Semarang – Di sebuah ruang yang berbau tinta dan kayu, bunyi rol karet menggesek pelan permukaan cetak. Tidak ada gegap gempita. Hanya kesunyian yang tekun. Di sanalah Singgih Adhy Prasetyo berdiri—atau lebih sering membungkuk—mendampingi tangan-tangan yang sedang belajar percaya pada dirinya sendiri.
Lahir di Blora, 14 Maret 1986, Singgih tumbuh dalam kesadaran bahwa seni bukan sekadar perkara estetika, melainkan disiplin batin. Ia menempuh studi S1 Seni Murni dan S2 Pendidikan Seni di Universitas Negeri Semarang, mempertemukan dua jalur yang kelak menjadi napas hidupnya: penciptaan dan pengajaran. Kini ia mengajar di Program Studi PGSD Universitas PGRI Semarang, sekaligus menjadi Ketua Yayasan AECI Satya Nirmana—ruang tumbuh bagi gagasan-gagasan kreatif dan kerja kolaboratif.
Namun, ada ruang lain yang ia rawat dengan kesungguhan berbeda: ruang berbagi bersama sahabat difabel.
Bagi Singgih, seni grafis adalah pelajaran tentang kesabaran. Tentang bagaimana permukaan harus diolah dengan presisi. Tentang bagaimana sebuah master cetak tidak lahir dari tergesa-gesa, melainkan dari perencanaan yang hening dan tangan yang terlatih menahan diri.
“Ketelitian itu bukan hanya teknik,” katanya suatu sore. “Ia adalah cara kita menghargai proses.”
Di hadapan teman-teman difabel, ia tidak datang sebagai dosen yang membawa teori tinggi. Ia datang sebagai rekan seperjalanan. Ia memperkenalkan teknik cetak tinggi—mengukir, menoreh, menekan, lalu mencetak—sebagai dialog antara asal dan hasil. Antara permukaan yang dilukai dan gambar yang lahir darinya.
Baginya, proses itu seperti kehidupan: apa yang kita goreskan di awal akan terpantul kembali dalam wujud lain.
Dalam kegiatan pelatihan, Singgih mencoba mempertemukan keistimewaan setiap sahabat difabel dengan material baru yang belum mereka kuasai. Ada yang sangat peka pada tekstur, ada yang kuat dalam repetisi gerak, ada yang justru menemukan ketenangan saat mengulang pola. Keunikan-keunikan itu tidak ia luruskan; ia justru ia rawat.
“Yang ingin saya lihat,” ujarnya, “adalah bagaimana kejujuran mereka diperbanyak oleh proses.”
Seni grafis, dengan sifatnya yang memungkinkan reproduksi, menjadi metafora yang indah. Satu ekspresi jujur dapat dicetak berkali-kali—menjadi banyak, tanpa kehilangan ruhnya. Seperti keberanian yang menular.
Alasan Singgih berbagi sebenarnya sederhana. Ia ingin apa yang ia kuasai—meski sedikit—dapat dicoba dan dikembangkan oleh orang lain. Ia percaya pengalaman baru adalah pintu kemungkinan.
Ia membayangkan karya grafis itu tidak berhenti di dinding galeri. Ia bisa hidup di atas tas kain, di kaos, di media pakai sehari-hari. Seni tidak harus terkurung dalam bingkai. Ia bisa menjadi keterampilan. Bisa menjadi bekal hidup. Bisa menjadi jalan kemandirian.
“Saya yakin mereka punya potensi besar,” katanya mantap. “Tinggal diberi ruang dan kesempatan.”
Di ruang-ruang latihan itu, tinta tidak hanya meninggalkan jejak di kertas. Ia juga meninggalkan jejak dalam cara pandang. Sahabat difabel yang semula ragu mulai melihat bahwa proses panjang bukan musuh. Bahwa kesalahan gores bisa menjadi karakter. Bahwa ketidaksempurnaan justru menghadirkan keunikan.
Singgih tidak banyak bicara tentang empati. Ia mempraktikkannya. Ia menunggu ketika proses terasa lambat. Ia membiarkan percobaan gagal. Ia mengulang tanpa keluhan. Dalam dunia yang serba cepat, ia memilih berjalan perlahan—seperti seni grafis itu sendiri.
Di antara bau tinta dan lembar-lembar kertas yang mengering, ada sesuatu yang tak kasatmata sedang tumbuh: rasa percaya diri. Dan mungkin, itulah karya terbesar seorang pendidik.
Seni, di tangan Singgih Adhy Prasetyo, bukan sekadar produk visual. Ia adalah jembatan. Antara kampus dan komunitas. Antara teknik dan kejujuran. Antara keterbatasan dan kemungkinan.
Setiap lembar cetakan yang terangkat dari papan klise adalah pernyataan sunyi: bahwa proses yang dijalani dengan sabar akan menemukan bentuknya sendiri.
Dan di tangan-tangan sahabat difabel itu, jejak tinta berubah menjadi jejak harapan. (Christian Saputro)




