SEMARANG — Getir pare mentah, aroma tajam bunga sedap malam, dan asap dupa yang mengepul tipis memenuhi aula di kawasan Gang Pinggir, Semarang, pada Sabtu (23/5/2026) malam. Dalam cahaya temaram, puluhan peserta mengenakan pita hitam di tangan kiri. Mereka berdiri saling berhadapan, membentuk sebuah “Barisan Doa” yang hening, mengenang Tragedi Mei 1998—salah satu luka paling kelam dan belum sepenuhnya sembuh dalam sejarah Indonesia modern.
Peringatan bertajuk “Mei 98 Belum Selesai: Kekerasan Masih Hidup di Sekitar Kita” itu menghadirkan perpaduan unik antara ritual spiritual Tionghoa, pembacaan puisi, musik reflektif, hingga diskusi kemanusiaan. Semua dirangkai bukan sekadar sebagai upacara kenangan, melainkan sebagai upaya gigih menjaga ingatan kolektif atas kekerasan sistematis, khususnya terhadap perempuan, yang dampaknya masih bergema hingga hari ini.
Acara dibuka dengan sembahyang Tian yang dipimpin oleh Wense Andy Gunawan di pintu masuk gedung bersejarah Boen Hian Tong. Para tamu dan pengurus kemudian saling memakaikan pita hitam, sebuah gestur sederhana namun sarat makna sebagai simbol solidaritas, duka, dan komitmen untuk tidak melupakan.
Mengenang Ita, Simbol Keberanian yang Terbungkam
Suasana menjadi semakin khidmat ketika puisi berjudul “Prasasti Kebenaran Keberanian” didedahkan oleh Venty. Bersamaan dengan lantunan puisi, ia membagikan bunga sedap malam kepada para peserta. Puisi itu mengenang keberanian Ita Martadinata Haryono, aktivis perempuan dan korban kekerasan Mei 1998 yang tewas dalam keadaan misterius menjelang keberangkatannya ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa. Ita hendak memberikan kesaksian penting tentang kekerasan seksual massal terhadap perempuan Tionghoa di Jakarta.
Dengan suara lirih namun tegas, bait demi bait puisi itu menggambarkan Jakarta yang dilalap api, jeritan perempuan di tengah kekacauan massa, hingga keberanian Ita yang memilih bersuara lantang ketika banyak orang dibungkam oleh ketakutan.
“Catatan peristiwa Mei 1998 adalah noda, noda yang tak boleh terulang selamanya,” demikian salah satu penggalan puisi yang menggema di ruang doa, menusuk hati setiap pendengar.
Ritual kemudian berlanjut menuju altar leluhur. Di hadapan altar, doa dilangitkan oleh Wense Andi kepada Huang Tian Shang Di (Tuhan Yang Maha Esa) dengan bimbingan ajaran Nabi Agung Kongzi. Dalam doa tersebut, Ita dikenang bukan hanya sebagai korban tragis, melainkan sebagai simbol keberanian sipil dan keteguhan dalam memegang kebenaran.
Doa tersebut juga mengutip ajaran Sang Budiman (Konfusius) tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan leluhur dan sejarah: bahwa melupakan leluhur berarti kehilangan makna cinta kasih (ren), sementara menganggap mereka sepenuhnya masih hidup tanpa kritik sejarah berarti kehilangan kebenaran (zhi). Pesan ini menjadi refleksi filosofis tentang bagaimana sebuah bangsa harus merawat sejarah secara jernih, kritis, dan manusiawi.
Simbolisme Kepahitan: Menelan Sejarah Apa Adanya
Ketua panitia, Hermawan Honggo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat. Sementara itu, Ketua Boen Hian Tong Harjanto Halim menegaskan bahwa peringatan tersebut digelar sebagai upaya keras “melawan lupa”.
“Banyak generasi muda sekarang bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Mei 1998. Karena itu, kita perlu terus mengingatkan, bukan untuk membenci, tetapi untuk waspada,” katanya.
Harjanto menjelaskan, gagasan refleksi budaya ini bermula dari pertunjukan Ketoprak Putri Cina pada 2008. Dari sana, lahir ide untuk menghadirkan ritual tahunan yang sederhana namun sarat simbolisme. Puncaknya adalah penyajian Rujak Pare Sambal Kecombrang.
“Pare dipilih karena pahitnya dimakan mentah, tidak direbus, tidak diolah untuk menghilangkan rasa pahit. Itu simbol bahwa sejarah pahit harus dihadapi apa adanya, tanpa pemanis buatan,” ujar Harjanto.
Nuansa simbolik semakin kuat ketika ritual mengulek rujak pare dan mengaduk Nasi Ulam Bunga Telang dilakukan diiringi lagu “Gugur Bunga” yang dimainkan oleh kelompok musik Lamkwan. Pare dimaknai sebagai kepahitan sejarah dan trauma, sementara bunga kecombrang dan telang melambangkan harapan, keberanian, dan proses pemulihan (healing). Peserta kemudian mencicipi rujak pare bersama-sama. Rasa pahit yang menjalar di lidah menjadi refleksi fisik bahwa sejarah pahit harus “ditelan” dan diingat agar tidak terulang.
Dari Lantai Dansa ke Ruang Kesaksian: Luka yang Masih Hidup
Malam refleksi tidak berhenti pada ritual masa lalu. Sesi diskusi bertema “Masih Ada Kekerasan di Sekitar Kita, Apa yang Akan Kita Lakukan?” menghadirkan momen emosional yang tak terduga. Di tengah suasana hening dan aroma dupa, Sherly Chebing, seorang influencer dan aktivis, berbagi kisahnya sebagai penyintas kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Dipandu oleh Ulin, Sherly tampil dengan dua wajah yang kontras dalam satu panggung: lincah dan penuh energi saat bergoyang di lantai dansa sebelum sesi dimulai, lalu berubah tenang dan rapuh ketika mulai membuka lapisan pengalaman hidup yang selama ini disimpan rapat.
Dengan suara bergetar, Sherly mengaku pernah menjalani hari-hari yang begitu berat hingga merasa sulit melewati hidup tanpa dukungan untuk bertahan.
“Saya menjalani hari demi hari dengan sangat sulit. Kalau bukan karena usaha untuk bertahan, mungkin saya tidak bisa melewati semuanya,” ungkapnya di hadapan peserta refleksi.
Sherly mengatakan pengalaman kekerasan sering kali tersembunyi di balik kehidupan yang tampak biasa dari luar. Banyak korban memilih diam karena tekanan keluarga, rasa malu, atau ketakutan terhadap penilaian sosial.
“Saya ingin orang-orang yang mengalami hal seperti itu tahu bahwa mereka tidak sendirian. Dulu keluarga saya memilih menyembunyikan semuanya. Teman-teman dekat tahu, tapi banyak yang memilih diam,” katanya. Ia mengaku mulai berani mengambil keputusan untuk keluar dari lingkaran kekerasan pada awal 2020, setelah menyadari bahwa diam hanya akan memperpanjang luka.
Kesaksian Sherly memperluas makna refleksi malam tersebut. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah masa lalu seperti tragedi Mei 1998, tetapi masih nyata terjadi dalam ruang domestik dan kehidupan sehari-hari. Di ruang yang sebelumnya dipenuhi ritual mengenang korban Mei 1998, kesaksian Sherly menjadi pengingat bahwa “melawan lupa” juga berarti berani melihat kekerasan yang masih hidup di sekitar kita hari ini.
Merawat Kemanusiaan, Melawan Lupa
Diskusi tersebut juga menghadirkan Denti Ariani dari Komnas Perempuan. Dalam paparannya, Denti menegaskan bahwa peringatan Mei 1998 bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan merawat kemanusiaan di masa kini.
“Kita hadir bukan sekadar mengenang sebuah peristiwa sejarah, tetapi merawat ingatan. Bangsa yang kehilangan ingatan dan perasaannya akan kehilangan kemanusiaannya,” ujarnya tegas.
Menurut Denti, Tragedi Mei 1998 adalah catatan gelap tentang kekerasan seksual berbasis gender, diskriminasi etnis, dan kultur ketakutan yang dampaknya masih terasa hingga kini. Ia menyoroti bahwa upaya membungkam suara korban dan mendistorsi fakta sejarah masih terus terjadi.
“Melawan lupa bukan hanya tugas penyintas atau aktivis, tetapi tanggung jawab moral kita bersama sebagai warga negara,” katanya. Denti menambahkan bahwa generasi muda perlu memahami bahwa demokrasi dan hak asasi manusia tidak hadir begitu saja. Nilai-nilai tersebut diperjuangkan dengan harga yang mahal, termasuk nyawa dan martabat para korban seperti Ita Martadinata Haryono.
“Ingatan adalah bentuk perlawanan tertinggi, dan kemanusiaan harus selalu dijaga,” tutupnya.
Menjelang akhir acara, lagu tradisional Tiongkok “Mo Li Hua” (Melati) dimainkan oleh Lamkwan. Alunan melodinya yang lembut bercampur dengan cahaya altar dan aroma bunga malam yang masih memenuhi ruangan.
Para peserta meninggalkan tempat itu dengan suasana lirih namun penuh kesadaran. Mereka membawa pulang satu pesan utama: bahwa sejarah yang diingat dengan jujur, sepahit apapun rasanya—baik itu trauma kolektif tahun 1998 maupun luka domestik hari ini—dapat menjadi benteng kokoh agar kekerasan dan ketidakadilan tidak kembali merenggut masa depan.
Acara ditutup dengan silaturahmi dan foto bersama, mengikat kembali simpul-simpul persaudaraan yang sempat terkoyak oleh waktu dan kekerasan. (Christian Saputro)




