DEN HAAG/NIJMEGEN — Denting gamelan itu mula-mula hanya terdengar di sudut jalan kawasan Kota Lama Semarang. Di antara bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial yang menjulang kaku, para pemain wayang orang menari dan berdialog di ruang terbuka dengan panggung sederhana. Lampu-lampu temaram menerangi wajah-wajah seniman yang berkeringat, bertahan menjaga tradisi di tengah zaman yang bergerak begitu cepat.
Tak banyak yang menyangka, pertunjukan jalanan bernama Wayang On The Street itu kini melangkah jauh, menembus batas benua, hingga ke Belanda.
Melalui program Wayang On The Street Festival: Kota Lama Semarang Goes to Holland, sebanyak 15 seniman dan budayawan dari kelompok Wayang Orang Ngesti Pandowo tampil di sejumlah festival budaya, sekolah, dan panggung teater di Negeri Oranje sepanjang Mei 2026. Mereka membawa lima lakon berbeda, workshop seni, parade wayang, hingga pertunjukan tari tradisional sebagai bagian dari misi diplomasi budaya Indonesia di Eropa.
Bagi para pelaku seni tradisi di Semarang, perjalanan ini bukan sekadar tur pertunjukan. Ia adalah simbol ketahanan sebuah kesenian tua yang pernah hampir kehilangan panggungnya, kini bangkit dan menyapa dunia.
Bangkit dari Keterbatasan
Wayang orang merupakan teater tradisional Jawa yang memadukan tari, drama, sastra pewayangan, dan musik gamelan. Kesenian ini telah hidup sejak abad ke-18. Namun, di tengah arus budaya populer modern, eksistensinya semakin terdesak. Kini, di Indonesia hanya tersisa tiga kelompok wayang orang profesional yang masih aktif bertahan. Salah satunya adalah Ngesti Pandowo, yang telah berusia lebih dari 80 tahun.
Kelompok ini telah melewati berbagai zaman: dari era kejayaan panggung rakyat, masa televisi modern, hingga hantaman pandemi COVID-19 yang membuat puluhan seniman kehilangan ruang pertunjukan selama hampir tiga tahun.
“Pernah ada masa jumlah pemain di panggung lebih banyak dibanding penonton yang hadir,” ujar salah satu sesepuh seniman, suaranya lirih mengenang masa sulit.
Namun, para seniman memilih bertahan. Di tengah keterbatasan itulah lahir gagasan baru. Memasuki era normal baru pascapandemi, sejumlah relawan dan pegiat budaya mencoba mencari cara agar wayang orang kembali dekat dengan publik, terutama generasi muda.
Inisiatif ini dikawal ketat oleh Grace Widjaja selaku Project Leader dan Krisna Phiyastika sebagai Leader Officer Wayang Orang. Bersama founder Klub Merby, Grace W. Susanto, dan komunitas kreatif Semarang, mereka melahirkan konsep adaptif: wayang orang dipindahkan ke jalanan. Pertunjukan rutin digelar di Theater Oudetrapp kawasan Kota Lama setiap Jumat pada minggu kedua setiap bulan. Awalnya dipandang sebelah mata, perlahan penonton mulai berdatangan. Anak-anak muda yang sebelumnya asing dengan wayang orang mulai memenuhi area pertunjukan. Media sosial memperluas gaung pertunjukan hingga melampaui batas kota. Wayang orang menemukan bentuk baru tanpa kehilangan ruh tradisinya.
Diplomasi Budaya dan Jejak Sejarah
Memasuki tahun kelima, Wayang On The Street mengusung tema “Wayang sebagai Inspirasi” dengan langkah paling ambisius: membawa wayang orang ke panggung internasional. Grace Widjaja dan Krisna Phiyastika memimpin langsung koordinasi kompleks ini, memastikan bahwa setiap detail—dari visa hingga logistik—terkelola dengan presisi demi martabat seni tradisi di mata dunia.
Di Belanda, rombongan tampil dalam berbagai agenda. Pada 13 Mei, mereka menggelar Indonesian Cultural Workshop and School Visit. Sehari kemudian, mereka menampilkan lakon Srikandi dan ikut meramaikan Street Wayang Parade dalam pembukaan Pasar Indonesia. Pertunjukan berlanjut dengan lakon Sang Bima, Petruk Dadi Ratu, tari Selendang Biru, hingga Sang Gatotkaca dan Dewa Ruci.
Bagi para seniman, perjalanan ini memiliki makna emosional tersendiri. Belanda bukan sekadar negara tujuan, tetapi ruang sejarah panjang bagi Indonesia. Momen penting terjadi ketika rombongan duta seni melakukan silaturahmi ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag dan bertemu langsung dengan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Mayerfas.
Dalam suasana hangat, para seniman berbincang mengenai pelestarian wayang orang dan pentingnya diplomasi budaya sebagai jembatan hubungan dua negara.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika rombongan mendapat dukungan seperangkat gamelan untuk kebutuhan pertunjukan mereka. Gamelan tersebut merupakan warisan dari Presiden Soekarno (Bung Karno) yang dahulu diberikan bagi masyarakat Indonesia di Belanda sebagai pengikat identitas bangsa di tanah rantau. Hingga kini, gamelan bersejarah itu disimpan dan dirawat di Gedung Indonesia Menggugat di Den Haag.
“Kami merasa seperti membawa pulang ruh kebudayaan Indonesia di tanah Eropa,” ujar salah satu anggota rombongan, matanya berkaca-kaca saat memainkan gamelan peninggalan Bung Karno. Denting gamelan itu terasa seperti penghubung lintas generasi—antara Indonesia masa lalu dan Indonesia hari ini.
Menjaga Pakem, Menembus Batas di Nijmegen
Perjalanan tidak berhenti di Den Haag. Setelah menyelesaikan agenda di Rijswijk, rombongan bertolak menuju Nijmegen, kota tertua di Belanda, pada 21 Mei. Kehadiran mereka di sana tidak lepas dari jejaring pertemanan dengan para musisi lokal yang sebelumnya terlibat dalam proyek Kota Lama Orchestra di Semarang.
Berbeda dengan situasi awal yang penuh keterbatasan, di Nijmegen para seniman mendapatkan sambutan hangat. Mereka tinggal di rumah-rumah warga Belanda, disambut dengan welcome dinner, dan memiliki waktu istirahat yang cukup untuk fokus pada proses kreatif.
Di Theater de Cos, salah satu teater ternama di Nijmegen, rombongan menampilkan pertunjukan bertajuk Dewa Ruci. Pertunjukan ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi wayang Indonesia dengan dunia tari kontemporer Belanda. Setiap malam, para seniman mengadakan latihan bersama penari lokal, termasuk kolaborator bernama Dancer Mong. Proses penyatuan gerak, ritme, dan pendekatan artistik dilakukan intensif, baik secara daring sebelum keberangkatan maupun tatap muka di Nijmegen, di bawah supervisi artistik Krisna Phiyastika (Leader of Wayang Orang Ngesti Pandawa) untuk menjaga pakem tetap terjaga meski berkolaborasi dengan elemen modern.
Pementasan pada 20 Mei itu menjadi salah satu momen paling emosional. Tiket habis terjual. Penonton memenuhi teater hingga seluruh kursi terisi. Setelah pertunjukan selesai, para penonton memberikan standing ovation panjang. Tepuk tangan tidak kunjung berhenti ketika rombongan berpamitan. Malam itu ditutup dengan tarian Selendang Biru, menghadirkan suasana haru sekaligus hangat.
Gotong Royong di Negeri Orang
Di balik suksesnya pertunjukan, perjalanan ini tidak mudah. Grace Widjaja menekankan bahwa proses pengurusan visa menuntut kurasi panjang, menampilkan profil dan rekam jejak artistik setiap pemain. Selama tur, para seniman bekerja sepenuhnya secara mandiri. Tidak ada kru logistik khusus. Semua dilakukan bersama-sama, dari mengangkat gamelan, memindahkan perlengkapan, hingga menata peralatan pertunjukan dari satu kota ke kota lain.
Situasi itu menjadi pelajaran tentang kekompakan dan gotong royong. Mereka sadar bahwa perjalanan ini mungkin tidak menghasilkan keuntungan materi besar, tetapi memiliki nilai jauh lebih besar: membawa wayang Indonesia agar dikenal dunia.
Sebelum pertunjukan di Nijmegen, seorang fotografer Belanda bernama Thya memutar video dokumentasi Festival Kota Lama Orchestra. Video hasil kolaborasi Thya dengan fotografer muda Semarang itu memperlihatkan wajah Kota Lama, Tambak Lorok, dan sudut-sudut Semarang lainnya. Melalui tayangan itu, penonton diajak mengenal Semarang bukan hanya sebagai kota di peta, tetapi sebagai ruang budaya yang hidup, dinamis, dan kaya.
Wajah-Wajah di Balik Layar
Keberhasilan misi ini tidak lepas dari dedikasi 15 individu yang membentuk tulang punggung rombongan. Dipimpin oleh Hardhono Susanto sebagai Team Manager dan Grace Widjaja sebagai Project Leader, tim ini merupakan perpaduan harmonis antara senioritas dan energi muda.
Di atas panggung, kehadiran para performer seperti Djoko Muljono, Krisna Phiyastika, Bambang Budiono, A Sri Paminto Widi Legowo, Dewi Wulansari, Siti Widi Astuti, Yusuf Arifin, Bingar Agil Widyasmara, Yudha Putra Pambayun, Whastu Mahening Mardi, dan Helvy Andri Luckman menjadi wajah utama diplomasi budaya. Gerak tubuh mereka, tata rias, dan kostum menjadi bahasa universal yang menerjemahkan kisah-kisah epik Jawa kepada penonton Eropa.
Di balik layar, arsitektur suara dan gerak dibangun oleh Sugiyanto sebagai Art Director, Bambang Budiono yang juga merangkap sebagai Music Director, serta para pemusik tradisional handal seperti Sihanto dan Hatmaja. Mereka memastikan setiap denting gamelan dan alunan tembang tetap autentik, bahkan saat berkolaborasi dengan instrumen modern.
Membuka Jalan bagi Seniman Indonesia
Bagi rombongan ini, memperkenalkan wayang tidak cukup hanya dengan pertunjukan panggung. Mereka ingin mengenalkan keseluruhan ekosistem budaya: kostum, tata rias, karakter tokoh, musik gamelan, hingga nilai-nilai filosofis dalam cerita wayang. Mereka percaya bahwa wayang adalah representasi identitas budaya Indonesia yang kaya akan nilai luhur.
Perjalanan ini juga diharapkan menjadi pintu pembuka bagi seniman Indonesia lainnya. Melalui jaringan yang terbangun, para pelaku seni berharap festival-festival budaya di Indonesia dapat terkoneksi dengan festival internasional di Eropa.
Lebih dari sekadar tur seni, perjalanan ini menjadi langkah kecil yang penting dalam membangun jembatan budaya antara Indonesia dan Belanda. Sebuah upaya memperlihatkan bahwa tradisi dapat tetap hidup, berkembang, dan diterima dunia tanpa kehilangan akarnya.
Dari jalanan Kota Lama hingga panggung Eropa, Wayang On The Street membuktikan satu hal: tradisi tidak pernah benar-benar mati selama masih ada orang-orang yang mau menjaga dan memperjuangkannya bersama.
Dan di bawah langit Negeri Oranje, kisah-kisah wayang dari Jawa kembali hidup—membawa suara gamelan warisan Bung Karno, langkah para penari, dan ingatan tentang Indonesia ke hadapan dunia. (Christian Saputro)




