SEMARANG — Konsorsium Kerja Budaya (KKB) akan menggelar “Gelar Budaya untuk Perempuan, Demokrasi dan Kebudayaan” di Galeri Industri Kreatif pada 25 April hingga 10 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan rangkaian pameran seni, diskusi, hingga pertunjukan lintas disiplin sebagai ruang refleksi atas posisi perempuan dalam lanskap demokrasi dan kebudayaan nasional.
Koordinator KKB, Yuli Sulistianto BDN, menyebut isu perempuan diangkat karena kondisi yang dinilai masih belum ideal. Menurutnya, ruang demokrasi dan kebudayaan masih didominasi watak maskulinitas yang berkelindan dengan kepentingan kapitalisme global.
“Situasi nasional kita masih dipenuhi watak maskulinitas yang menghamba pada kapitalisme global. Memang muncul beberapa tokoh perempuan, tapi itu belum menunjukkan sebuah gerakan perempuan yang masif,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia pernah memiliki gerakan perempuan yang kuat dan kolektif dalam memasuki ruang publik.
Namun, sejarah juga mencatat adanya pembatasan yang membuat perempuan terpinggirkan ke ranah domestik dan kerap dipersempit hanya dalam perspektif tubuh dan gender.
Rangkaian kegiatan dalam gelar budaya ini meliputi pameran lukisan tunggal karya Hartono bertajuk “Sketsa Perempuan” yang berlangsung sepanjang acara, diskusi bertema perempuan, demokrasi, dan kebudayaan pada 27 April, serta pertunjukan musik dan sastra.
Selain itu, akan digelar pemutaran dan diskusi film “Sebuah Titik atau Koma” pada 5 Mei, diskusi kebudayaan bersama DeKaSe pada 7 Mei, hingga pentas musik “Untuk Marsinah” pada penutupan, 10 Mei.
Sekretaris Jenderal KKB, Kelana, menuturkan bahwa keseluruhan program dirancang sebagai medium ekspresi sekaligus penyampaian gagasan kritis. “Tampilan kesenian dalam gelar budaya ini memang lebih sebagai lontaran isu, agar publik ikut terlibat dalam percakapan yang lebih luas,” katanya.
Pembukaan acara direncanakan pada 25 April pukul 19.00 WIB dan akan dimeriahkan oleh sejumlah seniman, di antaranya kelompok musik Satoe Boemi, Pia Cipta, Elexa Gadih, Wahyu Nur Baskoro, Agus Ayah Satria dalam kolaborasi seni, serta partisipasi komunitas budaya Kota Semarang.
Selain sebagai ruang ekspresi, kegiatan ini juga diharapkan menjadi dorongan awal menuju Kongres Perempuan Nasional 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang di Semarang. Gelar budaya ini menjadi bagian dari upaya memperkuat wacana serta keterlibatan perempuan dalam dinamika demokrasi dan kebudayaan Indonesia. (Christian Saputro)




