Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro, Jurnalis penyuka puisi tinggal di Semarang
Pada sebuah sore yang basah oleh gerimis, di sebuah ruang kerja dengan jendela bundar menyerupai porthole kapal, puisi itu lahir. Tidak dengan gegap gempita. Tidak pula dari meja yang penuh tumpukan teori sastra yang kaku. Ia datang perlahan—seperti seekor kumbang kecil yang merayap di kaca jendela, seperti alunan piano yang dimainkan pelan-pelan, seperti ingatan yang diam-diam menetes bersama rintik hujan.
Puisi itu bernama Honesta.
Kelak, puisi karya Eko Tunas ini dipilih menjadi tajuk antologi kenangan 90 tahun Nh. Dini yang diterbitkan Bengkel Sastra Semarang. Sebuah pilihan yang terasa ganjil sekaligus tepat. Sebab, Honesta bukan sekadar puisi penghormatan formal. Ia lebih menyerupai lorong batin: tempat di mana kenangan, perempuan, perjalanan, dan kesunyian duduk bersama dalam satu meja percakapan yang intim.
Di dalam dunia yang dibangun Eko Tunas, Honesta bukan hanya nama. Ia adalah sosok. Ia perempuan. Ia ingatan. Ia kejujuran yang hidup di antara benda-benda kecil yang sering luput dari perhatian manusia modern yang tergesa-gesa. Ada Kumbang Honesta. Ada Katherine Honesta. Dan ada Nh. Dini. Ketiganya seperti tokoh-tokoh yang berjalan pelan di tengah hujan, saling menyapa tanpa kata.
Eko Tunas pernah berkisah tentang ruang kerja Nh. Dini—ruang yang baginya lebih mirip kabin kapal ketimbang ruang menulis biasa. Jendela bundarnya menghadap hujan dan jalanan kota Semarang. Di kaca itulah, seekor kumbang kecil berjalan, seolah sedang menulis sesuatu dengan kaki-kakinya yang halus. Gerimis turun pelan. Cahaya senja meredup. Boneka-boneka diam di sudut ruang, menjadi saksi bisu. Lalu, piano dimainkan. Dari ruang itulah, kata-kata tumbuh.
Barangkali memang di sanalah sastra sejati dilahirkan: bukan dari keramaian seminar atau pidato kebudayaan yang bergema, melainkan dari kemampuan mendengar suara-suara kecil yang nyaris tak terdengar.
“Puisi bisa datang dari ilalang di belakang rumah,” kata Eko Tunas suatu ketika. Bisa pula dari lorong kota, kayu tua, hujan sore, atau seekor kumbang yang berjalan di jendela.
Maka, Honesta terasa seperti puisi yang tidak selesai ditulis di atas kertas. Ia hidup di udara, di percakapan, di kenangan, dan pada tubuh kehidupan itu sendiri. Dalam bait puisinya, Eko Tunas menulis:
“Bukan kaca jendela bulat berukir gerimis itu
Tapi air mata pergi ke tualang maha…”
Kalimat itu seperti membuka pintu ke dunia Nh. Dini: dunia seorang perempuan pengelana yang sepanjang hidupnya bergerak dari kota ke kota, dari bahasa ke bahasa, dari cinta ke luka, tanpa pernah benar-benar meninggalkan Indonesia di dalam dirinya. Jepang. Prancis. Semarang. Pantai. Gamelan. Menara. Laut hijau di dataran senja. Semuanya hadir sebagai serpihan perjalanan seorang Nh. Dini yang oleh Eko Tunas dibaca bukan hanya sebagai pengarang besar, tetapi sebagai manusia yang terus mengalir—sebagai “barang cair yang mengalir tanpa istirahat”, meminjam ungkapan Dini sendiri.
Di situlah karakter Katherine Honesta menjadi penting. Ia bukan sekadar tokoh imajinatif. Ia penjaga kehangatan. Ia saksi dari percakapan-percakapan kecil yang membuat sastra tetap memiliki denyut kemanusiaan. Di tengah dunia yang serba tergesa, Katherine seperti mengingatkan bahwa sastra membutuhkan ruang untuk mendengar, menunggu, dan merawat kepekaan.
Karena itu pula, Honesta akhirnya terasa lebih menyerupai rumah batin ketimbang sekadar judul buku. Ia adalah rumah tempat Nh. Dini tetap hidup. Rumah tempat hujan tak pernah benar-benar reda. Rumah tempat seekor kumbang kecil masih berjalan pelan di kaca jendela bundar, seolah terus menuliskan sesuatu yang belum selesai.
Dan mungkin memang sastra tak pernah selesai. Ia hanya berpindah dari satu hati ke hati lain. Dari satu kenangan ke kenangan berikutnya. Dari seorang pengarang kepada pembacanya yang diam-diam menyimpan luka dan cinta yang sama.
Di usia 90 tahun Nh. Dini, Honesta menjadi lebih dari sekadar tajuk antologi. Ia berubah menjadi penanda: bahwa karya sastra yang besar selalu lahir dari kemampuan mencintai hal-hal kecil—hujan, suara, perjalanan, perempuan, kesunyian, dan kenangan yang tak habis-habis diceritakan kembali.
Semarang 6 Mei 2026




