SEMARANG — Gelombang solidaritas menguat dalam peringatan International Childhood Cancer Day di Kota Semarang. Melalui kampanye #BeraniGundul, Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) berhasil menghimpun donasi sebesar Rp 235.200.500 untuk mendukung anak-anak pejuang kanker.
Aksi simbolik cukur gundul menjadi momen paling menyentuh dalam kegiatan tersebut. Satu per satu relawan, tokoh masyarakat, hingga warga umum duduk di kursi cukur, merelakan rambut mereka dipangkas habis sebagai bentuk empati terhadap anak-anak yang kehilangan rambut akibat kemoterapi.
Ketua YKAKI, Vita Mahaswari, mengatakan gerakan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan panggilan kemanusiaan yang harus terus digaungkan.
“#BeraniGundul adalah simbol keberanian dan cinta. Ketika kita menggunduli rambut, kita sedang menunjukkan kepada anak-anak pejuang kanker bahwa mereka tidak sendiri. Ada masyarakat yang berdiri bersama mereka,” ujar Vita.
Menurutnya, donasi yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pengobatan, operasional rumah singgah, bantuan nutrisi, hingga pendampingan psikososial bagi anak dan keluarga yang menjalani terapi kanker. YKAKI selama ini menjadi rumah sementara bagi pasien luar kota yang harus menjalani pengobatan jangka panjang di Semarang.
Vita menegaskan, perjuangan melawan kanker pada anak tidak hanya soal medis, tetapi juga soal dukungan moral dan keberlanjutan harapan.
“Kami ingin memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk sembuh dan kembali meraih cita-citanya. Dukungan masyarakat hari ini adalah energi besar bagi mereka,” tambahnya.
Suasana haru menyelimuti acara ketika sejumlah orang tua pasien menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian publik. Bagi mereka, perhatian dan empati menjadi penguat di tengah proses pengobatan yang panjang dan penuh tantangan.
Peringatan Hari Kanker Anak Internasional tahun ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara komunitas, dunia usaha, dan masyarakat luas. Lebih dari sekadar penggalangan dana, #BeraniGundul menjelma menjadi simbol solidaritas kolektif—bahwa melawan kanker pada anak adalah tanggung jawab bersama.
Dengan semangat yang terus menyala, YKAKI berharap gerakan ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terlibat, sehingga tak ada lagi anak yang merasa berjuang sendirian menghadapi kanker. (Christian Saputro)




