Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro
Malam itu, panggung Gedung Sri Budoyo tidak sekadar menjadi ruang pertunjukan. Ia bertransformasi menjadi semacam altar kebudayaan. Cahaya lampu meredup, menyisakan kegelapan yang penuh harap. Gamelan menabuh nada pelan, seolah menahan detak jantung waktu. Penonton menahan napas. Lalu, dari singgasana kahyangan, Sang Hyang Wenang mengangkat tangan dan melafalkan doa yang usianya telah melampaui ratusan tahun.
“Hong Wilaheng Sekaring Bawana Langgeng, Om Awigenam Astu Namo Sidham.”
Kalimat itu mengalir pelan, nyaris seperti embun yang jatuh ke bumi kering. Ia bukan sekadar mantra pembuka sebuah lakon. Ia adalah doa yang memanggil ingatan kolektif. Ingatan tentang sebuah kesenian yang telah melewati badai perang, pergantian rezim politik, perubahan selera masyarakat, hingga gelombang industri hiburan modern yang terus menggerus ruang bagi seni tradisi.
Di usia ke-89, Wayang Orang Ngesti Pandowo memilih tidak merayakan dirinya dengan pesta pora atau kemewahan kosong. Ia merayakan dirinya dengan sebuah harapan.
Harapan itu bernama Wahyu Purbo Sejati.
Dalam kosmologi pewayangan, wahyu sering dipahami sebagai legitimasi kepemimpinan atau kekuasaan. Ia turun kepada ksatria yang dianggap paling pantas memikul amanat negara. Namun, lakon “Wanita Tangguh: Wahyu Purbo Sejati” menawarkan tafsir yang radikal dan berbeda. Wahyu bukan hadiah bagi mereka yang paling kuat secara fisik atau politik. Ia justru bersemayam pada mereka yang paling setia merawat kehidupan, meski dalam kesunyian.
“Wahyu Purbo Sejati turun dan bersemayam dalam cipta, rasa, dan karsa manusia berbudi luhur.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi di dalamnya tersimpan filsafat Jawa yang telah berabad-abad menjaga keseimbangan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Tuhan. Wahyu bukan sesuatu yang jatuh dari langit tanpa syarat. Ia lahir dari laku. Dari kesabaran yang panjang. Dari pengabdian yang tak kenal lelah.
Mungkin itulah sebabnya doa itu terasa begitu dekat dengan perjalanan hidup Ngesti Pandowo.
Delapan puluh sembilan tahun bukanlah usia yang pendek bagi sebuah kelompok seni pertunjukan. Sejak berdiri pada 1 Juli 1937, Ngesti Pandowo telah berpindah-pindah panggung, mengalami masa kejayaan, lalu menyaksikan bioskop, televisi, internet, hingga media sosial mengambil alih perhatian generasi muda. Banyak kelompok wayang orang lain tumbang, tersapu arus zaman yang deras.
Tetapi Ngesti Pandowo tetap berdiri.
Kadang dengan gedung yang tidak penuh penonton.
Kadang dengan honor pemain yang jauh dari cukup untuk hidup layak.
Kadang hanya bertahan karena keyakinan teguh bahwa kebudayaan tidak boleh dibiarkan mati begitu saja.
Di situlah sesungguhnya Wahyu Purbo Sejati menemukan maknanya yang paling dalam.
Ia tidak turun kepada mereka yang hanya mengejar tepuk tangan gemuruh.
Ia turun kepada mereka yang memilih bertahan ketika panggung mulai sepi dan sunyi.
Ketika Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, memerankan tokoh Sang Hyang Wenang pada malam perayaan itu, sesungguhnya yang tampil di atas panggung bukan hanya seorang kepala daerah. Yang hadir adalah simbol bahwa negara semestinya ikut menjaga kebudayaan. Bahwa wayang orang bukan sekadar tontonan nostalgia atau artefak museum. Ia adalah ruang hidup tempat nilai-nilai kejujuran, gotong royong, kesetiaan, dan kemanusiaan diwariskan kepada generasi baru.
Ketika doa dilantunkan agar Ngesti Pandowo tetap langgeng, sesungguhnya doa itu tidak hanya ditujukan kepada satu kelompok seni. Ia adalah doa agar Indonesia tidak kehilangan ingatan budayanya sendiri.
Pada bagian akhir titahnya, Sang Hyang Wenang mengucapkan harapan yang sederhana namun mendalam:
“Muga Jagad Wayang Ngesti Pandawa langgeng, lestari, hambabar arum mangambar ambar, ngrembaka hanjayeng bawana sak indhenging Nuswantara.”
Semoga Wayang Orang Ngesti Pandowo tetap lestari.
Semoga namanya terus harum menyebar.
Semoga berkembang dan mewangi.
Semoga menjadi cahaya bagi seluruh Nusantara.
Kalimat itu terasa seperti doa seorang ibu kepada anaknya yang hendak berangkat merantau jauh. Tidak meminta kekayaan materi. Tidak meminta kemegahan istana. Hanya berharap sang anak tetap hidup. Tetap memberi manfaat. Tetap menjadi terang di tengah kegelapan.
Barangkali, di situlah letak keagungan kebudayaan Jawa. Ia tidak pernah bercita-cita menguasai dunia dengan kekerasan. Ia hanya ingin terus hidup di hati manusia, dirawat dengan cinta.
Ketika lampu panggung padam, gamelan berhenti berbunyi, dan penonton perlahan meninggalkan gedung, doa itu sesungguhnya belum selesai. Ia masih menggantung di udara Semarang, meresap ke dalam tanah kota ini. Masih menunggu untuk dijawab oleh siapa saja yang percaya bahwa kebudayaan adalah rumah bersama.
Sebab Wahyu Purbo Sejati bukan sekadar wahyu bagi para ksatria dalam cerita. Ia adalah panggilan bagi setiap orang untuk menjadi penjaga ingatan.
Menjaga panggung agar tetap menyala.
Menjaga gamelan agar tetap berbunyi.
Menjaga wayang orang agar tetap bercerita.
Sebab selama kisah-kisah itu masih dipentaskan, selama masih ada orang yang bersedia mendengarkan dengan hati, Ngesti Pandowo belum pernah benar-benar menua.
Di usia ke-89, ia justru sedang mengajarkan bahwa keabadian bukan soal panjangnya usia kronologis, melainkan kesediaan untuk terus menyalakan api kebudayaan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan pada malam itu, di bawah langit Semarang, doa Wahyu Purbo Sejati kembali dilepaskan ke angkasa—sebuah harapan agar Wayang Orang Ngesti Pandowo tidak hanya bertahan hidup, tetapi terus menjadi suluh yang menerangi perjalanan panjang kebudayaan Indonesia.
Semarang 19 Juli 2026




