SEMARANG — Dapur tak lagi sekadar ruang meracik rasa, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan lintas budaya. Kelas “Bon Appétit Bon Talk!” yang digelar Alliance Française Semarang bersama WL Home Kitchen pada Selasa (21/4/2026) menghadirkan pengalaman unik: memasak sambil berlatih bahasa Prancis langsung dengan penutur asli.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 10.00 WIB ini dipandu oleh Chef Kayla, Chef Lala, serta Jade Tô. Konsep baking and talk yang diusung menggabungkan praktik membuat hidangan khas Prancis dengan percakapan santai, menciptakan suasana belajar yang interaktif dan tidak kaku.
Salah satu menu yang menjadi sorotan adalah madeleine, kue mungil berbentuk cangkang yang menjadi ikon pâtisserie Prancis. Berasal dari wilayah Lorraine, kue ini dikenal dengan teksturnya yang lembut serta cita rasa ringan dari perpaduan tepung, telur, gula, dan mentega, dengan sentuhan aroma khas seperti almond atau kulit jeruk.
Dalam sesi praktik, peserta tidak hanya belajar teknik memanggang, tetapi juga dikenalkan pada kosakata dapur, ungkapan sehari-hari, hingga budaya makan khas Prancis. Interaksi langsung selama proses memasak membuat peserta lebih percaya diri menggunakan bahasa asing dalam situasi nyata.
Direktur Alliance Française Semarang, Kiki Martaty, mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk pembelajaran bahasa yang kontekstual.
“Bahasa tidak bisa dipisahkan dari budaya. Melalui kegiatan seperti ini, peserta tidak hanya belajar kata-kata, tetapi juga merasakan langsung nilai dan tradisi yang menyertainya,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan baking and talk menjadi metode yang efektif karena menghadirkan interaksi langsung dengan penutur asli dalam suasana santai. Hal ini dinilai mampu meningkatkan kepercayaan diri sekaligus memperluas wawasan budaya peserta.
Kegiatan yang terbuka untuk umum ini diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari pemula hingga pecinta kuliner. Dengan konsep yang intim dan komunikatif, kelas ini menjadi alternatif pembelajaran yang memadukan rasa, bahasa, dan pengalaman lintas budaya dalam satu meja.
Kiki Martaty berharap kolaborasi semacam ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat. “Kami ingin kegiatan seperti ini menjadi jembatan untuk mengenal dunia, dimulai dari hal sederhana—dari dapur,” tuturnya. (Christian Saputro)




