Sumatera Post – Para petani di Desa Malakoni, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, mengalami gagal panen tahap pertama akibat diduga keterlambatan distribusi pupuk. Kondisi ini memicu kemarahan warga yang menuntut pemerintah daerah bertanggungjawab dan memberikan ganti rugi.
Menurut keterangan sejumlah petani, dugaan keterlambatan distribusi pupuk telah berlangsung sejak awal musim tanam sampai umur padi dua bulan.
Akibatnya, tanaman padi yang menjadi sumber utama penghidupan mereka tidak dapat tumbuh dengan baik sehingga mengalami kerugian.
“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tanpa pupuk yang cukup, hasil panen kami jauh dari harapan,” ujar salah seorang petani dengan nada kecewa, 18 Februari 2026.
“Bayangin pak empat hektar saya tanam kuning semua karena gak ada pupuk, saya sangat kecewa kepada Penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan Deden selaku penyuplai pupuk. Tidak sesuai dengan janji pak,” tambahnya
Awak media Sumatera Post langsung mengkonfirmasi Deden selaku penyuplai pupuk yang diduga menyuplai dengan waktu yang dikeluhkan para petani.
“Darimana ruginya petani itu, bibit aja dari pemerintah dan pupuknya juga ada digudang. Kalau masalah terlambat itu biasa,” ujar Deden.
Masyarakat Desa Malakoni mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil tindakan konkret dalam menyelesaikan masalah ini. Mereka menuntut adanya evaluasi terhadap sistem distribusi pupuk dan meminta agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
Selain itu, mereka juga menuntut ganti rugi atas kerugian yang telah mereka alami akibat gagal panen ini.
Di tengah kontradiksi antara harapan petani dan pernyataan meremehkan dari penyuplai, pemerintah daerah kini berada di persimpangan jalan.
Akankah mereka hadir sebagai solusi yang adil, atau membiarkan kekecewaan ini terus menghantui Desa Malakoni? Hanya waktu yang akan menjawab.
//AN.HK//




