JOMBANG — Barangkali, kesenian tak selalu membutuhkan gedung megah untuk bertahan. Kadang ia cukup sebuah mobil, jalan panjang, dan kemauan untuk terus menyapa. Dari situlah cerita tentang Wayang Potehi di Jombang menemukan napas barunya.
Mereka menyebutnya GoPot—“Go Potehi”. Sebuah panggung berjalan yang tak menunggu penonton datang, tetapi justru mendatangi penonton. Dari desa ke desa, dari halaman sekolah hingga sudut kampung, potehi hadir dengan cara yang sederhana, nyaris bersahaja.
Didukung oleh Marimas melalui inisiatif Harjanto Halim, GoPot menjelma lebih dari sekadar program. Ia adalah gerakan kebudayaan: upaya memasyarakatkan kembali seni yang sempat terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.
Di balik kemudi gagasan itu, ada nama Toni Harsono. Bersama rekan-rekannya, ia mengubah mobil menjadi panggung, ruang belajar, sekaligus ruang perjumpaan. Di sana, anak-anak mengenal potehi untuk pertama kalinya, orang dewasa kembali mengingatnya, dan generasi muda mulai melihatnya sebagai bagian dari dirinya sendiri.
Tidak ada tiket. Tidak ada jarak. Tidak ada sekat.
Namun perjalanan Sanggar Fu He An tak berhenti di jalan-jalan kampung. Dari Gudo, mereka melangkah lebih jauh—menembus batas negara, membawa potehi ke panggung dunia.
Tahun 2022, mereka tampil di Tong Tong Fair, Belanda. Sebuah ruang diaspora yang mempertemukan identitas Indonesia dalam ragam bentuknya. Di sana, potehi tak lagi dipandang sebagai seni pinggiran, melainkan sebagai wajah keberagaman Indonesia.
Dua tahun kemudian, langkah itu berlanjut ke Eropa. Dalam rangkaian tur budaya, mereka tampil di Napoli dan bahkan di markas UNESCO di Paris. Lakon Perjalanan ke Barat dengan tokoh Sun Go Kong dimainkan—menghadirkan kisah klasik dalam bahasa yang bisa dipahami lintas bangsa.
Namun justru di situlah kekuatan Fu He An terasa utuh.
Mereka pergi jauh, tetapi tidak tercerabut. Mereka dikenal dunia, tetapi tetap membumi.
Menariknya, potehi yang mereka bawa adalah potehi yang telah berakar di Indonesia. Para sehu—dalang potehi—banyak berasal dari kalangan Jawa. Mereka bukan hanya memainkan cerita, tetapi juga merawat ritual, menerjemahkan nilai, dan menjembatani dua kebudayaan yang bertemu secara alami.
Dari panggung internasional, mereka kembali ke Gudo. Ke sanggar sederhana tempat anak-anak belajar, tempat boneka-boneka kayu dirawat, dan tempat tradisi dijaga tanpa banyak sorot lampu.
Dan di antara dua dunia itu—jalan kampung dan panggung global—GoPot menjadi simpul yang penting.
Ia adalah cara pulang.
Sebab setelah dikenalkan ke dunia, potehi harus kembali ke rakyatnya. Harus hidup di tengah masyarakat yang menjadi sumbernya. Harus hadir di ruang-ruang kecil, di tawa anak-anak, di rasa ingin tahu yang sederhana.
GoPot mungkin hanya sebuah mobil.
Fu He An mungkin hanya sebuah sanggar di desa.
Namun dari keduanya, lahir satu pelajaran penting: bahwa kebudayaan tidak bertahan karena besar, melainkan karena dekat. Tidak hidup karena dipamerkan, tetapi karena dibagikan.
Dan selama roda GoPot terus berputar, selama tangan-tangan itu terus menggerakkan boneka, selama cerita terus diceritakan—potehi akan tetap hidup.
Bukan hanya di panggung dunia, tetapi di hati orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan. (Christian Saputro)




