SEMARANG — Silaturahmi penuh kehangatan mewarnai Gedung Rasa Dharma, markas Boen Hian Tong di Gang Pinggir 31, Semarang, Minggu (15/2/2026). Komunitas Wanita Bersanggul Indonesia (SBI) hadir dalam balutan kebaya anggun dan sanggul tertata rapi, menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar warisan, melainkan identitas yang terus dirawat dan dihidupkan.
Rombongan SBI disambut langsung Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim, bersama jajaran pengurus. Pertemuan berlangsung akrab dalam suasana kekeluargaan, diwarnai dialog mengenai peran perempuan dalam merawat tradisi sekaligus memperkuat harmoni sosial di tengah dinamika perkotaan.
Dalam perbincangan tersebut, kedua pihak menekankan pentingnya menjaga warisan budaya—mulai dari busana tradisional, etika, hingga nilai-nilai luhur yang hidup dalam keseharian masyarakat. Sanggul dan kebaya, bagi para anggota SBI, bukan sekadar estetika, melainkan simbol keteguhan perempuan Indonesia dalam menjaga akar budaya.
Ketua SBI, Sami Rahayu, menegaskan komitmen komunitasnya untuk terus menghidupkan tradisi bersanggul sebagai bagian dari jati diri perempuan Indonesia. Ia juga membuka ruang sinergi dengan berbagai elemen masyarakat agar pelestarian budaya menjadi gerakan bersama, bukan upaya yang berjalan sendiri.
Sementara itu, Cak Aris yang mengawal rombongan SBI dari Surabaya, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan Boen Hian Tong. Ia menekankan pentingnya mempererat jejaring budaya antar kota sebagai wujud persaudaraan dan gotong royong dalam menjaga warisan leluhur. “Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi langkah bersama menyatukan semangat tradisi dari Surabaya hingga Semarang,” ujarnya.
Ketua Boen Hian Tong, Harjanto Halim, mengapresiasi inisiatif SBI yang dinilainya sebagai bentuk nyata kolaborasi lintas komunitas. Menurutnya, ruang-ruang silaturahmi budaya semacam ini menjadi jembatan untuk saling mengenal, memahami, dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Silaturahmi di Gedung Rasa Dharma sore itu pun menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjelma sebagai pertemuan gagasan dan energi kebudayaan—ikhtiar bersama menjaga tradisi agar tetap lestari, tumbuh, dan relevan di tengah perkembangan zaman. (Christian Saputro)




