SEMARANG — Pemutaran film Jokes & Cigarettes dalam rangkaian Europe on Screen 2026 (EOS) di Semarang, Sabtu (18/4/2026), tak berhenti sebagai ajang apresiasi sinema. Kegiatan yang berlangsung di Mini Theater Albertus, Kampus 1 Universitas Katolik Soegijapranata ini berkembang menjadi ruang diskusi kritis yang mengaitkan film dengan realitas sosial-politik Indonesia.
Program yang diinisiasi oleh Alliance Française tersebut menghadirkan dialog pasca-pemutaran yang dipandu Louis Kefi dari Kofimilk. Diskusi berlangsung dinamis dengan melibatkan narasumber serta partisipasi aktif audiens.
Purna Cipta Nugraha dari Kolektif Hysteria menilai film berlatar 1967–1980 itu tetap relevan dengan kondisi industri hiburan masa kini. Menurutnya, meski berangkat dari konteks sejarah dan krisis politik masa lalu, film tersebut memotret dinamika dunia komedi yang tidak banyak berubah.
“Di awal film kita melihat lanskap sejarah dan krisis politik. Tapi yang menarik, meskipun setting-nya lama, skena komedian itu masih sama. Bahkan hari ini, perfilman Indonesia juga banyak digerakkan oleh teman-teman komedian,” ujarnya.
Ia menambahkan, film ini tidak hanya berkisah tentang perjalanan seorang komika, tetapi juga menunjukkan bagaimana ruang hiburan kerap tumbuh di tengah situasi sosial yang kompleks. Narasi yang lintas zaman membuat film mudah diterima oleh berbagai kalangan penonton.
Pandangan serupa disampaikan Meninaputri Wismurti, Festival Co-Director EOS. Ia menilai kekuatan utama film terletak pada kedekatannya dengan realitas kehidupan masyarakat.
“Film ini kami pilih karena ceritanya sangat relate. Bukan hanya tentang stand-up comedy, tetapi juga memuat drama keluarga dan isu politik. Itu yang membuatnya terasa dekat dengan konteks Indonesia, apalagi unsur keberagamannya cukup kuat,” ungkapnya.
Menurut Putri, gaya humor dalam film juga menjadi daya tarik tersendiri. Pendekatan sinisme dan sarkasme tidak sekadar mengundang tawa, tetapi menghadirkan lapisan makna yang lebih dalam, sehingga film terasa reflektif sekaligus kritis.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai tanggapan dari audiens yang mengaitkan isi film dengan kondisi sosial Indonesia saat ini, termasuk dinamika industri kreatif dan kebebasan berekspresi.
Melalui kegiatan ini, EOS tidak hanya menghadirkan film sebagai tontonan, tetapi juga sebagai medium dialog publik. Forum semacam ini diharapkan mampu memperkaya perspektif penonton serta membuka ruang refleksi terhadap isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. (Christian Saputro/ril)




