MOJOWARNO — Suasana khidmat dan hening menyelimuti interior Gereja Kristen Jawa Wetan (GKJW) Mojowarno, Jombang, pada Sabtu (18/4/2026). Di dalam gedung gereja berusia ratusan tahun yang sarat dengan nilai sejarah tersebut, Rudi Prasetyo, Wakil Ketua 2 Persekutuan GKJW Mojowarno, berdiri tegak memaparkan narasi mendalam tentang perjalanan panjang gereja ini kepada puluhan peserta rombongan ziarah “Ceng Beng Gus Dur 2026”.
Kegiatan ziarah yang diinisiasi oleh Boen Hian Tong ini bukan sekadar ritual tahunan untuk menghormati arwah leluhur atau tokoh bangsa, melainkan sebuah upaya konkret merawat memori kolektif tentang toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Tanah Air. Kehadiran puluhan peserta dari berbagai latar belakang etnis dan agama di dalam ruang ibadah yang megah ini menjadi bukti hidup bahwa semangat pluralisme yang pernah digaungkan oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih terus bergema kuat hingga kini.
Dalam pemaparannya, Rudi Prasetyo mengajak para peserta untuk merasakan langsung atmosfer sejarah yang tersimpan di setiap sudut bangunan. Ia menceritakan bagaimana gereja ini tidak tumbuh dalam ruang hampa, melainkan berdampingan secara harmonis dengan masyarakat Muslim mayoritas di sekitarnya selama lebih dari satu abad.
“Gereja ini bukan hanya bangunan batu dan kayu. Ia adalah rumah bagi nilai-nilai kemanusiaan yang diajarkan oleh para pendahulu kita, termasuk Kiai Mohammad Idris Campha dan para misionaris yang menghormati adat lokal,” ujar Rudi di hadapan puluhan peserta yang tampak antusias menyimak, sambil sesekali menunjuk detail arsitektur kuno di sekitar mereka.
Rudi menekankan bahwa sejarah GKJW Mojowarno sarat dengan contoh nyata akulturasi budaya dan agama. Dari arsitektur bangunan hingga tradisi ibadah, semuanya mencerminkan upaya untuk menjadi “garam dan terang” tanpa kehilangan identitas kearifan lokal. Hal ini sejalan dengan filosofi Gus Dur yang selalu menekankan pentingnya pribumisasi agama dan penghargaan terhadap perbedaan.
Boen Hian Tong, sebagai inisiator kegiatan Ceng Beng Gus Dur, menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat dari pihak gereja. Menurutnya, dialog sejarah yang dilakukan di dalam ruangan bersejarah ini memberikan dimensi spiritual dan emosional yang lebih dalam bagi para peserta.
“Kami datang ke sini bukan untuk mencari perbedaan, tetapi untuk menemukan benang merah kemanusiaan yang mengikat kita semua. Cerita Pak Rudi tentang sejarah gereja ini, yang disampaikan tepat di jantung bangunannya, mengingatkan kita bahwa toleransi di Mojowarno sudah berjalan lama, jauh sebelum istilah ‘multikulturalisme’ populer,” kata Boen.
Puluhan peserta ziarah juga diajak berkeliling area gereja, melihat prasasti-prasasti kuno, dan mendengarkan kisah-kisah inspiratif tentang bagaimana umat Kristen dan Muslim di Mojowarno saling bantu dalam suka dan duka. Momen ini menjadi refleksi mendalam bagi banyak peserta, terutama generasi muda, tentang makna nyata dari kehidupan berbangsa yang inklusif.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama lintas iman, sebagai simbol komitmen bersama untuk terus menjaga kerukunan. Bagi Rudi Prasetyo dan jemaat GKJW Mojowarno, kunjungan ini adalah pengingat bahwa warisan terbesar yang mereka miliki bukanlah gedung gereja yang megah, melainkan hubungan baik dengan sesama manusia yang telah terjalin turun-temurun.
Di Mojowarno, sejarah tidak hanya dibaca dari buku, tetapi dialami melalui interaksi hangat antarwarga yang berbeda keyakinan. Dan sore itu, di dalam dinding-dinding tua yang menyimpan ribuan cerita, sejarah tersebut kembali hidup, menginspirasi langkah kaki puluhan peserta yang pulang membawa pesan damai. (Christian Saputro)




