JOMBANG — Pagi di Rolak 70 bukan sekadar tentang kabut yang menggantung rendah atau aliran Sungai Konto yang setia berbisik. Ia menjelma menjadi sebuah perjamuan kecil: hangat, akrab, dan nyaris puitis.
Di sela perjalanan “Ceng Beng Gus Dur 2026”, rombongan dari Boen Hian Tong tak sekadar berhenti; mereka merayakan pagi. Di bawah langit yang perlahan membuka cahaya, tangan-tangan mulai sibuk. Bungkus makanan dibuka, dan aroma rawon pun menyeruak—pekat dan menggoda. Kuah hitamnya yang khas berpadu sempurna dengan potongan empal yang empuk serta telur asin yang gurih. Sebuah kombinasi sederhana yang tak pernah gagal menghadirkan rasa “pulang”.
Di kejauhan, panggung kecil telah siap. Dari sanalah Sanggar Fu He An menghadirkan Wayang Potehi, warisan budaya yang melintasi batas etnis dan zaman. Boneka-boneka itu menari: lincah dan hidup. Di balik kain dan kayu, terdapat tangan-tangan yang bekerja dalam diam, menghidupkan kisah tentang kesetiaan dan kebajikan. Sesekali terdengar tawa kecil dari penonton yang larut, seolah lupa bahwa mereka sedang berada di sebuah bendungan tua yang nyaris ditinggalkan waktu.
Dan di situlah, semuanya terasa utuh.
Rawon yang hangat, Potehi yang riang, dan kebersamaan yang tak dibuat-buat melebur menjadi satu harmoni. Sulit dijelaskan, namun mudah dirasakan. Tak ada sekat, tak ada prasangka. Hanya manusia yang duduk berdampingan, berbagi rasa dan cerita.
“Mungkin ini Indonesia yang diimpikan Gus Dur,” gumam seseorang, menyebut nama Abdurrahman Wahid dengan nada yang nyaris seperti doa.
Di tengah reruntuhan pintu air, di antara besi-besi berkarat dan batu yang mulai runtuh, kehidupan justru menemukan cara untuk tetap tumbuh. Rolak 70, yang selama ini dikenal sebagai bangunan tua yang rapuh, pagi itu berubah menjadi ruang perjumpaan yang hidup; tempat di mana sejarah, budaya, dan rasa saling menyapa.
Ironi memang tetap ada. Bendungan ini pernah menjadi simbol kendali atas alam, kini justru sering dikaitkan dengan banjir musiman. Namun pagi itu, rombongan tak sedang membicarakan kerusakan. Mereka sedang merawat sesuatu yang lain: kebersamaan.
Ketika sendok terakhir menyentuh kuah, dan pertunjukan Potehi mencapai akhir kisahnya, sebuah kalimat menggantung di udara—ringan namun mengena: “Nikmat mana lagi yang kau dustakan?”
Barangkali memang tak ada. Sebab di pagi yang singkat itu, di sudut Jombang yang nyaris terlupa, orang-orang menemukan sesuatu yang sederhana sekaligus langka: rasa cukup, rasa syukur, dan rasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, yakni kemanusiaan itu sendiri. (Christian Saputro)




