“Dua Petani Rupa” Masdibyo dan Klowor Waldiyono Taja Pameran di Pop Up Gallery Talenta

Klowor Waldiyono dan Masdibyo "Dua Petani Rupa" dari Yogyakarta dan Tuban pameran bareng di Pop Up Gallery, Talenta, Plaza Indonesia, Jakarta, mulai 8 - 31 Oktober 2021 ( Foto : Dok. Talentaorganizer)

Jakarta – Dua perupa Masdibyo (Tuban) dan Klowor Waldiyono(Jogjakarta) pameran bareng di Pop Up Gallery Talenta, Unit E 27, Lantai 2, Plaza Indonesia ,Jakarta. Pameran yang mengusung tajuk : “Dua Petani Rupa” menaja puluhan karya Masdibyo dan Klowor Waldiyono dari 8 – 31 Oktober 2021.

D Safitri A dari Talenta Organizer mengatakan, Masdibyo dan Klowor Waldiyono dua seniman yang berkepribadian unik dan konsisten dalam berkesenian. “Mereka adalah seniman yang tangguh, terbukti dalam masa pandemi keduanya tetap berkarya dan berkarya,” ujar Safitri.

Klowor Waldiyono dan Masdibyo “Dua Petani Rupa” yang konsisten terus berkarya dan berkarya, karena keduanya menyadari sebagai Pekarya dalam jagad lukis harus terus melukis untuk selalu meningkatkat kualitas kalau mau panennya melimpah. ( Dok. Talentaorganizer)

Masdibyo dan Klowor Waldiyono, lanjut Safitri, alumni dari perguruan tinggi yang berbeda, dari kota berbeda, konsep karya yang berbeda, karya mereka bertemu di sini dalam satu ruang pamer,” imbuh Safitri.

Sedangkan karya-karya yang ditaja, lanjut Safitri, adalah gambaran perjalanan Mas Sudibyo dan Klowor Waldiyono dalam berkesenian. Harapan kami pameran bertajuk : “Dua Petani Rupa” ini bisa ikut memajukan seni rupa dan seniman Indonesia.“Masing-masing punya kekuatan dalam karya-karya mereka. Sebuah kehormatan kami bisa terlibat dalam perjalanan berkesenian mereka,” tandas Safitri.

Baca Juga :  Kampung Batik Djadoel Gelar” Tradisi Titiran” Mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang

Dua Petani Rupa

Sementara itu, Klowor Waldiyono didampingi Masdibyo mengatakan, tajuk Dua Petani Rupa diusung, karena pola saya dan Masdibyo dalam menyikapi pilihan tak ubahnya petani, untuk bisa menikmati panen yang berkualitas butuh proses panjang. “Kami bukan generasi instan yang memimpikan hidup nyaman tanpa melalui proses yang seharusnya,” ujar Klowor.

Petani yang baik, lanjut Klowor “Kucing” Waldiyono, bukan sekedar berapa puluh tahun bercocok tanam, melainkan juga dibutuhkan pengetahuan yang memadai terkait dunia pertanian yang digelutinya, managemen , serta pemasran hasil pertaniannya tentunya. Begitu juga kami sebagai Pelukis yang sepenuh hati dan sepenuh waktu kami dedikasikan bagi seni lukiss.

“Kami tidak mau menjadi Pelukis yang hanya pandai mengisi kanvas namun tidak tahu harus bagaimana setelah lukisan lahir, sementara untuk hidup kami butuh finansial untuk segalanya, untuk menghidupi keluarga, untuk bersosial, untuk masa depan anak, untuk lingkungan, dan utamanya untuk kami terus eksis semua membutuhkan uang, karena semakin kami melangkah, semakin kami mengerti. Jer basuki mawa bea ” ujar lulusan FSRD ISI Yogyakarta.

Baca Juga :  Kampung Batik Djadoel Gelar” Tradisi Titiran” Mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang

Hal senada diungkapkan, pelukis Finalist Competition Philip Morris Art Award 1996 mengatakan, sebagai Pelukis membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk meningkatkan kualitas karya dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk meningkatkan kulaitas karya dibutuhkan media dengan kualitas yang lebih baik dari yang sebelumnya. “Untuk menuju ruang yang lebih luas untuk langkah yang lebih jauh juga butuh dana yang tidak kecil. Bila semuala hanya di lingkungan kampung halaman kemudian menuju ibukota, menuju ke negara tetangga, ke negara yang lain ke negara yang lain lagi, begitu seterusnya. Pada dasarnya kami menapaki dunia seni lukis yang kami geluti ini ibaratnya melangkah tanpa ujung,” papar Masdibyo.

Kami sadar bahwa tak ada pencapaian tanpa proses panjang, lanjut Masdibyo, da n bagaimana pencapaian yang kami dapat tentu selaras dengan bagaimana kita menyikapi proses itu. “Kami tidak mau menjadi Pelukis yang terbelenggu doktrin salah kaprah, bahwa menjadi Pelukis jangan memikirkan pasar,menjadi Pelukis melukis saja, dan sejenisnya. Sebagai Pelukis kami harus faham terhadap pasar kami sendiri. Namun kami juga sadar bahwa untuk mendapatkan pasar yang mana tentu juga selaras dengan kualitas kar ya kami, ” terang Masdibyo.

Baca Juga :  Kampung Batik Djadoel Gelar” Tradisi Titiran” Mengenang Pertempuran Lima Hari di Semarang

Untuk itulah, lanjut Masdibyo, kami berdua tidak henti-hentinya terus belajar tentang semua hal terkait. Hal ini kamilakukan bukan semata untuk kepentingankami namun juga sebagai imbangan bagi kebaikan hati para Pecinta karya kami yang tela h menggelontorka n da na nya untuk mengoleksi karya kami. “Mereka (kolektor—red) yang membuat kami yang semula tidak memiliki apa-apa menjadi serba punya apa saja yang kami butuhkan, agar beliau-beliau yang luar biasa itu tidak membuang uang sia-sia karena membeli lukisan kami ,” ujar Masdibyo yang diaminkan Klowor Waldiyono.
(Christian Saputro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here