Anggota DPRD Menyebut Proyek Dinding Penahan Tanah Sungai “Gagal Total”

Sumaterapost.co – Ogan Ilir | Lagi-lagi proyek pembangunan dinding penahan tanah di sungai Ogan yang berlokasi di desa Serijabo Kecamatan Sungai Pinang Kabupaten Ogan Ilir yang dibangun ulang beberapa waktu lalu, pengerjaannya diduga dilakukan asal jadi. Pasalnya, proyek senilai Rp. 8 miliar tersebut dinilai gagal dan hasilnya tidak sesuai spesifikasi/RAB.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh anggota DPRD Dapil III M. Ikbal kepada media ini melalui sambungan telepon selulernya kemarin malam. Menurutnya berdasarkan hasil reses bersama anggota DPRD OI Dapil III, dinyatakan bahwa proyek pembuatan dinding penahan tanah sungai Ogan di desa Serijabo tersebut tidak sesuai spesifikasi dan telah menyalahi RAB.

“Jadi berdasarkan hasil reses dari temuan kami beberapa waktu lalu itu di lapangan, kami bersama anggota DPRD OI Dapil III lainnya menilai proyek yang habiskan dana milyaran rupiah ini telah menyalahi bahkan keluar jauh dari RAB nya”, kata Ikbal via telepon, Minggu, (5/12) malam.

Lebih lanjut dikatakan Ikbal via teleponnya, seharusnya dengan dana sebesar itu proyek ini sudah selesai dan hasilnya semaksimal anggaran yang dihabiskan. Namun kenyataannya, proyek ini tidak berjalan sebagaimana mestinya dan hasilnya tidak sesuai ekspektasi.

“Kami sangat menyayangkan ketidakprofesionalan pihak kontraktor dan pihak penyelenggara proyek ini. Hal ini jelas sangat memalukan dan merusak citra mereka ke depannya. Kami sangat kecewa dengan hasil kerja mereka dan semua pihak yang terlibat di dalamnya. Semakin ke sini semakin terlihat buruk, dinding penahan tanah itu makin hari makin miring, hampir ambruk. Proyek ini kami sebut sudah gatot alias gagal total”, tandasnya tegas.

Dihubungi terpisah, Yeni selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek ini menampik hal tersebut. Menurutnya, proyek ini sudah sesuai spek dan kini tengah dibenahi oleh penyedia (kontraktor). Lagipula, proyek ini sedang berada dalam masa perawatan selama 6 bulan ke depan. Sebagai PPK dirinya tentu akan terus mengawasi jalannya proses pemeliharaan ini hingga selesai.

“Dalam hal ini, pihak penyedia siap untuk bertanggungjawab. Dan kami akan terus memerintahkan mereka untuk segera mengatasi hal tersebut. Bahkan kemarin itu, mereka sampai mendatangkan ahli geoteknik dari Bandung untuk menganalisa faktor penyebab terjadinya kendala dalam proyek ini. Dan ternyata, kemiringan tersebut terjadi karena tali sling yang terpasang kemarin itu kendor sehingga tidak kuat menahan beban tanah di atasnya”, ujar Yeni via telepon selulernya.

Masih katanya, kita sangat bersyukur karena pihak penyedia siap untuk mengatasi hal ini. Mereka siap bertanggungjawab terhadap proyek ini.

“Saat ini kan pengerjaannya sudah berjalan 2 bulan lebih dan pemeliharaan ini terus berlangsung hingga 6 bulan ke depan. Dan itu menjadi tanggungjawab mereka. Ditambah lagi terkendala faktor alam (musim hujan) sehingga mengakibatkan tanah di atasnya basah, menambah beban berat. Kemudian adanya arus air di dalam sungai dan tali sling yang kendor tadi. Kendala itulah yang menyebabkan hal ini terjadi. Untungnya mereka siap bertanggungjawab, tidak lari meninggalkan proyek ini”, jelasnya.

Ikbal menambahkan, penyebab kegagalan proyek ini bukanlah dikarenakan faktor alam seperti yang dikatakan Yeni. Menurutnya, sejak awal proyek ini memang sudah tidak sesuai, hingga akhirnya dibongkar ulang dan masih belum selesai juga.

“Dan kini mereka katakan tengah dibenahi dan masih dalam masa pemeliharaan, tapi hasilnya malah semakin buruk dengan alasan terkendala musim hujan. Kita lihat hasilnya setelah masa pemeliharaan ini berakhir dan kami sanksi akan hasil akhirnya seperti apa. Proyek ini sudah tidak sesuai dengan perencanaan, pengerjaannya pun asal jadi dan penampakannya yang sekarang semakin memprihatinkan, benar-benar sangat mengecewakan”, pungkasnya Ikbal. (F’R)