SEMARANG – Peringatan Hari Nasional Prancis (Bastille Day) 2026 di Alliance Française (AF) Semarang, Sabtu (18/7/2026), tidak diisi dengan seremonial biasa. Malam itu menjadi ajang dialog strategis untuk mempersiapkan program Napak Tilas Arthur Rimbaud (NTAR) dan Residensi Silang Semarang–Prancis. Sebuah inisiatif yang mengubah perayaan diplomatik menjadi kerja nyata pelestarian sejarah sastra.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 4 Semarang, Universitas Negeri Semarang (UNNES), serta sejumlah penulis dan budayawan lokal. Kehadiran mereka menandai pergeseran paradigma: dari sekadar mengenang penyair legendaris Prancis, Arthur Rimbaud, menuju rekonstruksi sejarah yang melibatkan arsip, transportasi, dan akademisi.
Direktur AF Semarang, Dra. Kiki Martaty Wijaya, menjelaskan bahwa tahun 2026 bertepatan dengan momentum 150 tahun jejak Rimbaud di Indonesia. “Rimbaud bukan hanya milik Prancis, tetapi telah menjadi bagian dari sejarah yang menghubungkan kedua bangsa. Kami ingin menghidupkan kembali jejaknya di Semarang dan Salatiga sebagai ruang perjumpaan antara sastra, sejarah, dan masyarakat,” ujar Kiki.
Program NTAR dijadwalkan berlangsung pada 7–8 Agustus 2026 di Semarang dan Salatiga. Namun, persiapannya dimulai jauh hari melalui validasi data historis. Dalam sesi diskusi, tim riset menampilkan infografis dan peta hasil kolaborasi dengan Dr. Nina Witasari dari UNNES. Peta tersebut merekonstruksi rute Rimbaud, mulai dari Stasiun Samarang, kawasan Kota Lama, barak militer, hingga lokasi yang kini menjadi Bank Jateng Cabang Salatiga dan rumah dinas Wali Kota Salatiga.
Untuk memperkuat akurasi sejarah, PT KAI dilibatkan secara aktif. Executive Vice President PT KAI Daop 4 Semarang, Mohammad Arie Fathurrochman, menyambut baik kolaborasi ini. “Sejarah transportasi kereta api adalah tulang punggung penelusuran perjalanan Rimbaud di Jawa. Kami siap menyediakan data dan arsip perkeretaapian untuk mendukung rekonstruksi tersebut,” katanya.
Selain aspek sejarah, acara juga membahas masa depan sastra melalui program Residensi Silang. Dalam kelompok diskusi terpisah, para penulis berdialog dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang tentang peluang mengirim sastrawan Semarang ke Prancis. Tujuannya jelas: memperluas jejaring sastra internasional dan menciptakan narasi budaya yang setara.
Suasana malam itu dibuka dengan simbolisme persahabatan melalui lagu kebangsaan Indonesia dan Prancis. Nathan Roux, pemagang asal Prancis, membacakan puisi “Sensation” karya Rimbaud dalam bahasa aslinya, sebelum Suluh Edhi Wibowo menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Pembacaan puisi itu menjadi pengingat bahwa meski terpisah oleh waktu dan geografi, emosi sastra tetap universal.
Hadir pula tokoh-tokoh sastra seperti Tryanto Triwikromo, Gunoto Saparie (Ketua Satupena Jawa Tengah), Adnan Ghifari, Sulis Bambang, dan Tjahjono Rahardjo. Mereka sepakat bahwa keterlibatan multi-pihak adalah kunci untuk menyusun narasi sejarah yang utuh.
“Semoga dari Semarang lahir model diplomasi budaya yang berangkat dari riset dan kolaborasi nyata. Dengan demikian, peringatan 150 tahun Rimbaud tidak hanya menjadi kenangan, tetapi inspirasi bagi kerja sama masa depan,” tutup Kiki.
Melalui forum ini, AF Semarang berharap NTAR tidak berhenti sebagai agenda tahunan, melainkan berkembang menjadi ekosistem kolaborasi riset, pelestarian arsip, dan pertukaran budaya yang berkelanjutan, sekaligus mengukuhkan posisi Semarang sebagai simpul penting dalam peta sastra dunia. (Christian Saputro)




