SEMARANG — Festival Gula 2026 resmi dibuka di Tan Artspace, Semarang, Senin (11/5/2026), menghadirkan pertemuan antara seni, riset, dan keterlibatan masyarakat dalam sebuah ruang dialog kebudayaan yang hidup. Festival ini menampilkan karya-karya hasil residensi seniman yang menyoroti relasi manusia dengan lingkungan, tradisi, memori kolektif, hingga dinamika sosial masyarakat pesisir dan pegunungan.
Pembukaan festival dihadiri akademisi, seniman, kurator, komunitas budaya, mahasiswa, dan pegiat seni dari berbagai daerah. Pakar Sosial Humaniora sekaligus dosen UPGRIS dan Asesor BAN PAUDASMEN, Dr. Iin Purnamasari, S.Pd., M.Pd., yang membuka acara secara resmi, menilai Festival Gula bukan sekadar peristiwa seni, melainkan ruang refleksi sosial dan kebudayaan.
“Seni memiliki kemampuan menghadirkan cara pandang baru terhadap kehidupan. Melalui karya-karya yang lahir dari proses residensi dan dialog dengan masyarakat, kita diajak melihat bahwa kebudayaan terus bergerak bersama perubahan zaman,” ujar Iin dalam sambutannya.
Ia mengapresiasi pendekatan partisipatif yang digunakan para seniman dalam proses penciptaan karya. Menurutnya, seni tumbuh dari percakapan langsung dengan warga dan pengalaman hidup masyarakat sehari-hari.
Ketua Panitia Festival Gula, Ari Budiyanto, mengatakan festival ini lahir dari semangat kebersamaan dan keyakinan bahwa seni dapat menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan serta pengalaman sosial.
“Yang hadir di ruang pamer ini bukan sekadar objek visual, tetapi rekaman tentang relasi manusia dengan lingkungan, tradisi, konflik sosial, hingga perubahan zaman,” kata Ari.
Ia menjelaskan, banyak karya dalam festival tersebut lahir dari proses residensi, riset lapangan, dan interaksi langsung dengan masyarakat. Tema-tema yang diangkat memperlihatkan bagaimana kebudayaan terus dinegosiasikan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari harmoni manusia dengan alam hingga perjuangan hidup masyarakat pesisir.
Ketua AECI, Singgih Adi Prasetyo, menilai Festival Gula menjadi contoh penting bagaimana seni, riset, dan keterlibatan masyarakat dapat bertemu dalam ruang kolaboratif yang relevan dengan situasi sosial saat ini.
“Seni bukan hanya soal estetika, tetapi tentang bagaimana kita memahami manusia dan lingkungannya secara lebih mendalam,” ujarnya.
Menurut Singgih, Festival Gula dikembangkan melalui skema kolektif berbasis laboratorium budaya yang melibatkan seniman, warga, peneliti, komunitas, pemerintah, hingga media dalam satu ekosistem kolaborasi. Melalui program bertajuk Pentahelix Program, para seniman residensi melakukan pemetaan wilayah dan penciptaan karya bersama warga untuk menggali memori kolektif serta potensi ruang publik.
Tim peneliti dan AECI Satya Nirmana Foundation kemudian melakukan pendekatan arts-based research atau riset berbasis seni untuk memvalidasi data, menyusun narasi akademik, sekaligus membangun model pengelolaan komunitas seni yang berkelanjutan.
“Festival ini bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga pengetahuan, arsip budaya, dan model kolaborasi lintas sektor,” kata Singgih.
Kurator pameran, Muhammad Rahman Athian, menjelaskan Festival Gula berangkat dari gagasan mengenai tujuh sistem kebudayaan yang direspons para seniman melalui residensi di berbagai wilayah.
“Residensi bukan sekadar perpindahan seniman ke suatu tempat, tetapi praktik partisipatif untuk tinggal, mendengar, meneliti, dan merasakan denyut keseharian masyarakat,” ujarnya.
Rahman membaca karya-karya dalam pameran melalui pendekatan antropologi kontemporer, khususnya gagasan Alfred Gell mengenai hubungan kebudayaan, objek, dan agen sosial. Menurutnya, setiap wilayah residensi menghadirkan karakter berbeda.
Di Thekelan, misalnya, relasi masyarakat dengan alam terasa sangat intim. Alam diposisikan sebagai bagian dari tubuh sosial dan spiritual masyarakat sehingga melahirkan pola ritual dan kesenian yang harmonis dengan lingkungan. Sebaliknya, residensi di Tambaklorok memperlihatkan kerasnya ruang hidup pesisir, persoalan survival, kerja, hingga maskulinitas yang membentuk ketegangan sosial tersendiri.
Festival ini juga menampilkan karya-karya berbasis dokumentasi sosial yang mencoba merekam perubahan masyarakat secara lebih dekat. Namun bagi Rahman, dokumentasi bukan sekadar merekam realitas, melainkan upaya memahami manusia beserta perubahan yang melingkupinya.
Festival Gula 2026 melibatkan sejumlah seniman dan peneliti, di antaranya M. Rofikin, Rudy Vouller, Sisilia Hangin, Guntur Prabowo, Ari Eko Budiyanto, Cerah Hati Natara, M. Salafi Handoyo, Arya Prima Devara, Aditya Fitria Maulana, Ratri Inayatul Bayarah, hingga Rahma Jamil Setyo Tuhu.
Melalui Festival Gula 2026, Tan Artspace tidak hanya menghadirkan ruang pamer, tetapi juga laboratorium budaya yang mempertemukan seni, pengetahuan, dan masyarakat. Penyelenggara berharap festival ini dapat terus berkembang sebagai platform pertukaran gagasan, penguatan ekosistem seni, pengarsipan budaya, sekaligus model kolaborasi kebudayaan berbasis masyarakat di Indonesia. (Christian Saputro)




