PANGALENGAN — Kabut tipis masih menggantung rendah saat jarum jam baru menunjukkan pukul lima pagi di kawasan Banjarsari, Pangalengan, Kabupaten Bandung. Udara dingin khas pegunungan menusuk hingga ke tulang, namun antrean kendaraan pelan-pelan mulai mengular di sela-sela jalan berbatu. Bagi sebagian besar kaum urban yang merindukan ketenangan selepas pekan-pekan kerja yang padat, momen libur panjang adalah waktu terbaik untuk memacu kendaraan sejauh 50 kilometer ke arah selatan Kota Kembang, menuju sebuah pelarian baru: Nimo Highland.
Andy (50), seorang pekerja kreatif asal Jakarta Selatan, merapatkan jaket tebalnya seraya memandang takjub hamparan kebun teh yang mulai tersingkap oleh remang cahaya fajar. Baginya, menghabiskan waktu libur di dataran tinggi Bandung bukanlah hal baru. Namun, apa yang ia saksikan di puncak Gunung Nini kali ini menawarkan lanskap yang sama sekali berbeda dari destinasi wisata konvensional tanah parahyangan pada umumnya.
“Biasanya kalau ke Bandung ketemunya kafe kota atau hutan pinus yang itu-itu saja. Di sini, rasanya seperti berdiri tepat di atas awan, tapi di bawah kaki kita ada hamparan karpet hijau luas tanpa batas. Sangat magis,” ujar Andy sembari mengarahkan kamera ponselnya ke arah timur, menangkap siluet matahari yang perlahan menyembul.
Nimo Highland—singkatan dari Nini Mountain—berdiri megah di atas elevasi 1.616 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kawasan ini bukanlah sekadar ruang terbuka komersial biasa; ia berada tepat di jantung perkebunan teh Malabar, sebuah lanskap legendaris yang pertama kali dibuka oleh botanis tersohor asal Belanda, Karel Albert Rudolf Bosscha, pada tahun 1896. Menariknya, objek wisata ini berada di area PTPN I Regional 2, di mana hamparan tanaman teh tua yang produktif berpadu secara apik dengan ruang rekreasi modern bergaya Wayang Windu Panenjoan, namun dikemas dengan sentuhan yang jauh lebih kekinian.
Melalui skema optimalisasi lahan korporasi negara secara berkelanjutan, langkah kemitraan ini dijalankan guna memberikan nilai tambah pada aset komoditas tanpa sedikit pun merusak bentang alam asli. Sinergi ini memastikan produktivitas teh premium Malabar tetap terjaga, sementara masyarakat luas bisa menikmati keindahan peninggalan sejarah dengan fasilitas wisata yang representatif.
Ikon utama yang menjadi magnet para pelancong tak lain adalah Nimo Sky Bridge. Jembatan kaca berbentuk setengah lingkaran sepanjang 150 meter ini meliuk elok tepat di atas pucuk-pucuk tanaman teh tua. Berjalan di atasnya memberikan sensasi panorama 360 derajat tanpa sekat: di satu sisi pandangan dimanjakan oleh lekukan bukit yang hijau rapi, sementara di sisi lain, pantulan air Situ Cileunca berkilau memantulkan cahaya langit dari kejauhan. Tempat ini sekaligus menjadi titik pijak terbaik untuk berburu momen sunrise maupun sunset.
Keunikan destinasi yang resmi dibuka sejak Mei 2022 ini tidak berhenti pada jembatan kacanya saja. Melangkah sedikit ke area bawah, pengunjung akan disambut oleh deretan bangunan bercat putih-biru cerah yang kontras dengan latar hijau pegunungan. Arsitektur ini mengadopsi gaya Santorini, sebuah pulau eksotis di Yunani, lengkap dengan sudut-sudutnya yang sangat estetis dan pas bagi anya pemburu konten media sosial.
Di area ini pula, para pelancong dapat menikmati fun picnic di dalam tenda-tenda Indian Nimo yang mampu memuat 3-4 orang. Bersama sahabat maupun keluarga, pengunjung bisa bersantai di atas balkon yang dipenuhi bean bag, sembari membakar jagung atau menikmati hidangan BBQ di tengah embusan angin sore yang sejuk.
Bagi pencinta adrenalin, Nimo Highland menyediakan berbagai wahana interaktif seperti lintas alam dengan ATV, area camping ground, hingga olahraga paralayang. Namun, yang paling mutakhir dan kini tengah menjadi buah bibir adalah kehadiran Nimo Eye. Bianglala raksasa atau kincir ria ini baru saja dinobatkan sebagai kincir ria dengan elevasi tertinggi di Indonesia. Naik ke atas Nimo Eye saat pagi hari menawarkan pengalaman visual yang magis; menyaksikan perlahan mega merah keemasan memecah kepungan kabut tebal Pangalengan langsung dari titik tertinggi.
Dengan harga tiket masuk yang relatif terjangkau, yakni Rp 35.000 untuk dewasa dan Rp 25.000 untuk anak-anak (usia 4-10 tahun), tempat ini menjadi opsi rekreasi yang memikat di tengah padatnya arus libur panjang. Mengunjungi Nini Mountain bukan lagi sekadar perjalanan melepas penat biasa, melainkan sebuah cara berinteraksi kembali dengan alam, sejarah masa lalu, dan estetika modernitas yang berpadu sempurna dalam keheningan Bandung Selatan.




