Oleh Christian Heru Cahyo Saputro – Jurnalis
Langit mula-mula hanya muram. Laut diam seperti menahan napas. Burung-burung meninggalkan pucuk-pucuk hutan di pesisir barat Jawa. Ikan-ikan bergerak gelisah di perairan yang mendadak hangat. Lalu, dari tubuh bumi yang lama terpendam, terdengar suara menggelegar seperti ribuan genderang perang dipukul bersamaan.
Gunung itu bernama Kapi. Sebagian menyebutnya Batuwara. Kini manusia mengenalnya sebagai leluhur dari Krakatau—gunung purba yang dipercaya pernah meledak begitu dahsyat hingga mengubah wajah bumi.
Letusan itu, menurut sejumlah peneliti dan tafsir naskah kuno, terjadi sekitar abad ke-5 Masehi, antara tahun 416 hingga 535 M. Sebuah dentuman raksasa yang tak hanya mengguncang Nusantara, tetapi juga mengirim bayang-bayang gelap ke seluruh dunia.
Konon, selama sepuluh hari sepuluh malam, perut bumi memuntahkan magma hingga satu juta ton per detik. Angka yang nyaris sulit dibayangkan akal manusia modern. Gunung itu tak sekadar meletus; ia seperti sedang merobek dirinya sendiri.
Tiga perempat tubuhnya lenyap.
Laut mendidih. Hutan terbakar. Gelombang raksasa menghantam pesisir. Abu vulkanik melesat ke langit, membangun tirai atmosfer setinggi puluhan meter. Matahari menghilang. Dunia masuk ke musim dingin panjang.
Dalam catatan kuno Pustaka Raja Parwa, disebutkan dentuman dari Gunung Batuwara terdengar hingga jauh. Air laut naik menelan daratan. Langit gelap gulita. Siang kehilangan cahaya. Malam menjadi lebih panjang daripada ketakutan manusia.
Para ahli iklim modern menduga letusan besar pada 535-536 M memang memicu penurunan suhu bumi hingga lima sampai sepuluh derajat Celsius. Gagal panen meluas. Peradaban limbung. Kekaisaran melemah. Dunia memasuki apa yang kemudian dikenal sebagai the dark age—abad kegelapan.
Sebagian sejarawan menghubungkan bencana itu dengan runtuhnya kejayaan Persia, melemahnya Romawi, hingga hilangnya peradaban Nazca di Amerika Selatan. Sebuah letusan di tepian Nusantara yang gema dukanya menjalar melintasi benua.
Namun bagi masyarakat di sekitar Selat Sunda, kisah itu bukan sekadar data geologi. Ia hidup sebagai legenda, diwariskan dari mulut ke mulut, dari nyanyian nelayan hingga kisah para tetua kampung.
Tentang gunung yang murka.
Tentang laut yang bangkit menelan daratan.
Tentang bumi yang terbelah.
Dari letusan maha dahsyat itu pula, dipercaya Pulau Jawa dan Sumatra yang dahulu menyatu akhirnya terpisah, membentuk Selat Sunda. Yang tersisa hanyalah pecahan tubuh sang gunung: Rakata, Panjang, dan Sertung—pulau-pulau sunyi yang kini berdiri seperti monumen luka purba.
Berabad-abad kemudian, pada 1883, dunia kembali mendengar amarah Krakatau. Dentumannya terdengar hingga Australia dan Afrika. Tsunami meluluhlantakkan pesisir Banten dan Lampung. Namun letusan itu, betapapun mengerikan, diyakini hanya gema kecil dari kedahsyatan nenek moyangnya.
Krakatau Purba adalah mahaguru kehancuran.
Ia mengajarkan bahwa bumi bukan sekadar tempat berpijak, melainkan makhluk hidup yang sewaktu-waktu bisa menggeliat, marah, lalu menghapus kesombongan manusia dalam sekejap.
Kini, di tengah lalu lintas kapal yang sibuk di Selat Sunda, orang-orang mungkin lupa bahwa di bawah laut itu tersimpan luka purba yang pernah mengubah sejarah dunia. Air tampak tenang. Langit terlihat damai. Tapi bumi menyimpan ingatan panjang.
Dan setiap kali Anak Krakatau mengepulkan asapnya ke udara, sejarah seperti berbisik pelan kepada manusia:
Bahwa dari perut Nusantara, dunia pernah diguncang oleh api yang nyaris memadamkan peradaban. (*)




