Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Di Semarang, laut tidak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal dalam udara yang asin, dalam tembok-tembok tua Kota Lama yang mengelupas pelan, dalam aroma lumpia yang mengepul di gang-gang Pecinan, juga dalam cara orang-orangnya menyimpan kenangan tentang kota yang dibangun oleh perjumpaan.
Jumat siang itu, di sebuah ruangan di Klub Merby, Semarang seperti sedang membuka kitab lamanya.
Puluhan finalis Denok-Kenang 2026 duduk berhadapan dengan seorang lelaki berkacamata yang berbicara pelan, namun penuh jejak sejarah. Ia adalah budayawan dan praktisi seni Bintang Hanggoro Putra. Di hadapan generasi muda yang tumbuh bersama layar digital dan hiruk media sosial itu, lulusan Seni Pertunjukan Universitas Gadjah Mada tersebut mengajak mereka berjalan mundur: menuju pelabuhan tua, kampung-kampung Pecinan, suara bedug Dugderan, hingga aroma pohon asem yang konon melahirkan nama Semarang.
Narasumber budayawan dan praktisi seni Bintang Hanggoro Putra memaparkan bahwa Semarang merupakan kota pesisir yang tumbuh dari perjumpaan berbagai kebudayaan—Jawa, Arab, Tionghoa, dan Eropa—yang kemudian melahirkan identitas khas melalui tradisi, bahasa, seni pertunjukan, hingga warisan arsitektur yang masih hidup sampai hari ini.
“Semarang tumbuh dari akulturasi,” katanya.
Kalimat itu melayang ringan, tetapi seperti ombak kecil yang menghantam ingatan panjang sebuah kota.
Semarang memang tak pernah lahir dari satu wajah. Kota ini dibangun oleh banyak tangan: Jawa, Arab, Tionghoa, Eropa. Mereka datang lewat laut, membawa bahasa, doa, rempah, kain, musik, juga cara memandang hidup. Semua bertemu di pesisir yang lembap, lalu perlahan menjelma identitas yang tak bisa ditemukan di kota lain.
Maka siang itu, “Ngaji Budaya Semarang” bukan sekadar kelas kebudayaan. Ia lebih menyerupai upaya merawat ingatan kolektif yang mulai tergerus zaman.
Para finalis Denok-Kenang mendengarkan kisah tentang Pragota—atau Bergota—wilayah awal yang dipercaya menjadi embrio Semarang pada abad kedelapan. Dari sana, kota tumbuh menjadi pelabuhan penting pada masa Kesultanan Demak hingga kolonial Belanda. Mereka mendengar bagaimana nama “Semarang” lahir dari pohon asem yang tumbuh “arang-arang”, jarang-jarang, di sepanjang kawasan pesisir.
Di luar ruangan, lalu lintas kota mungkin sedang gaduh. Namun di dalam sana, sejarah bergerak perlahan seperti wayang yang ditarik dari kelir masa lalu.
Nama-nama lama kembali dipanggil: Kota Lama Semarang, Lawang Sewu, hingga Klenteng Sam Poo Kong. Tempat-tempat itu bukan lagi sekadar destinasi wisata yang ramai difoto wisatawan, melainkan saksi bisu tentang bagaimana Semarang pernah menjadi ruang perjumpaan manusia dari berbagai bangsa.
Di Pecinan, kata Bintang, sejarah hidup dalam keseharian. Gang Warung, Gang Pinggir, Pasar Semawis—semuanya bukan sekadar nama jalan, melainkan denyut ekonomi dan kebudayaan yang bertahan lintas generasi. Di sanalah makanan, bahasa, dan tradisi berbaur tanpa perlu saling meniadakan.
Mungkin itulah sebabnya Semarang terasa akrab sekaligus asing: ia seperti rumah yang dibangun dari banyak kenangan.
Para finalis juga diajak memahami Dugderan—tradisi menjelang Ramadan yang suaranya berasal dari bunyi “dug” bedug dan “der” meriam. Dari tradisi itu lahirlah Warak Ngendog, makhluk imajiner berkepala naga dan bertubuh kambing yang bagi warga Semarang bukan sekadar boneka pesta rakyat, melainkan simbol tentang bagaimana perbedaan dapat hidup dalam harmoni.
Di kota lain, perbedaan kerap menjadi pagar. Di Semarang, ia justru menjadi jembatan.
Sore bergerak pelan ketika pembahasan memasuki seni pertunjukan. Nama Ngesti Pandawa disebut dengan nada nyaris nostalgik. Generasi muda mungkin lebih akrab dengan video pendek di telepon genggam, tetapi di masa lalu, kelompok wayang orang itu pernah menjadi kebanggaan Semarang—menghidupkan panggung dengan kisah-kisah Mahabharata yang dipentaskan berhari-hari.
Ada pula Gambang Semarang, kesenian yang lahir dari percampuran bunyi dan tubuh: musik, tari, lawak, dan irama Tionghoa-Jawa yang saling menyusup tanpa sekat. Seni itu tumbuh sejak dekade 1930-an, ketika identitas kota pesisir dibentuk oleh pertemuan manusia-manusia dari pelabuhan.
Di titik itulah, para finalis Denok-Kenang tampaknya mulai memahami: budaya bukan benda mati yang disimpan di museum. Ia hidup dalam tubuh kota, dalam bahasa sehari-hari, dalam busana pengantin, bahkan dalam candaan.
Mereka tertawa ketika membahas bahasa walikan Semarang—bahasa prokem yang berkembang sejak 1970-an dan menjadi penanda keakraban urban warga kota. Bahasa itu lahir dari lorong-lorong pergaulan, tumbuh sebagai sandi, lalu berubah menjadi identitas.
Barangkali setiap kota memang memiliki cara sendiri untuk mengenang dirinya.
Menjelang akhir sesi, ruangan terasa lebih hening. Bintang Hanggoro Putra menatap para finalis muda itu satu per satu, seolah ingin memastikan bahwa sejarah tidak berhenti di ruang kelas.
“Budaya bukan hanya masa lalu,” katanya pelan. “Ia adalah cara kita memahami masa depan.”
Kalimat itu menggantung cukup lama.
Di luar, Semarang terus bergerak: kendaraan melintas, lampu kota menyala, dan angin laut kembali membawa bau garam dari utara. Namun di dalam ruang kecil Klub Merby, beberapa anak muda tampaknya baru saja menemukan kotanya sendiri—bukan sebagai tempat tinggal, melainkan sebagai warisan yang harus dijaga.
Dan mungkin, di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, mengaji budaya adalah cara paling sunyi untuk pulang. (Christian Saputro)




