Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro, pengamat seni rupa tinggal di Semarang
Di sudut Kota Semarang, di mana udara lembap pantai utara kerap membawa serta debu sejarah dan hiruk-pikuk perdagangan, ada seorang lelaki yang memilih untuk diam. Ia bukan pertapa yang menyepi di gua, melainkan seorang pelukis bernama Goenarso, atau yang akrab disapa Mas Gun. Di studionya yang sederhana, ia tidak sedang mengejar ketenaran atau memburu harga lelang yang fantastis. Mas Gun sedang melakukan sesuatu yang lebih purba: merangkai rasa. Ia adalah arsitek emosi yang membangun istana memori dari mozaik warna-warna berani, menciptakan ruang meditatif di tengah kebisingan dunia.
Seni rupa Indonesia, khususnya di Jawa Tengah, sering kali terjebak dalam dikotomi antara realisme yang kaku dan abstraksi yang terlalu elitis. Goenarso hadir menerobos batas itu dengan gaya “abstrak dekoratif” yang menjadi sidik jarinya. Namun, melabeli karyanya sekadar “dekoratif” adalah sebuah penyederhanaan yang berbahaya. Di balik lapisan cat akrilik yang ditumpuk dengan presisi dan keberanian, tersimpan fragmen-fragmen jiwa yang dirangkai menjadi satu kesatuan narasi visual. Bagi Mas Gun, kanvas bukanlah sekadar kain yang dibentangkan pada kayu; ia adalah altar. Di sanalah ia mempersembahkan rasa syukur atas napas yang masih berhembus, sekaligus mengadukan keterbatasan manusia kepada semesta.
Perjalanan estetika Goenarso bukanlah garis lurus yang mulus, melainkan sebuah spiral yang terus menaik, merefleksikan kedewasaan batinnya. Tahun 2022 menjadi tonggak penting ketika ia menggelar pameran tunggal bertajuk “SATOE”. Kata “Satoe” (satu) bukan sekadar angka, melainkan sebuah filosofi pemersatu. Dalam pameran itu, puluhan karya dihadirkan sebagai bukti bahwa di tengah kompleksitas kehidupan yang terpecah-pecah, seni mampu menyaringnya menjadi esensi yang tunggal dan utuh. Itu adalah momen kontemplasi di mana Mas Gun berhasil mengubah kerumitan hidup menjadi bentuk-bentuk geometris yang menenangkan; sebuah oase di gurun kebingungan.
Eksplorasi itu terus mengalir deras. Di Apel Watoe Gallery, lewat pameran “Say it With Color”, Goenarso seolah berteriak lantang tanpa membuka mulut. Ia meyakini bahwa warna memiliki frekuensi suara yang lebih jujur daripada kata-kata. Di sana, ekspresi dan dekorasi berpelukan erat, menciptakan harmoni yang memukau mata namun menusuk kalbu. Tak berhenti di situ, fase berikutnya ditandai dengan pameran “Border”. Di sini, Mas Gun bermain-main di tepi jurang makna. Ia menggali konsep “batas”: batas antara ruang dan rasa, antara realitas fisik yang kasatmata dan imajinasi yang liar, serta antara keterbatasan tubuh manusia dan kebebasan roh untuk berekspresi. Karya-karya dalam fase ini terasa seperti pergulatan sunyi, sebuah upaya mendefinisikan di mana kita berakhir dan di mana semesta dimulai.
Namun, jangan bayangkan Goenarso sebagai seniman soliter yang mengurung diri di menara gading. Justru sebaliknya, akarnya tumbuh subur dalam tanah kebersamaan. Ia adalah bagian dari denyut nadi ekosistem seni Semarang yang dinamis. Aktif dalam berbagai pameran kolektif, termasuk bersama Kelompok 5, Mas Gun menunjukkan bahwa baginya, seni adalah dialog. Ia belajar dari goresan rekan-rekannya, bertukar gagasan dalam diskusi-diskusi hangat, dan membiarkan karyanya “bernapas” melalui interaksi sosial. Sikap terbuka inilah yang membuat lukisannya tidak berjarak; ia mampu menjembatani si kritikus seni berkacamata tebal dengan ibu rumah tangga yang sekadar ingin menikmati keindahan warna.
Dalam pameran terbaru bertajuk “Meraga Rasa”, Goenarso membabarkan lima karya terbarunya yang menjadi kristalisasi dari perjalanan panjang tersebut. Setiap kanvas adalah sebuah bab dalam buku harian jiwanya.
Ada “Rindu Kampung” (50 x 50 cm), sebuah lukisan yang hangat dan memeluk. Dengan komposisi yang seimbang, Mas Gun menuangkan nostalgia yang universal. Siapa yang tidak rindu pada kampung halaman? Pada bau tanah setelah hujan, pada suara jangkrik di malam hari? Lukisan ini adalah kendaraan waktu yang membawa penikmatnya pulang ke akar asal-usul, mengingatkan bahwa sekuat apa pun kita terbang, tali pusar emosional kita tetap tertanam di tanah kelahiran.
Berbeda dengan kehangatan “Rindu Kampung”, karya “Whispering Hope” memancarkan energi yang lebih lirih. Sesuai judulnya—Bisikan Harapan—lukisan ini adalah manifestasi dari doa-doa kecil yang sering terabaikan. Warnanya mengalir tenang, ritmenya lambat, mengajak penonton untuk menunduk, mendengarkan suara hati sendiri yang selama ini tertutup bisingnya notifikasi gawai. Ini adalah karya tentang ketenangan di tengah badai, tentang harapan yang tipis namun tak pernah putus.
Lalu, ada “Rembulan Merah di Atas” (2003). Karya lawas ini, berukuran 50 x 60 cm, menjadi saksi fase awal eksplorasi Mas Gun. Rembulan di sini bukan sekadar benda langit, melainkan metafora. Warna merah yang mendominasi memberikan aksen dramatis, menciptakan ketegangan estetis antara keindahan malam dan kegelisahan manusia. Ia menangkap momen di mana alam tampak indah namun menyimpan misteri yang menakutkan; sebuah refleksi tentang dualitas kehidupan.
Dan yang paling anyar, “65 Desire” (2026). Dalam ukuran 50 x 50 cm, karya ini adalah representasi kematangan estetika Goenarso di usia yang semakin kepala enam. Angka “65” membuka ruang tafsir yang luas: apakah ini usia? Apakah ini jumlah hasrat yang belum terpenuhi? Atau sekadar penanda waktu? Komposisi warnanya berani, kontras, namun sangat terkontrol. Ini menunjukkan tangan seorang maestro yang sudah tidak lagi ragu. Ia meramu emosi hasrat dan perjalanan waktu menjadi bentuk visual yang padat makna. Ini adalah lukisan tentang penerimaan: bahwa hasrat adalah bahan bakar kehidupan, dan seiring waktu, ia berubah bentuk menjadi kebijaksanaan.
Melalui kelima karya ini, Goenarso tidak sedang pamer teknik. Ia sedang mengundang kita masuk ke ruang batinnya yang berlapis-lapis. Tentang rindu yang perih, harapan yang halus, simbol yang misterius, dan hasrat yang membara. Ia mengingatkan kita bahwa seni abstrak bukanlah teka-teki tanpa jawaban, melainkan cermin. Apa yang kita lihat di lukisan Goenarso adalah apa yang sedang kita rasakan di dalam dada kita sendiri.
Di lanskap seni rupa kontemporer Indonesia, Goenarso berdiri tegak dengan postur yang unik. Ia dekoratif namun tidak dangkal. Ia ekspresif namun terkendali. Dan di atas segalanya, ia jujur. Ia adalah bukti hidup bahwa keterbatasan—baik fisik maupun materi—bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Justru, keterbatasan itulah yang memacu kreativitas untuk menemukan ruang luas guna merayakan kehidupan.
Goenarso tidak hanya melukis di atas kanvas; ia melukis harapan di atas realitas yang sering kali kelabu. Bagi siapa saja yang bersedia berhenti sejenak dari kesibukan duniawi, menatap karyanya, dan membiarkan warna-warnanya meresap ke dalam sukma, akan ditemukan sebuah pesan sederhana namun powerful: Hiduplah dengan rasa. Biarkan warna menjadi bahasamu, dan biarkan seni menjadi doamu.
Di Semarang, di bawah langit yang sama yang menjadi inspirasinya, Mas Gun terus bekerja. Kuas di tangan kanan, rasa di hati kiri. Ia merangkai mozaik kehidupan, satu demi satu, hingga menjadi mahakarya yang abadi. (*)




