Semarang – Sore itu di Candisari tidak terasa seperti ruang kelas. Di sebuah sudut Alliance Française Semarang, kursi-kursi disusun tanpa jarak yang kaku. Tawa kecil pecah di sela kalimat yang terbata. Bahasa Prancis, yang bagi sebagian orang terdengar jauh dan asing, tiba-tiba menjadi dekat—nyaris seperti bahasa sehari-hari yang baru saja ditemukan kembali.
Itulah suasana Atelier de Conversation dalam rangka Semaine de la Francophonie. Bukan forum yang menuntut kesempurnaan tata bahasa, melainkan ruang yang memberi izin untuk salah, lalu mencoba lagi. Tema yang diangkat sederhana: activités de loisirs—tentang hobi, tentang waktu luang. Tapi justru dari kesederhanaan itulah percakapan tumbuh, mengalir, dan perlahan menemukan ritmenya.
Di tengah lingkaran peserta, Jade Tô menjadi penghubung yang tak terlihat memaksa. Ia tidak mengajar dalam arti konvensional. Ia mengajak. Melempar pertanyaan ringan, menunggu jawaban, lalu menimpali dengan senyum yang membuat kesalahan terasa wajar. Bahasa, di tangannya, bukan alat ujian, melainkan jembatan pertemuan.
Beberapa peserta masih ragu-ragu di awal. Kata-kata tersendat, kalimat terpotong. Namun perlahan, keraguan itu luruh. Mereka mulai berani menyusun cerita—tentang musik yang disukai, perjalanan yang diimpikan, atau sekadar cara menghabiskan akhir pekan. Bahasa Prancis tak lagi menjadi pelajaran, melainkan pengalaman.
Direktur Alliance Française Semarang, Kiki Martaty, menyebut momen seperti ini sebagai inti dari pembelajaran yang sesungguhnya.
“Bahasa tidak hanya dipelajari, tetapi dialami. Ketika orang berani berbicara, di situlah proses belajar benar-benar terjadi,” ujarnya.
Ia melihat, kehangatan yang muncul bukan semata karena metode, tetapi karena pertemuan. Pertemuan antara bahasa dan keberanian, antara budaya yang berbeda, dan antara individu yang sebelumnya asing satu sama lain. Di ruang seperti itu, batas-batas geografis terasa mengabur.
Francophonie, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar perayaan simbolik. Ia menjelma menjadi ruang hidup—tempat bahasa tumbuh dari percakapan, bukan hafalan. Tempat di mana dunia terasa lebih luas, tapi sekaligus lebih dekat.
Di luar, senja mulai turun perlahan di atas Semarang. Namun di dalam ruangan itu, percakapan belum benar-benar usai.
Kata-kata masih mengalir, tawa masih tersisa. Seolah ada keyakinan kecil yang diam-diam tumbuh: bahwa bahasa, sejatinya, bukan hanya alat komunikasi—melainkan cara untuk saling memahami.
Dan sore itu, di Candisari, pemahaman itu menemukan suaranya. (Christian Saputro)




