan setiap kali arca suci (Kimsin) Poo Seng Tay Tee (Baosheng Dadi) diarak keliling Semarang, sesungguhnya sedang terjadi dialog diam-diam dengan leluhur di sana.
Jejak Baosheng Dadi di Tanah Jawa
Poo Seng Tay Tee, atau yang lebih dikenal dalam tradisi Taoisme sebagai Baosheng Dadi (Dewa Pelindung Kesehatan), adalah sosok sentral yang menyatukan kedua tempat ini. Di Baijiao, ia dipuja di Ciji Zugong, kuil induk yang dibangun pada masa Dinasti Song. Di Semarang, ia bersemayam di Tay Kak Sie, menjadi pelindung bagi komunitas Tionghoa Hokkien yang dahulu merantau membawa serta keyakinan mereka.
Ketika para leluhur orang Tionghoa Semarang meninggalkan pelabuhan Xiamen atau Zhangzhou ratusan tahun lalu, mereka tidak hanya membawa barang dagangan. Mereka membawa fenxiang (abu dupa) atau replika arca Baosheng Dadi sebagai penenang jiwa di tengah ganasnya ombak dan ketidakpastian tanah baru. Tay Kak Sie kemudian didirikan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai “kampung halaman kedua” yang menjaga kemurnian ajaran dari asalnya.
Kirab 166 Tahun: Sebuah Pulang Simbolis
Puncak dari hubungan ini terlihat jelas dalam perayaan Kedatangan Kimsin YS Poo Seng Tay Tee ke-166 di Semarang. Pada tahun 2026, momen ini menjadi semakin istimewa dengan kehadiran Kimsin tamu langsung dari Komite Pengelola Ciji Zugong Baijiao.
Ini bukan sekadar pertukaran benda suci. Ini adalah validasi sejarah. Kehadiran delegasi dari Zhangzhou ke Semarang menegaskan bahwa Tay Kak Sie bukanlah entitas yang terpisah, melainkan bagian dari jaringan global pemuja Baosheng Dadi yang berpusat di Baijiao. Saat kirab budaya berlangsung, ketika kio (tandu suci) diusung melewati jalan-jalan sempit Pecinan, umat di Semarang secara simbolis sedang “mengantar pulang” doa-doa mereka ke sumber asalnya, sekaligus menyambut berkah dari leluhur.
Komite Pengelola Ciji Zugong di Baijiao, yang selama ini bekerja dalam sunyi merawat arsitektur kuno dan ritual Dinasti Song, kini membuka pintunya lebar-lebar bagi “saudara jauh” di Semarang. Mereka memahami bahwa merawat Ciji Zugong berarti juga merawat cabang-cabangnya di luar negeri, termasuk Tay Kak Sie. Sebaliknya, kesetiaan Tay Kak Sie dalam mempertahankan ritual tradisional adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap Baijiao.
Pecinan Sebagai Ruang Pertemuan Dua Dunia
Bagi masyarakat Pecinan Semarang, hubungan ini memberikan kedalaman makna pada identitas mereka. Mereka adalah orang Indonesia, warga Semarang, namun spiritualitas mereka memiliki akar yang dalam di Fujian. Klenteng Tay Kak Sie menjadi jembatan fisik dan metafisik antara dua dunia tersebut.
Setiap ukiran naga di atap Tay Kak Sie mengingatkan pada ukiran serupa di Baijiao. Setiap alunan gamelan dan lonceng dalam ritual di Gang Lombok bergema sama dengan yang terdengar di halaman Ciji Zugong. Melalui perantara Baosheng Dadi, jarak geografis runtuh. Semarang dan Zhangzhou bukan lagi dua titik yang berjauhan, melainkan dua ujung dari benang merah yang sama.
Dalam era modern di mana identitas sering kali cair dan terfragmentasi, ikatan antara Tay Kak Sie dan Ciji Zugong menawarkan sesuatu yang langka: kepastian asal-usul. Ia mengingatkan umat bahwa meskipun mereka telah berakar kuat di tanah Jawa, napas spiritual mereka masih tersambung dengan angin dari Fujian.
Dan selama asap dupa masih mengepul di Tay Kak Sie, dan selama ritual masih terjaga di Baijiao, tali silaturahmi lintas selat dan lintas generasi ini akan terus menguat. Bukan sebagai beban masa lalu, melainkan sebagai kompas yang menunjukkan dari mana mereka berasal, agar tahu ke mana harus melangkah. (Christian Saputro)




