Jakarta — Komunitas Salihara bersama ArtSociates menggelar pameran seni rupa bertajuk “IMBA: Dari Abstraksi ke Abstrakisme” di Salihara Arts Center, Jakarta, mulai 16 Januari hingga 22 Februari 2026. Pameran ini menghadirkan lebih dari 80 karya seni yang membentang lintas generasi, sejak dekade 1950-an hingga karya paling mutakhir tahun 2025, sekaligus menandai perjalanan panjang seni abstrak Indonesia.
Pameran IMBA menampilkan karya-karya sejumlah perupa penting Indonesia, di antaranya A.D. Pirous, Mochtar Apin, Fadjar Sidik, G. Sidharta Soegijo, Umi Dachlan, Kaboel Suadi, Amrizal Salayan, Aming Prayitno, dan Lian Sahar. Karya generasi yang lebih muda turut dihadirkan, seperti Gabriel Aries, Galih Adika Paripurna, Mujahidin Nurrahman, serta seniman lintas konteks Simon Admiraal. Selain itu, pameran ini juga menampilkan karya Henryette Louise dan Endang Lestari yang dikenal melalui eksplorasi material dan gagasan secara mendalam.
Kurator pameran, Asikin Hasan, menjelaskan bahwa abstraksi dalam seni rupa sejatinya berangkat dari proses mental dan imajinal yang telah terbentuk sebelum seniman menuangkannya ke atas kanvas atau mewujudkannya dalam bentuk trimatra. “Dalam abstraksi, seniman tidak lagi berangkat dari keinginan menyalin obyek sebagaimana cerapan indra penglihatan, melainkan berupaya menangkap intisari, esensi, dan pengalaman personal yang khas,” ujarnya.
Asikin menambahkan, pada tahap tertentu batas antara representasi obyek dan non-representasi menjadi kabur. Bentuk-bentuk yang semula masih merujuk pada realitas secara perlahan menjauh, mengalami perniuhan, bahkan melepaskan diri sepenuhnya dari watak asalnya. Proses tersebut kemudian melahirkan abstrakisme, bukan semata sebagai gaya visual, melainkan sebagai sikap artistik yang mempertanyakan dan memberontak terhadap kebenaran visual yang dianggap mapan.
Pameran ini juga menyoroti peran Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai salah satu pusat penting perkembangan abstraksi dan abstrakisme di Indonesia. Pengaruh lingkungan akademik tersebut terlihat kuat dalam karya-karya A.D. Pirous, G. Sidharta, Mochtar Apin, Umi Dachlan, hingga Kaboel Suadi. Namun demikian, IMBA menegaskan bahwa abstraksi tidak tumbuh secara eksklusif di satu institusi.
“Abstraksi dan abstrakisme berkembang di berbagai tempat, dengan latar dan corak yang beragam. Ia terus bergerak, semakin cair, dan melampaui batas geografis, institusi, maupun generasi,” kata Asikin.
Melalui penyajian karya dwimatra dan trimatra dari berbagai periode, pameran “IMBA: Dari Abstraksi ke Abstrakisme” tidak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga refleksi kritis atas perjalanan panjang seni rupa Indonesia—sebuah perjalanan dari pengolahan bentuk, gagasan, hingga kebebasan artistik yang terus berkembang seiring zaman. (Christian Saputro)




