Endang Lestari Taja Pameran Tunggal, Refleksi Alam Melalui Pencitraan Pola Dasar

Endang Letari merilis pameran tunggalnya bertajuk: Nature's Allure di Omah Budoyo, Budoyo, Yogyakarta.

Yogyakarta – Endang Letari merilis pameran tunggalnya bertajuk: Nature’s Allure di Omah Budoyo,  Yogyakarta. Pameran Nature’s Allure yang akan dibuka untuk umum mulai 9 Desember 2022 akan berlangsung hingga 10 Januari 2023. Di samping pameran juga akan digelar acara Workshop CLay Making with Endang Lestari yang akan berlangsung 25 November dan Display karya Workshop Clay Making.

Pameran tunggal ini kali ini merupakan rilis terbaru dari seri #naturamagica, sebuah seri permenungan atas keajaiban yang dimiliki oleh cara alam menjadi dan inspirasi dari warisan budaya yang dibuat oleh kreator dari masa klasik Nusantara.

Bagi E. Lestari alam tak ubahnya rahim yang menyimpan, mematangkan dan melahirkan; tumbuhan sebagai daya dukung kehidupan, hingga kuburan arca dan pusaka. Ialah pusat orientasi pandangan hidup dan spiritual.

Bersama alam dan segala berkahnya tersebut Endang Lestari berkarya. Ia berusaha sedekat mungkin dalam segala sesuatunya; berkarya bak bermimpi secara sadar dengan intuisi yang diasah sebaik mungkin agar alam itu sendiri mekar dan tertuang dalam beragam karya sebab dari sanalah berkah dan karunia lahir untuk mempersembahkan diri pada kehidupan.

Baca Juga :  DAAL Siap Gelar Workshop Penciptaan Tari & Musik Bertajuk LAPAH

Dalam seri ini Lestari menampilkan imaji arketipal melalui media khusus keramik yang diungkapkan ke dalam bentuk keramik kepatungan (sculptural ceramic) dan objek.

Melalui imaji itu, Lestari ingin leluasa mengeksplorasi alur alam melalui berbagai kemungkinan ekspresi bentuk yang bercorak organik dan relik, selanjutnya Ia membiarkan objek-objek mencari sendiri asosiasi-asosianya. Imaji arketipal itu Ia abadikan melalui pembakaran tanah liat dan pengglasiran sesuai kebutuhan penciptaan bentuk dan alurnya.

Seperti pola alam, karya ini bertumpu pada pola pertumbuhan, eksplorasi yang tak terbatas dari kehidupan dan roh yang menggerakkannya. Karya-karya ini dapat dilihat sebagai responnya atas manusia yang ingin berkontemplasi di tengah kehidupan modern yang kian bertumpu pada kecepatan, materialitas, dan kekosongan.

“Melalui pameran membuka pintu bagi karya-karya, serta bagi banyak pihak, untuk saling menemukan dan mengalami satu sama lain, beragam keindahan sederhana dari alam, dengan segala makna yang dibawanya serta,” ujar Magister Seni lulusan ISI Yogyakarta ini.

Tentang Kiprah Endang Kestari

Endang Lestari dilahirkan di Banda Aceh, 1976. Perupa ini berhasil menempuh pendidikan di Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta dan menyelesaikan program Magister. Selain sebagai seniman, Endang juga pendidik, dan menjalankan Proyek ArsKala. Dia dibesarkan dalam kedua budaya di Jawa dan Sumatera, Indonesia, Sebagian besar karyanya mengacu pada objek dan figur dalam berbagai konteks naratif melalui media dan teknik yang berbeda, panjang dari objek, karya dua dimensi hingga instalasi seni media.

Baca Juga :  Goenarso Siap Taja Pameran Tunggal : “Satoe” di TAN Artspace Semarang

Ketertarikannya pada pengalaman ketidaksadaran, bersama hubungannya dengan alam, sejarah, dan konteks memori membawa bentuk intertekstual pada karyanya. Ia telah mengikuti beberapa pameran dan residensi di Indonesia dan luar negeri, seperti residensi dan pameran, Leichtenstain Trienalle dan bengkel keramik Kunshulle Leichtenstain, Swiss dan Austria. (2021) “Electralogy”, Shigaraki, Jepang, 2011, terpilih untuk berpartisipasi dalam 1st and 2nd Jakarta Contemporary Ceramic Biennale, 2009, 2012 dan finalis Bandung Contemporary Art Awards 2010, “The Forgotten Forest”, Rainforest Fringe Festival , Old Court House, Kuching, Malaysia, 2018. Karyanya “Conversation in Silence, City Lost in Words and Forbidden to Tread on the Grass, diulas dan dijadikan sampul buku dalam buku “Gendered Wars, Gendered Memories”

Endang bisa dihubungi via kontak IG: @tarilogy atau Email: tarilogy272@gmail.com

Tentang Omah Budoyo

Omah Budoyo merupakan sebuah galeri seni yang mengusung misi pelestarian budaya dan lahir dari komitmen dan semangat Bapak Warwick Purser. Sebagai seorang filantropi yang sudah lebih dari empat puluh tahun berkontribusi dalam pengembangan seni kriya Indonesia agar lebih dikenal di kancah internasional, konsistensi Bapak Warwick Purser turut terwujud dalam Omah Budoyo. Untuk menjaga serta menawarkan makna/nilai baru dalam warisan budaya nusantara, Omah Budoyo yang belum genap berusia satu tahun dan berbasis di Yogyakarta memiliki berbagai tawaran pengalaman budaya melalui kegiatan reguler workshops (batik, gamelan, macapat, ceramic, cooking, dan banyak lainnya), curated showroom yang menawarkan beragam koleksi desainer kenamaan Indonesia, resto dan kafe yang menyajikan variasi menu nusantara, serta sebuah galeri seni yang memamerkan karya-karya seniman dalam negeri.

Baca Juga :  Mozaik Perang Kembang, Kecamuk Perang Batin di Panggung Kehidupan

Misi pelestarian budaya yang diusung Omah Budoyo terwujud dalam perhelatan Ode to My Origins pada awal tahun, pameran MARACOSA oleh Papermoon Puppet Theatre pada bulan April – Juni, serta pameran Batik ala Mexicana pada bulan September – Oktober 2022. Di masa depan, misi pelestarian ini akan terus menjadi suluh semangat Omah Budoyo dalam setiap kegiatan dan aktivitas. (Chirstian Saputro)