SEMARANG — Nama Arthur Rimbaud selama ini lebih dikenal sebagai penyair jenius Prancis yang mengubah wajah sastra modern dunia. Namun siapa sangka, sosok yang menghasilkan karya-karya monumental pada usia belia itu pernah menapakkan kaki di Jawa dan menjadi bagian dari sejarah Hindia Belanda.
Jejak itulah yang diangkat dalam diskusi publik bertajuk “Melacak Jejak Arthur Rimbaud: Kisah Sang Penyair Perancis dan Jalur Kereta NIS Semarang–Salatiga di Hindia Belanda” yang digelar di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang, Sabtu (13/6/2026).
Kegiatan hasil kolaborasi Alliance Française Semarang, Program Studi Ilmu Sejarah dan Magister Kajian Sejarah FISIP Universitas Negeri Semarang (UNNES), serta Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang itu menghadirkan Mukhamad Shokheh, S.Pd., M.A., Ph.D. sebagai pembicara utama. Diskusi dipandu oleh Suluh dan berlangsung hangat, cair, serta sarat pertukaran gagasan.
Direktur Alliance Française Semarang, Dra. Kiki Martaty Wijaya, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat dialog budaya antara Indonesia dan Prancis melalui sejarah, sastra, dan warisan bersama yang selama ini belum banyak diketahui publik.
“Arthur Rimbaud bukan hanya milik Prancis. Ia telah menjadi bagian dari warisan sastra dunia. Ketika kita menelusuri jejaknya di Jawa, sesungguhnya kita sedang membaca kembali sebuah pertemuan antara sejarah lokal dan sejarah global,” ujar Kiki.
Menurutnya, kisah perjalanan Rimbaud menunjukkan bahwa Jawa pernah menjadi bagian dari lintasan tokoh-tokoh besar dunia. Melalui forum semacam ini, masyarakat diajak melihat sejarah dari sudut pandang yang lebih luas dan lintas disiplin.
Dalam pemaparannya, Mukhamad Shokheh menjelaskan bahwa Arthur Rimbaud lahir di Charleville, Prancis, pada 20 Oktober 1854. Di usia remaja, ia telah menciptakan sejumlah karya yang kemudian dianggap revolusioner dalam sejarah sastra modern, antara lain Le Bateau Ivre, Voyelles, Une Saison en Enfer, dan Illuminations.
Namun, setelah mencapai puncak kreativitasnya sebelum usia 20 tahun, Rimbaud secara mengejutkan meninggalkan dunia sastra. Pada 1876 ia mendaftarkan diri sebagai tentara Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) dan berlayar menuju Hindia Belanda.
Setibanya di Semarang, Rimbaud diketahui sempat berada di tangsi militer Bubakan sebelum menempuh perjalanan menggunakan jalur kereta Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) menuju Tuntang dan Salatiga. Namun petualangan itu berlangsung singkat. Hanya beberapa minggu setelah tiba, ia membelot dari dinas militer kolonial dan menghilang dari catatan resmi KNIL.
“Ini salah satu episode paling unik dalam sejarah sastra dunia. Penyair yang begitu berpengaruh justru meninggalkan dunia kepenulisan dan memilih menjadi pengembara. Jawa menjadi salah satu persinggahan penting dalam perjalanan hidupnya,” kata Shokheh.
Diskusi berkembang ke berbagai aspek, mulai dari kondisi sosial-politik Eropa pasca Perang Prancis–Prusia, hubungan kontroversial Rimbaud dengan penyair Paul Verlaine, hingga konteks kolonial Hindia Belanda yang saat itu tengah membutuhkan pasukan untuk mendukung ekspansi militer, termasuk dalam Perang Aceh.
Para peserta juga menyoroti potensi pengembangan napak tilas Rimbaud sebagai wisata sejarah dan sastra yang menghubungkan Semarang, Tuntang, Rawa Pening, dan Salatiga. Jalur tersebut diyakini pernah dilalui Rimbaud ketika bertugas sebagai anggota KNIL sebelum akhirnya melarikan diri.
Diskusi berlangsung semakin hidup dengan kehadiran sejumlah tokoh dan pemerhati sejarah serta sastra. Tampak hadir antara lain sejarawan Rukardi Ahmadi, pemerhati sejarah perkeretaapian Tjahjono Raharjo, Ketua Satupena Jawa Timur Gunoto Saparie, Ketua Satupena Kota Semarang Anggraeni Fajar (Enifa), Founder Bengkel Sastra Sulis Bambang, akademisi Sumanto Al Qurtuby dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Ketua Yayasan Alliance Française Semarang Elis Raharjo, serta sejumlah peneliti, pegiat literasi, komunitas sejarah, dan pecinta sastra.
Moderator Suluh berhasil menjaga dinamika forum dengan menghubungkan kisah Rimbaud dengan persoalan kontemporer tentang identitas, migrasi, pencarian makna hidup, dan keberanian meninggalkan zona nyaman. Berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta membuat diskusi berlangsung gayeng hingga siang hari.
Bagi peserta, forum tersebut bukan sekadar membicarakan seorang penyair besar Prancis, melainkan juga membuka kesadaran bahwa sejarah Jawa memiliki keterhubungan yang erat dengan sejarah dunia. Rel-rel tua, stasiun kolonial, dan arsip yang tersimpan di berbagai lembaga ternyata menyimpan kisah-kisah global yang selama ini luput dari perhatian.
Di tengah bangunan bersejarah Oudetrap yang berdiri kokoh di kawasan Kota Lama Semarang, kisah Arthur Rimbaud kembali menemukan ruang hidupnya. Dari seorang penyair muda yang mengguncang Eropa hingga seorang desertir KNIL yang pernah melintasi tanah Jawa, jejaknya menjadi pengingat bahwa sejarah sering kali lahir dari perjumpaan-perjumpaan tak terduga antara sastra, perjalanan, dan manusia. (Christian Saputro)




