Oleh : Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
Puisi “NKRI” karya Beno Siang Pamungkas merupakan satir politik yang tajam sekaligus getir. Melalui metafora “rayap”, penyair menghadirkan gambaran tentang sebuah bangsa yang tidak dihancurkan oleh musuh dari luar, melainkan oleh kekuatan-kekuatan yang hidup dan berkembang dari dalam tubuhnya sendiri.
Rayap dalam puisi ini bukan sekadar serangga pemakan kayu. Ia menjelma simbol korupsi, keserakahan, oligarki, penyalahgunaan kekuasaan, serta birokrasi yang perlahan menggerogoti fondasi negara. Pilihan metafora ini sangat efektif karena rayap bekerja diam-diam. Kerusakan baru tampak ketika bangunan hampir runtuh. Demikian pula bangsa yang perlahan kehilangan integritas akibat praktik-praktik yang berlangsung terus-menerus tanpa disadari atau sengaja dibiarkan.
Bait awal langsung menghadirkan ironi yang kuat. Rayap tidak hanya memakan rumah, tetapi juga “membaca” lalu “menghabisi buku-buku”, melahap hutan, gunung, bendungan, jembatan, hingga “merampok mimpi-mimpi”. Imaji tersebut memperluas makna kerusakan: bukan hanya kehancuran fisik, melainkan juga penghancuran pengetahuan, lingkungan, infrastruktur, dan harapan kolektif bangsa.
Ironi semakin menguat ketika rayap digambarkan sebagai makhluk yang “bekerja keras”, “membanting tulang demi masa depan anak cucu”. Kalimat ini sengaja membalik slogan-slogan pembangunan yang sering dipakai penguasa. Beno menunjukkan bahwa kejahatan pun dapat dibungkus dengan retorika pengabdian. Bahkan “rayap bermulut baja” dan semboyan “Negeri rayap berdaulat adalah harga mati” merupakan parodi terhadap jargon nasionalisme yang kehilangan substansi moralnya.
Bagian penutup menjadi klimaks satir. Setelah “Perjanjian Neo Reformasi”, negeri terbelah menjadi “Kerajaan Wereng Soklat” dan “Negara Kesatuan Rayap”. Penyair menggunakan nama-nama hama sebagai metafora kekuatan politik yang saling berebut kuasa, tetapi sama-sama merusak. Demokrasi dan monarki dipertentangkan hanya sebagai label; keduanya berakhir pada wajah kekuasaan yang serupa: mengisap kehidupan rakyat.
Secara estetik, puisi ini memilih bahasa yang lugas, langsung, dan minim metafora yang berlapis. Kekuatannya bukan pada kerumitan diksi, melainkan pada konsistensi simbol “rayap” yang terus berkembang menjadi alegori sosial-politik. Gaya semacam ini mengingatkan pada tradisi puisi protes sosial Indonesia yang lebih mengutamakan daya gugat daripada keindahan retoris.
“NKRI” pada akhirnya bukanlah puisi yang menghakimi satu kelompok tertentu. Ia adalah peringatan bahwa sebuah negara dapat runtuh bukan karena invasi, melainkan karena pembusukan dari dalam. Ketika rayap telah menjadi identitas, ketika jargon kebangsaan dipakai untuk menutupi kerakusan, maka yang pertama kali hilang bukanlah gedung atau jembatan, melainkan mimpi-mimpi rakyatnya.
Melalui puisi ini, Beno Siang Pamungkas mengajak pembaca mempertanyakan kembali makna nasionalisme. Apakah cinta tanah air cukup diwujudkan melalui slogan, atau justru melalui keberanian menjaga negeri dari “rayap-rayap” yang terus menggerogoti fondasinya? Pertanyaan itulah yang membuat “NKRI” tetap menggema lama setelah puisi selesai dibaca.
Silahkan Nikmati:
Beno Siang Pamungkas
NKRI
Rayap-rayap membangun sarang di dalam rumahku Mereka membaca Menghabisi buku-bukuku Memakan hutan dan gunungku Menggerogoti gedung-gedung Bendungan Dan jembatan besi Serta merampok mimpi-mimpi.
Jalan beton
Rayap-rayap bekerja keras Membanting tulang Demi masa depan anak cucu.
Rayap-rayap bermulut baja Topinya manis penuh peluru Negeri rayap berdaulat Adalah harga mati.
Setelah Perjanjian Neo Reformasi Negeriku tercinta terbelah menjadi dua Pertama, adalah monarki Bernama Kerajaan Wereng Soklat Kedua, sedikit berbau demokrasi Benderanya berwarna hijau, bergambar engkorak Di Perserikatan Para Perompak sebutannya adalah Negara Kesatuan Rayap ljn
Bugen, 2 Juni 2026




